Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Kamis, 19 Maret 2026
Trending
  • IBL 2026: Pelita Jaya Menggulingkan Pacific Caesar di Kuningan
  • Apakah Investasi Masih Mungkin Dengan Modal Terbatas?
  • Catat, Batas Akhir Pembayaran Zakat Fitrah Agar Sah
  • WOW Pimpinan DPRD Sumsel Beli Meja Biliar, Rusak APBD Rp 486 Juta
  • 7 tanda pria pintar terlihat dari sifatnya yang unik
  • Prospek MTDL Dukung Solusi Cloud & AI, Ini Rekomendasi Sahamnya
  • Pria Kaya dengan 2 BMW Jadi Target KPK, Suami Bupati Pekalongan
  • GP Ansor Jabar Kritik Tingginya Pengangguran, Minta Pemerintah Prioritaskan Lapangan Kerja
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Jakpat Prediksi Perilaku Shoppertainment dan Video Commerce Mendominasi Belanja Online 2026
Ekonomi

Jakpat Prediksi Perilaku Shoppertainment dan Video Commerce Mendominasi Belanja Online 2026

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover26 Desember 2025Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Pengalaman belanja yang menggabungkan hiburan dan transaksi, atau yang dikenal sebagai shoppertainment, diprediksi akan terus mendominasi dunia e-commerce hingga tahun 2026. Hal ini disampaikan oleh Aska Primardi, Head of Research Jakpat, dalam keterangan resmi yang dirilis pada Jumat (19/12/2025).

Menurutnya, konsumen semakin menginginkan pengalaman berbelanja yang tidak hanya efisien, tetapi juga menyenangkan. Kehadiran video commerce—termasuk live shopping dan video pendek—telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem belanja online.

Tingkat Kesadaran Masyarakat Terhadap Live Shopping

Berdasarkan data survei Jakpat, live shopping tidak lagi sekadar tren sementara, melainkan metode belanja yang semakin kuat di pasar. Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap live shopping telah mencapai 80% pada paruh kedua 2024, dan meningkat menjadi 85% pada paruh pertama 2025.

Selain itu, tingkat kepercayaan konsumen untuk bergabung dalam sesi live shopping juga menunjukkan peningkatan. Pada semester pertama 2024, sebanyak 74% responden pernah mengikuti live shopping. Angka ini naik menjadi 79% pada semester kedua 2025.

Namun, meskipun jumlah peserta meningkat, persentase pembelian selama sesi live shopping sempat mengalami fluktuasi. Dari 46% pada paruh pertama 2024, angka ini turun sedikit menjadi 44% pada paruh kedua 2025. Meski demikian, konsistensi partisipasi konsumen selama setahun terakhir menunjukkan bahwa live shopping akan tetap menjadi pilihan utama bagi konsumen.

Peran Social Commerce dalam Perubahan Ekosistem Belanja

Aska menjelaskan bahwa fenomena ini tidak lepas dari fragmentasi saluran belanja akibat pertumbuhan pesat social commerce. Platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube kini memperkenalkan fitur belanja, termasuk live shopping dan video commerce.

“Konsumen ingin mendapatkan hiburan sambil berbelanja,” ujarnya.

Jakpat memprediksi fragmentasi pasar akan terus berlanjut. Konsumen semakin terbiasa beralih antara social commerce, marketplace, dan kanal Direct-to-Consumer (DTC). Akibatnya, tidak ada satu platform pun yang akan mendominasi sepenuhnya.

Perilaku Shoppertainment Menjadi Kebiasaan

Perilaku shoppertainment telah menjadi kebiasaan yang terbentuk karena social commerce. Konsumen kini menikmati interaksi dan konten yang berbeda di setiap saluran.

Ke depan, kondisi ini akan mendorong penyatuan pengalaman belanja. Batas antara marketplace dan social commerce akan semakin kabur. Platform media sosial diperkirakan akan memiliki kemampuan logistik yang lebih canggih, sementara marketplace akan semakin agresif mengintegrasikan fitur content creation dan live streaming.

Tantangan dan Peluang di Masa Depan

Aska menyatakan bahwa semua platform kini berlomba menciptakan “super-app commerce” di mana konsumen bisa menemukan, berinteraksi, dan menyelesaikan transaksi—termasuk logistik—dalam satu aplikasi.

Ini menandai transformasi besar dalam dunia e-commerce, di mana pengalaman belanja tidak lagi terbatas pada transaksi semata, tetapi juga menyediakan hiburan dan interaksi yang lebih personal.

Dengan perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen, shoppertainment dan video commerce akan terus menjadi bagian penting dari ekosistem belanja online. Masa depan e-commerce bukan hanya tentang produk, tetapi juga tentang pengalaman yang menyeluruh dan menarik.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Apakah Investasi Masih Mungkin Dengan Modal Terbatas?

19 Maret 2026

Prospek MTDL Dukung Solusi Cloud & AI, Ini Rekomendasi Sahamnya

19 Maret 2026

Catat, Batas Akhir Pembayaran Zakat Fitrah Agar Sah

19 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

IBL 2026: Pelita Jaya Menggulingkan Pacific Caesar di Kuningan

19 Maret 2026

Apakah Investasi Masih Mungkin Dengan Modal Terbatas?

19 Maret 2026

Catat, Batas Akhir Pembayaran Zakat Fitrah Agar Sah

19 Maret 2026

WOW Pimpinan DPRD Sumsel Beli Meja Biliar, Rusak APBD Rp 486 Juta

19 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?