Ragam Mengenal Kajiki, Badai Terkuat Asia Tenggara

Mengenal Kajiki, Badai Terkuat Asia Tenggara

9
0

Topan Kajiki Mengancam Wilayah Pesisir Vietnam dan Tiongkok

Topan Kajiki telah menjadi ancaman serius bagi wilayah pesisir Vietnam dan Pulau Hainan di Tiongkok. Dengan kecepatan angin mencapai 166 kilometer per jam, badai ini tercatat sebagai topan terkuat dan paling berbahaya sepanjang tahun. Kajiki berkembang dengan cepat dari depresi tropis menjadi badai yang mematikan, memaksa pemerintah setempat untuk mengambil tindakan darurat skala besar.

Pemerintah Vietnam langsung merespons dengan cepat. Lebih dari 500 ribu warga di lima provinsi pesisir diperintahkan untuk mengungsi ke lokasi aman. Keputusan tersebut diambil setelah prakiraan cuaca menunjukkan potensi hujan deras disertai angin kencang yang bisa memicu banjir bandang dan tanah longsor. Banyak sekolah diliburkan, sementara bandara di kawasan terdampak ditutup. Puluhan penerbangan dibatalkan demi mengurangi risiko keselamatan. Tentara juga dikerahkan untuk membantu proses evakuasi serta menyiapkan penanganan darurat pasca-badai.

Kajiki diperkirakan akan menghantam Provinsi Thanh Hoa dan Nghe An, wilayah yang dikenal rawan bencana hidrometeorologi. Laporan otoritas cuaca menyebutkan gelombang laut di Teluk Tonkin bisa mencapai ketinggian 9,5 meter, mengancam jalur transportasi laut dan nelayan setempat. Sementara itu, curah hujan ekstrem yang diprediksi menembus 700 milimeter berpotensi melumpuhkan aktivitas sehari-hari. Risiko longsor dan banjir bandang pun semakin besar, terutama di daerah perbukitan dan kawasan pemukiman padat penduduk.

Selain membawa ancaman keselamatan jiwa, badai Kajiki juga diperkirakan berdampak besar terhadap roda perekonomian. Kawasan industri di sekitar kota Vinh, yang menjadi basis manufaktur dan pusat produksi komponen elektronik untuk pasar global, terancam lumpuh. Penutupan pabrik, gangguan rantai pasok, serta kerugian finansial ditengarai akan menambah beban ekonomi Vietnam yang tengah berupaya pulih pascapandemi dan ketidakstabilan global.

Kehadiran Kajiki juga kembali mengingatkan pada bencana alam serupa di masa lalu. Tahun lalu, Topan Yagi menelan ratusan korban jiwa dan menyebabkan kerusakan infrastruktur senilai miliaran dolar. Pola yang sama terlihat: badai datang dengan cepat, sulit diprediksi, dan menghantam wilayah dengan garis pantai panjang yang rawan. Para pakar iklim menilai intensitas topan yang makin sering dan kuat ini terkait dengan perubahan iklim global, yang memicu suhu laut lebih hangat dan mempercepat pembentukan badai tropis.

Meski teknologi prediksi cuaca semakin maju, badai Kajiki menunjukkan betapa sulitnya mengantisipasi cuaca ekstrem. Dalam hitungan jam statusnya bisa berubah dari depresi tropis biasa menjadi badai besar. Hal ini membuat pemerintah daerah harus bergerak cepat, sementara masyarakat dituntut disiplin mengikuti instruksi evakuasi.

Situasi ini sekaligus menjadi ujian bagi sistem mitigasi bencana di Asia Tenggara. Evakuasi massal, penutupan akses transportasi, hingga penyediaan logistik darurat menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak buruk. Namun, tetap ada kekhawatiran bahwa jika topan ini bertahan lebih lama dari perkiraan, jumlah korban maupun kerugian material bisa meningkat tajam.

Hingga kini, masyarakat di wilayah terdampak terus diperingatkan agar tetap waspada. Pemerintah Vietnam dan Tiongkok memantau perkembangan badai Kajiki secara intensif. Semua langkah darurat ditempuh dengan harapan dapat meminimalkan jatuhnya korban dan kerusakan besar akibat badai tropis paling mematikan tahun ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini