Pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan para guru besar dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia menjadi perhatian publik. Salah satu yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah Iman Zanatul Haeri, seorang praktisi sekaligus alumni Universitas Negeri Jakarta. Dalam diskusi yang berlangsung, Presiden mengangkat beberapa isu penting seperti posisi Indonesia secara global, pendekatan ideologis, dan kebijakan ekonomi negara yang realistis.
Iman menyampaikan bahwa meskipun Presiden ingin diskusi bersifat dua arah, waktu yang tersedia terbatas. “Diskusinya satu arah. Menurut Pak Presiden, beliau ingin diskusi dua arah tapi waktunya sedikit,” ujarnya kepada Tempo, Kamis 15 Januari 2026.
Undangan untuk pertemuan ini dikirimkan melalui kop surat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Surat ditandatangani oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek Khairul Munadi dengan tanggal 9 Januari 2026. Dalam undangan tersebut disebutkan bahwa acara bertujuan untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pencapaian Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden.
Berdasarkan salinan yang diterima Tempo, agenda pertemuan mencakup taklimat dan dialog Presiden bersama pimpinan perguruan tinggi. Terlampir dalam undangan tersebut 180 nama guru besar dari berbagai perguruan tinggi yang diundang.
Seorang guru besar yang hadir dalam acara tersebut mengungkapkan bahwa diskusi cenderung membahas pencapaian pemerintahan Prabowo. Dalam sesi yang berlangsung selama tiga jam, peserta tidak diberi kesempatan untuk memberikan masukan atau tanggapan. “Sampai mengantuk kami mendengarkannya,” kata dia.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa diskusi juga membahas masalah keterbatasan dana riset yang hanya sebesar Rp 8 triliun atau setara 0,34 persen dari APBN. Menurutnya, Presiden menanggapi hal ini dengan rencana menambah anggaran riset sebesar Rp 4 triliun. Dana tambahan ini akan digunakan untuk memperkuat riset di seluruh perguruan tinggi, termasuk bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional.
Presiden juga menekankan agar riset difokuskan pada swasembada pangan, swasembada energi, serta industrialisasi dan penghiliran yang akan dimulai dengan groundbreaking besar-besaran tahun ini. “Saya kira itu yang bisa kami sampaikan. Terakhir, ada permohonan juga dari rektor dan guru besar agar agenda seperti ini dirutinkan,” ujar Prasetyo.
Namun, tidak semua guru besar yang diundang hadir dalam pertemuan tersebut. Manneke Budiman, Guru Besar Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, menyatakan tidak dapat hadir karena sedang menguji disertasi mahasiswa S3. “Terjadwal menguji disertasi mahasiswa S3,” katanya saat dikonfirmasi Tempo, Rabu, 14 Januari 2025.
Tjandra Yoga Aditama, Guru Besar Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, juga tidak bisa hadir karena sedang berada di luar negeri. “Saya lagi di Hainan sekarang,” katanya kepada Tempo.
Adrianus Meliala, Guru Besar Kriminologi Universitas Indonesia, mengaku tidak tahu-menahu tentang undangan tersebut. Namun, setelah mengetahui namanya tercantum dalam daftar, ia menyatakan tidak akan menghadiri acara tersebut. “Enggak (datang),” kata Adrianus saat dikonfirmasi via WhatsApp.
Sultan Abdurrahman berkontribusi dalam penulisan artikel ini.



