Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Thursday, 8 October 2026
    Trending
    • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
    • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
    • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
    • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • Dua tahun Prabowo: Antara negara kuat dan pemerintahan efektif
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
    Indonesia Discover
    Login
    Indonesia Discover
    • Nasional
    • Internasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Ragam
    • Olahraga
    • Login
    Home»Olahraga»Alvia Nur Vida: Dari Tari Hobi Jadi Jalur Hidup di Sanggar Tresna Budaya Semarang
    Olahraga

    Alvia Nur Vida: Dari Tari Hobi Jadi Jalur Hidup di Sanggar Tresna Budaya Semarang

    admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover29 January 2026No Comments3 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Perjalanan Seorang Pelatih Tari di Semarang

    Di sebuah ruang latihan tari, gerak tangan Alvia Nur Vida tidak hanya mengikuti irama, tetapi juga menjadi proses pelepasan emosi. Bagi perempuan 31 tahun ini, menari adalah cara bertahan. Ia menjalaninya dari masa kanak-kanak hingga kini menjadi pelatih di Sanggar Tari Tresna Budaya, Semarang.

    Vida, sapaan akrabnya, mengenal dunia tari sejak usia lima tahun. Ia pertama kali menari saat masih duduk di taman kanak-kanak, setelah dikenalkan oleh orang tuanya. Sejak itu, tari perlahan menjadi bagian dari hidupnya, menemani hari-hari hingga bangku SMA.

    Namun perjalanan itu sempat terhenti. Saat SMP dan SMA, Vida vakum cukup lama karena minimnya dukungan kegiatan ekstrakurikuler tari di sekolah. Jeda panjang itu justru membuatnya sadar, menari bukan sekadar hobi.

    “Dulu pernah berhenti nari, terus rasanya kayak ada yang hilang. Akhirnya mulai lagi, karena lewat gerakan tari itu saya bisa menyalurkan perasaan,” ujar Vida.

    Kesadaran itu membawanya kembali ke dunia tari. Pengalaman tampil dan melatih datang silih berganti. Meski tak banyak mengikuti ajang lomba, Vida pernah mendapat kepercayaan mewakili Jawa Tengah dalam kegiatan kebudayaan ke Kalimantan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

    Kini, ia lebih banyak mengabdikan diri sebagai pelatih tari. Vida kerap mendampingi siswa-siswi sekolah untuk berbagai kebutuhan acara, mulai dari gelar karya hingga tugas akhir. Beberapa sekolah yang pernah ia latih antara lain SMA Loyola Semarang, SMA Nasima, hingga SMA Negeri 3 Semarang.

    “Kalau ngelatih biasanya by event. Setelah acara selesai, ya selesai,” katanya sambil tersenyum.

    Sejak bergabung dengan Sanggar Tari Tresna Budaya, Vida merasakan atmosfer yang berbeda. Menurutnya, kekuatan utama sanggar ini bukan hanya pada teknik, tetapi rasa kekeluargaan yang terbangun antaranggota.

    “Di sini itu guyub. Enggak cuma pelatih yang kerja, tapi teman-teman yang sudah dewasa juga ikut membantu,” tuturnya.

    Dalam melatih, Vida memilih pendekatan bertahap. Ia tidak memasang target tinggi, terutama bagi penari pemula. Metode disesuaikan dengan usia dan kemampuan masing-masing peserta.

    “Tujuannya belajar. Jadi enggak harus langsung bisa. Kita pelan-pelan,” ucapnya.

    Di tengah anggapan bahwa budaya kian ditinggalkan generasi muda, Vida justru melihat denyut yang berbeda. Menurutnya, seni tari masih hidup dan terus berkembang, termasuk di Kota Semarang.

    “Kalau di lingkaran teman-teman yang masih berkesenian, budaya itu tetap jalan. Sanggar juga makin banyak,” katanya.

    Bagi Alvia Nur Vida, melatih tari bukan sekadar soal teknik gerak. Ia ingin menghadirkan ruang aman bagi anak-anak muda tempat mengekspresikan diri, mengenali perasaan, sekaligus tetap terhubung dengan budaya melalui tubuh dan irama.

    Tari, bagi Vida, bukan hanya warisan. Ia adalah napas yang terus dijaga.




    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    admin_indonesiadiscover
    • Website

    Berita Terkait

    Prediksi Skor CSKA Sofia vs OFI Crete: Peluang Lolos di Liga Europa 2026/2027!

    31 August 2026

    Prediksi Skor: Viktoria Plzen vs Red Star Belgrade, Zvezda Dekat Liga Fase!

    31 August 2026

    Prediksi Skor Omonia vs Sint-Truiden: De Kanaries Melangkah!

    31 August 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

    27 September 2026

    PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

    16 September 2026

    6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

    16 September 2026

    Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

    16 September 2026
    TAGS
    akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
    © 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?