Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Minggu, 5 April 2026
Trending
  • Punya HP Samsung? Harus Pasang Browser Ini di Laptop Windows
  • ASN PPPK Minta Anggaran Melalui APBN, Fadlun AMP: Jangan Setengah Hati
  • Villa dan Homestay di Pulau Lemukutan Ludes Dipesan Selama Libur Lebaran
  • Timnas Indonesia dan John Herdman Dapat Respons Luar Biasa dari Suporter Meski Kalah 0-1 dari Bulgaria
  • Soal Ujian PPKN Kelas 9 SMP Semester 2 Kurikulum Merdeka 2026 Lengkap Kunci Jawaban
  • Jaksa Undang 2 Ahli Tanah dalam Sidang Kasus Mafia Tanah Kemenag
  • Honda Brio 2026 Menggegerkan Pasar! City Car Favorit Kini Dilengkapi Fitur Mewah yang Membuat Kompetitor Khawatir
  • Renungan Katolik Harian: Jangan Menyerah, Tetap Setia Mengasihi
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Hiburan»5 Fakta Menarik Guanajuato, Kota Arwah di Film Coco
Hiburan

5 Fakta Menarik Guanajuato, Kota Arwah di Film Coco

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover5 April 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kota Berwarna-Warni yang Dibangun Bertingkat



Salah satu ciri paling mencolok dari Guanajuato adalah deretan bangunannya yang berwarna cerah dan dibangun bertingkat mengikuti kontur perbukitan. Rumah-rumah di kota ini tidak berdiri di lahan datar, melainkan menyesuaikan medan yang naik turun, sehingga banyak bangunan tampak saling berhimpitan dan berlapis. Karena itu, pemandangan Guanajuato dari kejauhan terlihat padat dan berwarna, dengan struktur kota yang tumbuh ke atas alih-alih melebar.

Visual semacam ini mengingatkan pada penggambaran Land of the Dead dalam Coco, yang juga menampilkan kota berlapis dengan bangunan warna-warni tersusun vertikal. Tentu saja, versi dalam film dibuat lebih dramatis dan artistik untuk kebutuhan animasi. Namun, Guanajuato menunjukkan bahwa konsep kota bertingkat seperti itu bukanlah sepenuhnya rekaan. Dengan mengamati tata kotanya yang sangat unik, wajar jika Pixar terinspirasi dari kota nyata satu ini, lalu menerjemahkannya ke dalam dunia fantasi yang lebih ekspresif.

Kota Tambang yang Tumbuh di Bawah Tanah



Guanajuato dulunya merupakan kota tambang perak yang sangat vital bagi Spanyol. Aktivitas pertambangan ini membuat banyak terowongan digali di bawah kota, yang lambat laun berkembang menjadi jalur penghubung antarkawasan. Hingga kini, jaringan jalan bawah tanah tersebut masih difungsikan, baik untuk kendaraan maupun pejalan kaki. Jadi, kehidupan Guanajuato memang tak sepenuhnya berlangsung di permukaan. Ada “lapisan lain” kota yang berjalan diam-diam di bawahnya.

Konsep kota bertingkat ini terasa selaras dengan narasi Coco. Land of the Dead digambarkan sebagai dunia yang penuh lorong, jalan sempit, dan ruang-ruang tersembunyi di balik gemerlap kota. Salah satu contohnya terlihat pada adegan saat Imelda akhirnya mengakui kecintaannya pada musik dan menyanyikan sepenggal lagu “La Llorona” kepada Miguel, bukan di ruang terbuka, melainkan di area sempit yang lebih privat, jauh dari keramaian. Adegan tersebut menegaskan bahwa emosi paling jujur justru muncul di ruang-ruang tersembunyi. Maka, ketika Guanajuato memiliki “kehidupan kedua” di bawah tanahnya, kesan mistis dan emosional itu terasa nyambung, seolah kota ini memang terbiasa menyimpan cerita penting di balik permukaannya.

