Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Kamis, 26 Maret 2026
Trending
  • Rekayasa Lalu Lintas Jalur Utama Siap, Gubernur Sumbar Pastikan Arus Mudik Lancar
  • Hasil Kualifikasi MotoGP Brasil 2026: Banyak Pebalap Terjatuh, Fabio Di Giannantonio Pole Position
  • Cara Mudah Menghitung Luas Bangunan: 5 Tips Penting
  • 11 Film Bioskop Terbaru Lebaran 2026, Mulai Dari Danur The Last Chapter Hingga Tunggu Aku Sukses Nanti
  • Manifesto Mapalus: Menghidupkan Teknologi Sosial Minahasa di Era Digital
  • Lihat rekomendasi saham dan proyeksi Vale Indonesia (INCO) 2026
  • 4 Fakta Mengejutkan Kasus Potongan Tubuh di Samarinda: Mulai dari Temuan Bocah Hingga Misteri Miss X
  • 9 makna mimpi bertemu presiden atau raja, siap-siap naik jabatan!
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Teknologi»IDC Indonesia: Pengiriman Smartphone Turun di 2026 Akibat Harga Mahal
Teknologi

IDC Indonesia: Pengiriman Smartphone Turun di 2026 Akibat Harga Mahal

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover4 Februari 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Pengiriman smartphone di Indonesia diperkirakan akan mengalami penurunan pada 2026. Hal ini terjadi karena tren kenaikan harga perangkat yang semakin signifikan. Menurut Vanessa Aurelia, Associate Market Analyst Devices Research dari IDC Indonesia, harga smartphone akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Vanessa menjelaskan bahwa perangkat dengan harga di bawah US$200 tidak memiliki pilihan selain menaikkan harga. Kenaikan harga ini dapat menyebabkan siklus penggantian perangkat menjadi lebih panjang. Konsumen cenderung menggunakan smartphone mereka lebih lama dibandingkan biasanya.

Beberapa model smartphone dari berbagai vendor di Indonesia sudah menunjukkan kenaikan harga. Menurutnya, kelangkaan memori masih terjadi hingga saat ini dan belum jelas kapan kondisi tersebut akan kembali normal. IDC memperkirakan kesenjangan antara pasokan dan permintaan akan makin parah, sehingga menyebabkan kekurangan pasokan dan harga yang lebih tinggi pada paruh pertama 2026. Meskipun kondisi ini kemungkinan mulai mereda pada paruh kedua tahun tersebut, harga diperkirakan tetap tinggi setidaknya hingga awal 2027.

Kelangkaan memori yang memicu kenaikan harga disebabkan oleh pembangunan pusat data berskala besar dalam jangka pendek hingga menengah. Tren ini juga disertai dengan aksi para pemain utama industri memori yang mengalihkan sebagian besar ekspansi kapasitas dan investasinya ke segmen hyperscale dan AI.

Secara khusus, pasokan dan produksi memori kelas bawah seperti DDR4 yang masih digunakan pada banyak smartphone entry-level terus dikurangi. Sementara itu, peralihan ke DDR5 belum terjadi secara masif. Bahkan pada DDR5, pemasok lebih memprioritaskan kebutuhan hyperscale dan AI.

Di sisi lain, permintaan dari sisi klien (smartphone, PC, dan perangkat lainnya) serta permintaan dari sektor otomotif, terutama kendaraan listrik (EV), meningkat pesat. Hal ini mendorong kenaikan total permintaan memori dan penyimpanan.

Vanessa menjelaskan bahwa perangkat dengan harga rendah memiliki margin yang lebih sempit, sehingga vendor sulit menyerap kenaikan biaya. Akibatnya, kenaikan harga di segmen ini akan lebih terlihat. Untuk segmen menengah hingga atas, vendor memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam melakukan penyesuaian. Namun, sebagian biaya tetap berpotensi dibebankan ke konsumen dalam bentuk kenaikan harga, meski dengan tingkat yang bervariasi.

Salah satu opsi yang dapat dilakukan adalah menyesuaikan spesifikasi lain guna menekan biaya. Namun, mengingat porsi biaya memori yang cukup besar dalam struktur biaya smartphone, langkah tersebut sulit sepenuhnya menutupi kenaikan biaya tanpa mengorbankan komponen lain.

Dalam situasi ini, langkah terbaik yang dapat dilakukan vendor adalah mengelola biaya seoptimal mungkin serta melakukan penyesuaian dan penguatan strategi pasar agar dapat bertahan di tengah kondisi pasar yang menantang.

Karena smartphone termasuk barang konsumsi nonesensial, intervensi pemerintah dinilai tidak diperlukan. Vanessa menilai bahwa akan jauh lebih berdampak apabila pemerintah memprioritaskan stabilitas fiskal makro, karena faktor-faktor ekonomi yang lebih luas tersebut memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Manifesto Mapalus: Menghidupkan Teknologi Sosial Minahasa di Era Digital

26 Maret 2026

Jelajah Lebaran 2026: BNI Bantu Mudik Lebih Mudah

26 Maret 2026

OnePlus Nord 6 Tampil di Geekbench, Snapdragon 8s Gen 4 Jadi Sorotan

25 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Rekayasa Lalu Lintas Jalur Utama Siap, Gubernur Sumbar Pastikan Arus Mudik Lancar

26 Maret 2026

Hasil Kualifikasi MotoGP Brasil 2026: Banyak Pebalap Terjatuh, Fabio Di Giannantonio Pole Position

26 Maret 2026

Cara Mudah Menghitung Luas Bangunan: 5 Tips Penting

26 Maret 2026

11 Film Bioskop Terbaru Lebaran 2026, Mulai Dari Danur The Last Chapter Hingga Tunggu Aku Sukses Nanti

26 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?