Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Minggu, 29 Maret 2026
Trending
  • Jadwal Kapal Pelni Manokwari-Jayapura April 2026, Tiket Mulai Rp254 Ribu
  • Pemecah Rekor Dunia Veda Ega dan Aldi Satya Mahendra Tampil Bersama, Lihat Jadwalnya
  • Toyota Vios Hybrid 2026 Diluncurkan, Jarak Tempuh 30 km/l dan TSS 3.0!
  • Kesaksian Warga Sebelum Dua Pria Ditemukan Tewas di Lantai 3 Masjid Pangaradan Brebes
  • Mahasiswa Aceh Diundang PBB Bicara Pengentasan Konflik
  • Carolina Marin, Bintang Bulu Tangkis Spanyol yang Berjuang Hingga Pensiun
  • Sinopsis Drama China In Love with Loving You: Cinta Lama yang Kembali Bersemi
  • Pelajaran Mataram untuk Indonesia yang Lebih Kuat
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Mak Kucing: Penjaga Kucing Liar di Kota Lama Semarang
Nasional

Mak Kucing: Penjaga Kucing Liar di Kota Lama Semarang

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover15 Januari 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kehidupan Mak Kucing di Kota Lama Semarang

Subae’ah (52) duduk di Taman Srigunting, Kota Lama Semarang. Tangannya perlahan merobek plastik pakan, lalu menaburkannya di atas paving. Belasan kucing liar segera mengerubunginya. Beberapa di antaranya berjalan terpincang, tubuhnya kurus dengan tulang yang menonjol, sementara anak-anak kucing masih menyusu pada induknya.

Subae’ah memanggil mereka satu per satu, seolah mengenal suara dan gerak masing-masing. Warga sekitar sudah mengenalnya sebagai Mak Kucing. Julukan itu tidak hanya sekadar panggilan iseng, tetapi telah menjadi identitas yang melekat padanya sejak lama.

“Karena sering memberi makan kucing, warga tahu saya dengan julukan itu agar lebih mudah. Di mana pun saya dipanggil Mak Kucing, orang pasti tahu saya,” ujarnya, Kamis (15/1/2026).

Julukan itu bermula sejak 2015. Saat itu, ia menemukan seekor anak kucing berusia sekitar tiga minggu tergeletak kehujanan di kawasan Taman Srigunting. Udara dingin Kota Lama malam hari membuat tubuh kecil itu menggigil, nyaris tak bergerak.

“Saya lihat kasihan banget. Saya ambil, saya rawat. Dari situ, jumlahnya semakin banyak, beranak-beranak,” katanya.

Sejak hari itu, rutinitas Subae’ah berubah. Hampir setiap pagi dan petang, ia berkeliling kawasan Kota Lama, menyusuri lorong-lorong bangunan tua, taman, hingga Polder Stasiun Tawang, untuk memastikan kucing-kucing liar tidak kelaparan.

“Sekarang saya rawat kucing se-Kota Lama. Dulu bisa sampai 200 ekor. Keliling sampai Stasiun Tawang, hotel-hotel, asrama,” katanya.

Tidak hanya memberi makan, Subae’ah juga memperhatikan tempat tinggal kucing-kucing itu. Di sekitar Taman Srigunting, ia meletakkan rumah kucing berbahan kain. Pasirnya diganti rutin, alasnya dibersihkan. Ia ingin kucing-kucing itu hidup layak, bukan hanya bertahan.

“Kalau hidup ya hidup yang layak,” ujarnya singkat.

Kedekatan Subae’ah dengan hewan bukan hal baru. Ia mengaku sejak lama menyukai hewan dari berbagai jenis. Saat tinggal di Jakarta, ia pernah memelihara kucing, anjing, bahkan ular dan monyet. Namun, sosok yang paling membekas adalah Pleki, anjing peliharaannya sejak 2006.

Pada 2015, Pleki mati setelah tertabrak angkutan umum. Tak lama setelah kepergian Pleki, Subae’ah menemukan anak kucing di Taman Srigunting. Ia menyebutnya sebagai awal dari segalanya.

Bagi Subae’ah, merawat kucing-kucing liar bukan hanya soal kasihan. Ia menyebutnya sebagai panggilan hati.

“Bukan karena kasihan. Kayak hati saya tergerak sendiri,” ujarnya sambil tersenyum tipis.

Perjuangannya tentu tidak ringan. Untuk pakan saja, Subae’ah mengaku bisa menghabiskan ratusan ribu rupiah per hari. Ia bekerja sebagai fotografer, meski tidak memiliki kamera sendiri. Ia menawarkan jasa membantu wisatawan mengabadikan momen dengan ponsel milik pengunjung, dengan upah seikhlasnya.

Dari upah itu, ia menyisihkan sebagian untuk membeli pakan kering hingga pakan basah yang harganya lebih mahal.

“Kadang saya beli lima kilo, enam kilo. Bisa habis Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu. Yang basah itu mahal, sesekali saya beli yang basah,” katanya.

Tak jarang, penghasilannya habis untuk biaya berobat kucing. Ia pernah membawa kucing yang tertabrak kendaraan ke klinik hewan.

Ia hanya berharap diberi umur panjang dan kesehatan agar bisa terus merawat kucing-kucing di Kota Lama.

“Selama saya masih sehat dan kuat jalan, saya ingin terus ngasih makan mereka,” katanya.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Jadwal Kapal Pelni Manokwari-Jayapura April 2026, Tiket Mulai Rp254 Ribu

29 Maret 2026

Pelajaran Mataram untuk Indonesia yang Lebih Kuat

29 Maret 2026

Kesaksian Warga Sebelum Dua Pria Ditemukan Tewas di Lantai 3 Masjid Pangaradan Brebes

29 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Jadwal Kapal Pelni Manokwari-Jayapura April 2026, Tiket Mulai Rp254 Ribu

29 Maret 2026

Pemecah Rekor Dunia Veda Ega dan Aldi Satya Mahendra Tampil Bersama, Lihat Jadwalnya

29 Maret 2026

Toyota Vios Hybrid 2026 Diluncurkan, Jarak Tempuh 30 km/l dan TSS 3.0!

29 Maret 2026

Kesaksian Warga Sebelum Dua Pria Ditemukan Tewas di Lantai 3 Masjid Pangaradan Brebes

29 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?