Tradisi Kematian yang Diperlakukan dengan Hangat



Berbeda dari banyak budaya lain yang memandang kematian sebagai hal kelam, masyarakat Guanajuato dan Meksiko pada umumnya justru memperlakukannya dengan pendekatan yang lebih hangat. Tradisi Día de los Muertos bukan sekadar ritual mengenang orang meninggal, tapi juga perayaan kehidupan, keluarga, dan ingatan. Hal inilah yang menjadi jantung cerita Coco. Kota para arwah tidak digambarkan menakutkan, melainkan penuh musik, tawa, dan interaksi sosial. Nyatanya, semangat tersebut memang hidup di masyarakat Guanajuato. Orang-orang datang ke pemakaman dengan bunga, makanan, dan cerita, bukan hanya kesedihan. Karena itulah, Land of the Dead terasa begitu “manusiawi”, sebab akarnya memang berasal dari budaya nyata yang masih dijalani hingga sekarang.

Museo de las Momias yang Menguatkan Nuansa Dunia Arwah



Guanajuato juga dikenal memiliki Museo de las Momias, museum yang menyimpan mumi-mumi asli dari abad ke-19 dan awal abad 20. Mumi-mumi ini terawetkan secara alami karena kondisi tanah dan iklim, bukan melalui proses pengawetan buatan seperti di Mesir. Meski terdengar menyeramkan, museum ini justru menjadi bagian dari identitas kota. Keberadaan museum ini memperkuat hubungan Guanajuato dengan tema kematian yang tidak dihindari, melainkan diakui sebagai bagian dari kehidupan. Dalam konteks film animasi Coco, hal ini sejalan dengan bagaimana para arwah tetap “hidup” selama mereka dikenang. Jadi, meskipun mumi di Guanajuato adalah jasad nyata, pendekatan masyarakat terhadapnya tetaplah positif, yakni menghormati, bukan takut terhadapnya.

Kota Tua yang Sarat Musik dan Cerita



Selain arsitektur dan sejarahnya, Guanajuato juga dikenal sebagai kota seni dan musik. Jalan-jalan sempitnya sering diisi pertunjukan musik jalanan, serenata, hingga cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun. Bahkan, ada tradisi callejoneadas, yaitu tur malam hari sambil menyanyi dan mendengarkan kisah-kisah lama kota. Nuansa ini terasa sangat dekat dengan Coco, yang menjadikan musik sebagai jembatan antara dunia hidup dan dunia arwah. Di Land of the Dead, musik bukan sekadar hiburan, melainkan identitas dan pengikat keluarga. Guanajuato, dengan segala tradisi musiknya, menunjukkan bahwa kota nyata pun bisa hidup melalui nada, cerita, dan kenangan kolektif warganya.

Biarpun Coco adalah film animasi, dunia yang ditampilkannya terasa nyata karena memang berakar dari tempat sungguhan seperti Guanajuato. Kota ini membuktikan bahwa keindahan, sejarah, dan cara memaknai kematian bisa berpadu tanpa harus terasa muram. Jadi, ketika kamu melihat Land of the Dead yang penuh warna dan kehangatan, ingatlah bahwa di dunia nyata, Guanajuato sudah lebih dulu hidup dengan semangat yang serupa.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Renungan Katolik Harian: Jangan Menyerah, Tetap Setia Mengasihi

5 April 2026

Museum Pribadi Ceh M Din Melestarikan Seni Tradisi Didong Gayo di Pegasing

5 April 2026

5 Film Paling Unik yang Tak Hanya Menarik Sinefil

4 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Punya HP Samsung? Harus Pasang Browser Ini di Laptop Windows

5 April 2026

ASN PPPK Minta Anggaran Melalui APBN, Fadlun AMP: Jangan Setengah Hati

5 April 2026

Villa dan Homestay di Pulau Lemukutan Ludes Dipesan Selama Libur Lebaran

5 April 2026

Timnas Indonesia dan John Herdman Dapat Respons Luar Biasa dari Suporter Meski Kalah 0-1 dari Bulgaria

5 April 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?