Kembali ke Akar: Jensen Interceptor yang Dihidupkan Kembali
Jensen Interceptor, sebuah mobil grand tourer mewah asal Inggris, kembali menjadi perbincangan. Namun, ini bukan sekadar nostalgia. Proyek ini justru menawarkan rencana kelahiran ulang yang terdengar nekat di tengah tren dunia yang semakin sunyi karena kendaraan listrik. Ada sekelompok penggemar yang merindukan sensasi mekanis—yang mereka sebut sebagai iman analog—bukan hanya sekadar gaya, tapi kebiasaan yang sulit digantikan oleh teknologi modern.
Interceptor baru bukanlah proyek tambal-sulam dari mobil lama. Ini adalah mobil yang dibangun dari nol dengan pendekatan modern. Di baliknya berdiri Jensen International Automotive (JIA), sebuah perusahaan yang dikenal piawai dalam menghidupkan kembali Interceptor klasik. Kali ini, targetnya jelas: mengembalikan grand tourer Inggris yang mewah, cepat, dan terasa “hidup” di tangan pengemudi.
JIA Memutar Kemudi di Tengah Tren Sunyi
JIA mengambil posisi yang kontras dengan arus besar industri otomotif saat ini. Saat banyak merek besar beralih ke elektrifikasi sebagai jawaban masa depan, JIA memilih untuk mempertahankan mesin besar dan sensasi fisiknya. Pimpinan JIA, David Duerden, menjelaskan fokusnya pada konsep GT mewah Inggris yang dinaikkan ke level baru, tetapi dengan pendekatan kontemporer. Pesannya sederhana: modern tidak harus senyap.
Siapa yang Menggerakkan Proyek Ini
Perusahaan yang mengawal proyek ini adalah Jensen International Automotive, yang berbasis di Inggris dan memiliki pengalaman dalam menangani Interceptor klasik. Sosok yang paling sering dikaitkan dengan arah proyek adalah CEO David Duerden, yang menegaskan visi mobil GT modern tanpa kehilangan “rasa” analog. Dalam konteks 5W, “siapa” menjadi jelas karena keputusan arah teknologi selalu berangkat dari kepemimpinan dan identitas merek. JIA ingin mobilnya dikenal bukan karena ikut-ikutan, melainkan karena berani berbeda.
Di Mana dan Untuk Siapa Mobil Ini Dibidik
Kisahnya berakar di Inggris, rumah bagi tradisi grand tourer yang panjang. Targetnya bukan pasar massal, melainkan kolektor dan penggemar garis keras yang mencari pengalaman mengemudi murni. Produksinya disebut akan sangat terbatas, bahkan diperkirakan hanya sekitar 250 unit per tahun. Angka itu mengunci statusnya: barang langka, bukan kendaraan yang bakal memenuhi parkiran mal.
Desain Bersih dari Nol, Tapi Menghormati 1960-an
Interceptor baru mengambil inspirasi dari model ikonik era 1960-an, ketika mobil GT Inggris dikenal berkelas namun buas. Interceptor dulu punya kombinasi yang unik: sentuhan desain Italia di luar, dan tenaga Amerika di balik kap. Proporsinya khas—kap panjang, postur rendah, dan gaya fastback yang mengalir. Versi baru disebut akan menjaga roh itu, sambil merapikan detail agar tampak masa kini.
Sasis Aluminium dan Janji Handling Modern
JIA menyiapkan rangka aluminium yang dibuat khusus, bukan adaptasi dari platform lama. Aluminium memberi dua keuntungan yang mudah dipahami: bobot lebih ringan dan struktur lebih kaku. Keduanya biasanya berujung pada respons setir yang lebih presisi dan rasa mobil yang lebih “padat” saat dipacu. Ini menjadi jawaban “bagaimana” JIA membuat Interceptor modern tanpa menghilangkan karakter.
Sentuhan Desain yang Lebih Ramping
Bagian belakang dikabarkan akan dibuat lebih ramping, dengan lampu belakang memanjang yang memberi kesan lebar. Sejumlah pengamat melihat ada nuansa desain modern yang mengingatkan pada coupe Inggris masa kini, tanpa menyalin mentah-mentah. JIA tampaknya bermain aman: mempertahankan siluet yang dikenali, lalu menyelipkan modernitas lewat detail. Hasil akhirnya diharapkan terasa baru, tapi tetap Interceptor.
V8 Bespoke dan Misi Mengemudi Analog
Bagian paling ditunggu ada di jantungnya. JIA menyebut tenaga V8 yang dipesan khusus, namun detail teknisnya sengaja ditahan. Di kalangan pengamat, beredar dugaan mesin berbasis V8 6,2 liter yang dimodifikasi. Versi supercharged-nya diperkirakan bisa menembus sekitar 650 tenaga kuda. Angka itu menempatkan Interceptor baru sebagai GT yang bukan sekadar gaya, melainkan serius soal performa.
Warisan Big Block, Versi Abad ke-21
Interceptor lawas pernah dikenal memakai mesin Chrysler 7,2 liter 440 big block yang legendaris. Tradisi itu ingin dibawa ke era sekarang lewat mesin besar dengan karakter suara yang tebal dan respons yang spontan. Di tengah budaya “tinggal injak gas” yang serba dibantu komputer, JIA memilih pendekatan yang mengajak pengemudi ikut bekerja. Itu menjawab “mengapa”: karena ada pasar yang rindu sensasi mentah.
Manual, Kopling, dan Koneksi Langsung
JIA menjanjikan pengalaman mengemudi yang sepenuhnya analog, sebuah frasa yang makin jarang dipakai di brosur mobil baru. Tafsir paling logisnya adalah ketersediaan transmisi manual dan kopling, yang memberi kontrol langsung atas mesin. Pengemudi diharapkan merasakan getaran, mendengar putaran mesin, dan memilih gigi dengan sadar. Di sinilah “bagaimana” pengalaman itu dibangun: bukan lewat layar sentuh, melainkan lewat mekanika.



