Indonesiadiscover.com.CO.ID – JAKARTA
Pergerakan IHSG yang Berpotensi Tidak Stabil
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan mengalami pergerakan yang tidak stabil atau mixed pada perdagangan Senin (12/1/2026). Analisis menunjukkan bahwa ada potensi koreksi terhadap indeks ini, terutama karena adanya berbagai risiko yang muncul dari situasi geopolitik dan data ekonomi global.
Investment Analyst dari Edvisor Provina Visindo, Indy Naila, menyatakan bahwa pelaku pasar saat ini cenderung sangat spekulatif. Mereka masih memantau beberapa risiko, seperti kelanjutan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela, serta rilis data inflasi AS yang akan segera datang. Data tersebut dinilai penting untuk menentukan arah suku bunga acuan The Fed di masa depan. “Investor perlu lebih aktif memantau situasi karena ada kekhawatiran akan koreksi indeks,” ujarnya pada Sabtu (10/1/2026).
Pengaruh Sentimen Global Terhadap IHSG
Senior Market Analyst dari Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menambahkan bahwa pergerakan IHSG dalam waktu dekat dipengaruhi oleh sentimen global. Salah satu faktor utama yang memengaruhi adalah rilis data non-farm payroll (NFP) AS bulan Desember 2025, yang meningkat sebesar 50.000 pekerja. Meski angka ini meningkat, hasilnya lebih rendah dari ekspektasi sebesar 60.000 pekerja.
Realisasi data ini membuka kembali peluang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter pada tahun 2026. “Tahun ini masih ada peluang bagi The Fed untuk melakukan penurunan suku bunga acuan dua kali,” kata Nafan pada Minggu (11/1/2026).
Ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan The Fed dapat menjadi sentimen positif bagi pasar saham di negara-negara emerging market, termasuk Indonesia. Namun, situasi ini juga memicu ketidakpastian terhadap pergerakan IHSG.
Indikasi Koreksi dan Rekomendasi Saham
William Hartanto, Praktisi Pasar Modal dan Founder WH-Project, menyebut bahwa formasi tiga candlestick membentuk resistance pada level 8.970. Dalam kondisi ini, indeks tampak jenuh beli dan memiliki potensi koreksi sehat. Koreksi ini kemungkinan disebabkan oleh kinerja saham-saham big caps konglomerat, khususnya Grup Barito.
Namun, beberapa saham sektor tambang dan energi masih bisa menjadi pilihan awal pekan ini. William memproyeksikan IHSG akan bergerak mixed pada Senin esok di rentang level 8.900–9.000.
Daftar Saham yang Direkomendasikan
William memberikan rekomendasi beberapa saham untuk perdagangan Senin (12/1/2026), antara lain:
- HRUM: Direkomendasikan beli dengan target harga Rp 1.200–Rp 1.300 per saham
- NICL: Direkomendasikan beli dengan target harga Rp 2.000 per saham
- ESSA: Direkomendasikan beli dengan target harga Rp 640–Rp 680 per saham
- SMGR: Direkomendasikan beli dengan target harga Rp 2.740–Rp 2.800 per saham
ESSA Chart
by TradingView
Di sisi lain, Indy memprediksi IHSG akan bergerak di kisaran level 8.859–9.000 pada esok hari. Saham AKRA dan ARCI dapat dipantau oleh investor dengan target harga masing-masing di level Rp 1.400 per saham dan Rp 1.850 per saham.
Nafan memperkirakan IHSG akan bergerak dengan support di level 8.901 dan 8.820 serta resistance di level 8.949 dan 9.003 pada perdagangan Senin (12/1/2026).



