Gudeg Jogja di Malioboro: Harga yang Tidak Membuat Kaget
Gudeg, salah satu makanan ikonik Yogyakarta, kembali menjadi perbincangan hangat setelah sejumlah wisatawan mengeluhkan harga tiga porsi gudeg yang mencapai Rp85 ribu di kawasan Malioboro. Keluhan ini memicu diskusi tentang ekspektasi wisatawan terhadap harga makanan di daerah tujuan wisata, khususnya di pusat keramaian seperti Malioboro yang telah lama menjadi ikon wisata Yogyakarta.
Gudeg yang dijual di kawasan Malioboro tentu berbeda dengan gudeg rumahan atau warung kecil di pinggiran kota. Lokasi ini merupakan kawasan wisata utama dengan jumlah pengunjung yang sangat tinggi setiap harinya. Biaya sewa tempat, distribusi bahan baku, hingga tenaga kerja di area ini jelas lebih besar. Kondisi tersebut secara otomatis memengaruhi harga jual makanan, termasuk gudeg yang sudah menjadi ikon kuliner Jogja.
Anggapan bahwa gudeg adalah makanan murah sejatinya sudah lama keliru. Bahkan bagi mahasiswa perantauan yang tinggal bertahun-tahun di Jogja, gudeg bukanlah menu harian karena harganya relatif lebih mahal dibanding makanan lain seperti nasi rames, soto, atau mi instan. Gudeg dengan lauk lengkap seperti ayam, telur, dan krecek memang memiliki harga tersendiri karena proses memasaknya panjang dan bahan bakunya tidak sedikit.
Jika dirinci, harga Rp85 ribu untuk tiga porsi berarti sekitar Rp28 ribu per porsi. Angka ini masih sejalan dengan harga gudeg di banyak tempat non-wisata di Jogja, apalagi jika menggunakan lauk ayam kampung. Dengan tambahan faktor lokasi di Malioboro, kenaikan harga 20 hingga 30 persen justru masih tergolong wajar dan tidak bisa langsung disebut sebagai praktik nuthuk harga.
Fenomena Harga Mahal di Kawasan Wisata
Fenomena harga makanan mahal di kawasan wisata bukan hanya terjadi di Jogja. Di berbagai daerah wisata lain, harga makanan lokal sering kali jauh lebih tinggi dibanding daerah asal wisatawan. Hal ini dipengaruhi oleh tingginya permintaan, biaya operasional, dan segmentasi pasar yang menyasar wisatawan. Karena itu, membandingkan harga gudeg di Malioboro dengan gudeg di kampung halaman jelas tidak relevan.
Banyak wisatawan datang ke Jogja dengan bayangan kota murah untuk segala hal. Padahal, murah di Jogja memiliki batasan konteks. Tidak semua makanan ikonik bisa didapat dengan harga belasan ribu rupiah, apalagi di pusat wisata. Kurangnya riset sebelum berkunjung sering kali membuat wisatawan kaget, lalu berujung pada keluhan yang diviralkan tanpa memahami situasi sebenarnya.
Gudeg Sebagai Identitas Budaya
Gudeg bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari identitas budaya Jogja. Proses memasaknya membutuhkan waktu lama, penggunaan bahan khusus, dan keterampilan tersendiri. Nilai budaya dan ikonitas inilah yang membuat gudeg memiliki harga yang relatif lebih tinggi dibanding makanan lain. Tak heran jika gudeg jarang dijadikan makanan sehari-hari, bahkan oleh warga lokal sekalipun.
Memviralkan keluhan harga tanpa memahami konteks justru bisa merugikan pelaku usaha kecil. Perbedaan ekspektasi seharusnya disikapi dengan bijak, bukan dengan kemarahan atau tuduhan sepihak. Wisatawan yang datang ke daerah baru semestinya mempersiapkan diri dengan riset harga, lokasi, dan kondisi setempat agar tidak kaget saat bertransaksi.
Pilihan Hemat di Jogja
Bagi wisatawan yang ingin tetap hemat, Jogja masih menawarkan banyak pilihan makanan terjangkau. Warmindo, angkringan, dan warung makan sederhana bisa menjadi alternatif dengan harga jauh lebih murah. Namun, memilih makanan ikonik di pusat wisata tentu memiliki konsekuensi harga yang berbeda, dan hal itu seharusnya sudah dipahami sejak awal.
Kesimpulan
Pada akhirnya, harga gudeg Jogja tiga porsi Rp85 ribu di Malioboro bukanlah sesuatu yang berlebihan. Tidak murah, tetapi juga tidak bisa langsung disebut kemahalan. Kunci utama ada pada kesiapan wisatawan memahami konteks lokasi dan nilai makanan yang dikonsumsi. Dengan riset yang cukup, pengalaman wisata kuliner di Jogja seharusnya tetap menyenangkan tanpa perlu drama dan polemik.



