Indonesia kini sedang mengalami perubahan besar dalam dunia pariwisata. Tren wisata berbasis healing dan wellness semakin berkembang, terutama setelah pandemi Covid-19. Perubahan ini menunjukkan bahwa para wisatawan kini lebih memprioritaskan kesehatan fisik dan mental, serta pengalaman yang lebih holistik. Pemerintah melihat segmen ini sebagai salah satu produk pariwisata berkualitas dengan prospek jangka panjang.
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) telah menempatkan wellness tourism sebagai bagian dari strategi pengembangan pariwisata nasional untuk periode 2025–2026. Dengan adanya konsep ini, diharapkan mampu memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di pasar global.
Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan Kemenpar, Vinsensius Jemadu, menjelaskan bahwa setelah pandemi berakhir, pola perjalanan wisata mengalami pergeseran signifikan. Wisatawan kini lebih memilih destinasi yang menawarkan kebugaran, kesehatan mental, serta akomodasi yang berkelanjutan.
“Wisata wellness merupakan salah satu produk pariwisata berkualitas yang pertumbuhannya sangat terlihat setelah pandemi. Wisatawan mencari pengalaman wellness yang holistik,” ujarnya.
Menurut Vinsensius, konsep wellness tidak hanya terbatas pada aktivitas spa atau relaksasi. Konsep ini mencakup spektrum luas mulai dari kesehatan fisik dan mental, pola makan sehat, hingga gaya hidup berkelanjutan. Pendekatan ini dinilai memiliki nilai tambah lebih tinggi dibanding pariwisata massal konvensional.
“Sebelumnya perkembangannya cenderung sporadis, namun kini kami mengangkat wellness sebagai salah satu pilar program unggulan Kemenpar 2025–2026,” jelasnya.
Untuk mendukung pengembangan tersebut, Kemenpar telah memetakan sejumlah destinasi prioritas wellness tourism. Tiga daerah utama yang dipilih adalah Bali, Yogyakarta, dan Solo. Ketiga daerah ini dinilai memiliki kesiapan ekosistem serta respons pasar yang positif, baik dari wisatawan domestik maupun mancanegara.
Pemerintah juga aktif mempromosikan potensi wellness Indonesia melalui program familiarization trip (famtrip) bagi wisatawan asing. “Kami mengundang wisatawan mancanegara untuk melihat langsung potensi wellness Indonesia, dan responsnya sangat positif,” kata Vinsensius.
Selain tiga destinasi tersebut, Batam dan Bintan turut diidentifikasi sebagai kawasan dengan potensi besar, khususnya untuk pasar Malaysia dan Singapura yang sering melakukan perjalanan singkat akhir pekan.
Dari sisi produk, wisata healing dan wellness dikemas dalam paket terintegrasi, mulai dari yoga, spa, relaksasi, sound healing, hingga pemanfaatan rempah-rempah dan kearifan lokal sebagai bagian dari perawatan dan konsumsi sehat. “Preferensi wisatawan beragam. Ada yang fokus yoga, ada yang workshop, ada pula yang tertarik pada pemanfaatan bahan alami Indonesia untuk kesehatan dan kecantikan. Karena itu paketnya kami kombinasikan,” jelasnya.
Pengembangan wellness tourism juga dinilai memberikan dampak ekonomi berlapis. Di sejumlah daerah seperti Yogyakarta dan Solo, penguatan sektor wellness mendorong keterlibatan desa wisata, petani rempah, dan pelaku UMKM dalam rantai pasok. Melalui konsep from farm to table, hasil pertanian terutama rempah-rempah memperoleh nilai tambah dan pasar yang lebih berkelanjutan.
“Dampaknya cukup nyata. Petani yang sebelumnya menganggap rempah sebagai komoditas biasa kini memiliki saluran distribusi yang lebih jelas,” ujarnya.
Dari sisi kebijakan, Kemenpar menegaskan pengembangan wellness tourism dilakukan secara terintegrasi dengan sektor kesehatan. Pemerintah telah menjalin nota kesepahaman dengan Kementerian Kesehatan untuk memastikan aspek standarisasi, perizinan, dan pengawasan layanan wellness. “Kami tidak ingin bisnis wellness tumbuh tanpa kendali. Standar dan regulasi harus jelas, dan ini menjadi peran penting Kementerian Kesehatan,” tegas Vinsensius.
Ia juga menekankan bahwa wellness tourism berbeda dengan medical tourism. Wellness bersifat preventif, sementara wisata medis bersifat kuratif. Indonesia, menurutnya, fokus mengembangkan aspek preventif tanpa mengesampingkan pengembangan wisata medis.
Saat ini, wisatawan domestik masih mendominasi pasar wellness tourism. Namun, pertumbuhan wisatawan mancanegara menunjukkan tren positif, terutama dari Malaysia, Singapura, China, Jepang, Korea, dan India.
Keunggulan Indonesia dibanding negara ASEAN lainnya terletak pada kekayaan bahan baku alami dan keanekaragaman hayati. “Bahan baku kita sangat kuat. Tantangannya adalah bagaimana meramunya menjadi paket wellness yang memiliki narasi budaya dan alam yang solid,” tutup Vinsensius.



