Kondisi Pariwisata Bali yang Sepi Jelang Nataru 2026
Di tengah kondisi pariwisata Bali yang sepi menjelang akhir tahun 2025, para pelaku industri pariwisata mengalami tantangan besar. Saat ini, suasana di Kuta, Badung, dan kawasan wisata lainnya terlihat jauh dari kebiasaan biasanya. Tidak ada kepadatan kendaraan atau kemacetan di sekitar Jalan Sunset Road, Legian, atau area pusat pariwisata Bali.
Para driver pariwisata di Bali juga mengeluhkan penurunan jumlah penumpang. Hal ini membuat kondisi ini viral di media sosial. Banyak narasi perbandingan antara penerbangan menuju Chiang Mai, Thailand, yang lebih ramai dibandingkan penerbangan ke Pulau Dewata menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Ketua Forum Perjuangan Driver Pariwisata Bali (FPDPB), Made Darmayasa, mengakui bahwa jumlah wisatawan menurun saat menjelang libur Nataru 2026. “Saat ini, penurunan wisatawan mencapai sekitar 40 persen,” ujarnya. Ia juga menyebut bahwa penurunan ini sudah dirasakan sejak pertengahan Oktober lalu.
Menurut Darmayasa, beberapa faktor memengaruhi penurunan kunjungan wisatawan asing ke Bali. Di antaranya adalah dampak ekonomi global yang mengurangi daya beli, munculnya akomodasi liar, isu infrastruktur seperti sampah dan kemacetan, serta tata kelola transportasi yang tidak optimal. Selain itu, isu bencana alam juga sempat berpengaruh meskipun bukan penyebab utama.
Tidak hanya para driver, tour guide juga merasakan penurunan jumlah wisatawan. Agus Indrawan, salah satu tour guide di Bali, mengatakan bahwa perubahan drastis kedatangan turis sangat terasa. “Bisa dibilang 80 persen turun dibanding dua tahun dan tahun lalu,” katanya.
Beberapa narasi mengatakan bahwa kondisi pariwisata Bali saat ini mirip dengan masa pandemi Covid-19 pada 2019-2021. Namun, Agus menegaskan bahwa bedanya adalah saat ini masih ada turis yang datang, meskipun jumlahnya sedikit. Ia juga menyebut bahwa banyak turis mengeluh tentang kemacetan dan isu banjir di Bali.
Meski begitu, Agus bersyukur bahwa mulai beberapa minggu terakhir, ada peningkatan jumlah tamu yang menggunakan jasanya. Ia juga menyebut bahwa pengunjung ke Pura Uluwatu cukup ramai.
Bali Mulai Bangkit
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya memberikan kabar baik bagi pelaku pariwisata. Menurutnya, mulai 20 Desember 2025, turis sudah mulai masuk ke Bali. “Bali sudah mulai bangkit ya untuk Christmas-nya sampai tanggal 27 (Desember 2025). Untuk periode Christmas-nya sudah meningkat tingkat huniannya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa karakteristik wisatawan saat ini sering kali memesan secara last minute melalui online travel agent (OTA). Hampir 70 persen bisnis pariwisata menggunakan OTA, sehingga banyak turis yang datang secara last minute.
Banjir menjadi salah satu isu yang mengkhawatirkan wisatawan. Berita banjir yang viral di media nasional maupun internasional telah memengaruhi persepsi wisatawan terhadap Bali.
Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, juga menyampaikan bahwa kondisi pariwisata di Bali sudah mulai membaik. Data penumpang pax internasional Bandara Ngurah Rai Bali menunjukkan peningkatan. Meskipun terjadi fluktuasi, jumlah kunjungan wisatawan asing mulai meningkat.
Pastikan Bali Tak Kalah dari Thailand
Menurut Ketua PHRI Badung, Bali tidak menjadi second choice bagi wisatawan asing. “Bali sudah lama dikenal dan memiliki banyak repeat guest. Wisatawan ingin mencoba destinasi baru seperti Chiang Mai, Vietnam, Filipina,” ujarnya.
Rai menekankan pentingnya komitmen bersama untuk mengatasi isu-isu negatif yang viral di media sosial. Ia juga menilai bahwa Bali harus tetap menjaga keunikan budaya dan tradisi serta sifat ramah dan hospitable masyarakat Bali.
General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, menilai isu wisman lebih memilih Thailand sebagai tantangan. Ia yakin bahwa Bali masih diminati karena daya tarik uniknya.
Analisis Berita Negatif
Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Bali Komang Artana menyebut bahwa okupansi hotel di Bali sebelum 20 Desember 2025 masih rendah. Okupansi rata-rata di bawah 65 persen. Penurunan ini disebabkan oleh pemberitaan negatif terhadap Bali, termasuk isu banjir, kemacetan, dan sampah.
Selain itu, semakin banyaknya akomodasi pariwisata di Bali juga memengaruhi okupansi. Akomodasi ilegal yang terdaftar di online juga ikut berkontribusi. Meski demikian, setelah 20 Desember, booking hotel mulai meningkat. Pada akhir tahun, rata-rata booking hotel di Bali mencapai 85 persen ke atas.



