Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Thursday, 15 October 2026
Trending
  • Sosok Rosdianah, alumni magister hukum UMI kini berkarir di Korps Adhyaksa
  • Polisi Tangkap Terduga Pelaku Penyerangan Bus Persib U-18
  • Jelang review MSCI November 2026, pembekuan saham Indonesia diprediksi hingga 2027
  • Elon Musk mengaku tak tahu cara bikin chip, tetapi mau bangun pabrik sendiri
  • Senjakala Mobil Bensin: Pangsa Pasar Anjlok di Bawah 50%
  • 7 hal yang perlu ditingkatkan agar mendapat banyak match di dating apps menurut psikologi
  • Prediksi skor RB Leipzig vs PSV Eindhoven: Die Roten Bullen siap mengamuk di Red Bull Arena
  • Profil Anthony Xie, suami Audi Marissa yang digugat cerai: beberapa tahun berkarier di Taiwan-China
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Mitos vs Fakta: Mengurangi Tekanan Ban Meningkatkan Traksi
Ragam

Mitos vs Fakta: Mengurangi Tekanan Ban Meningkatkan Traksi

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover27 December 2025No Comments3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Pentingnya Mengatur Tekanan Ban pada Kendaraan

Mengatur tekanan udara pada ban merupakan salah satu aspek pemeliharaan kendaraan yang sering kali dianggap sederhana namun memiliki dampak besar terhadap performa berkendara. Di kalangan penggemar otomotif, terdapat sebuah teknik yang sangat populer yaitu mengurangi tekanan ban di bawah standar pabrikan dengan tujuan untuk mendapatkan daya cengkeram atau traksi yang lebih kuat pada permukaan jalan tertentu. Namun, praktik ini sering kali memicu perdebatan mengenai efektivitas serta keamanannya jika diterapkan pada penggunaan jalan raya sehari-hari.

Memahami batasan antara manfaat mekanis dan risiko keselamatan menjadi kunci utama dalam menentukan apakah pengurangan tekanan ban merupakan solusi cerdas atau justru sebuah kekeliruan yang membahayakan integritas ban itu sendiri.

Dasar Ilmiah di Balik Penambahan Traksi pada Medan Tertentu



Secara teknis, mengurangi tekanan udara memang dapat memperluas area kontak antara permukaan ban dengan jalanan, yang dikenal dengan istilah contact patch. Saat tekanan udara dikurangi, dinding samping ban akan lebih fleksibel dan bagian tapak ban akan mendatar, sehingga distribusi beban kendaraan menyebar ke area yang lebih luas. Hal ini memberikan keuntungan nyata pada medan yang gembur atau tidak stabil seperti pasir, lumpur, atau salju, di mana ban membutuhkan luas permukaan lebih besar agar tidak terperosok ke dalam tanah.

Dalam dunia off-road atau balap drag, teknik ini adalah sebuah fakta yang didukung oleh prinsip fisika untuk mendapatkan traksi maksimal saat start atau saat melewati rintangan berat. Dengan tekanan yang lebih rendah, ban mampu mengikuti kontur permukaan jalan yang tidak rata dengan lebih baik, sehingga meminimalisir terjadinya slip. Namun, perlu dicatat bahwa manfaat ini bekerja secara spesifik pada kondisi kecepatan rendah dan permukaan jalan yang memang membutuhkan distribusi tekanan rendah agar kendaraan dapat merayap dengan stabil.

Risiko Deformasi dan Panas Berlebih pada Penggunaan Aspal



Meskipun memberikan keuntungan di medan berat, mengurangi tekanan ban untuk penggunaan di jalan raya aspal justru merupakan sebuah kesalahan yang berbahaya. Ban yang kekurangan tekanan udara akan mengalami deformasi atau perubahan bentuk yang ekstrem saat berputar dalam kecepatan tinggi. Fleksibilitas berlebihan pada dinding samping ban akan menciptakan gesekan internal yang luar biasa besar, yang kemudian menghasilkan panas berlebih atau overheating. Panas inilah yang menjadi musuh utama karet ban dan dapat menyebabkan struktur internal ban rusak secara mendadak.

Selain itu, ban yang kempis justru tidak memberikan traksi yang stabil saat kendaraan melakukan manuver atau berbelok di jalan aspal. Struktur ban yang tidak kokoh akan membuat pengendalian terasa limbung atau “melayang”, yang justru mengurangi responsivitas kemudi. Pada kondisi jalan basah, ban dengan tekanan rendah juga lebih rentan terkena risiko aquaplaning karena alur ban tidak mampu membuang air dengan optimal akibat bentuk tapak yang sudah tidak sempurna sesuai desain orisinalnya.

Dampak pada Efisiensi Bahan Bakar dan Usia Pakai



Mengurangi tekanan ban secara sengaja juga membawa konsekuensi negatif terhadap aspek ekonomi berkendara. Tekanan udara yang rendah secara otomatis meningkatkan rolling resistance atau hambatan gulir ban terhadap permukaan jalan. Mesin harus bekerja lebih keras dan membakar lebih banyak bahan bakar hanya untuk memutar ban yang “berat” tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa penurunan tekanan ban yang signifikan dapat menurunkan efisiensi bahan bakar secara drastis, yang tentu merugikan dalam jangka panjang.

Dari sisi keausan, ban dengan tekanan rendah akan mengalami pengikisan yang tidak merata, terutama pada bagian pinggir tapak ban (bahu ban). Hal ini akan memperpendek usia pakai ban secara signifikan dibandingkan dengan ban yang selalu dijaga pada tekanan standar pabrikan. Jadi, walaupun pengurangan tekanan ban bisa menambah traksi pada kondisi khusus seperti terjebak di pasir, menjadikannya sebagai kebiasaan di jalan raya adalah sebuah mitos performa yang justru merugikan keselamatan dan dompet pemilik kendaraan.

Cara Menilai Kelayakan Karet Ban Mobil, Antisipasi Pecah Ban

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Senjakala Mobil Bensin: Pangsa Pasar Anjlok di Bawah 50%

15 October 2026

Pakar Forensik Pastikan Video Call Ruben Onsu di Akun Sarwendah Bukan AI

15 October 2026

Mobil bensin kian menyusut: pangsa pasar turun di bawah 50 persen

15 October 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Sosok Rosdianah, alumni magister hukum UMI kini berkarir di Korps Adhyaksa

15 October 2026

Polisi Tangkap Terduga Pelaku Penyerangan Bus Persib U-18

15 October 2026

Jelang review MSCI November 2026, pembekuan saham Indonesia diprediksi hingga 2027

15 October 2026

Elon Musk mengaku tak tahu cara bikin chip, tetapi mau bangun pabrik sendiri

15 October 2026
TAGS
akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?