Indonesiadiscover.com.CO.ID, JAKARTA – Ilmu Komunikasi sering kali dianggap sebagai jurusan yang hanya cocok bagi mereka yang suka berbicara dan tampil di depan kamera. Namun, kenyataannya jauh lebih kompleks dari itu. Banyak mahasiswa Ilmu Komunikasi justru memiliki sifat observatif, cermat dalam mendengarkan, serta terbiasa menganalisis sebelum menyampaikan pendapat. Di dunia yang semakin ramai dengan informasi dan opini, kemampuan ini menjadi kekuatan utama.
Dalam situasi di mana notifikasi terus-menerus datang, headline clickbait marak, dan opini saling bertabrakan, tantangan komunikasi tidak lagi sekadar tentang bagaimana berbicara. Tantangannya adalah bagaimana menyaring informasi, memilih kata-kata dengan tepat, serta memahami kapan harus berbicara dan kapan perlu menahan diri. Di sinilah peran Ilmu Komunikasi bekerja secara strategis.
Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) memberikan pelatihan yang tidak hanya mengajarkan cara menyampaikan pesan, tetapi juga memahami dampak dari setiap komunikasi. Setiap pesan memiliki konsekuensi. Satu kalimat bisa membangun kepercayaan, sedangkan satu kesalahan komunikasi bisa merusak reputasi dalam waktu singkat.
Pendekatan pembelajaran di UBSI menekankan tanggung jawab komunikasi. Mahasiswa belajar tentang etika, analisis media, serta studi kasus komunikasi di ruang publik dan organisasi. Mereka diajak untuk memahami bagaimana informasi diproduksi, disebarkan, dan diterima oleh masyarakat, serta siapa saja pihak-pihak yang terdampak oleh proses tersebut.
Di ruang kelas, komunikasi tidak hanya diajarkan sebagai teknik, tetapi juga sebagai praktik sosial yang melibatkan hubungan kuasa, kepentingan ekonomi, dan emosi manusia. Pemahaman ini membentuk lulusan yang mampu membaca situasi komunikasi secara lebih utuh dan kontekstual.
Prospek kerja lulusan Ilmu Komunikasi UBSI sangat beragam. Banyak alumni bekerja sebagai perancang strategi komunikasi, analis media, pengelola hubungan masyarakat, spesialis manajemen krisis reputasi, hingga pengelola komunikasi digital di institusi dan perusahaan. Meski peran ini sering kali berada di balik layar, pengaruhnya terhadap persepsi publik sangat besar.
Di era digital, tantangan komunikasi semakin kompleks. Media sosial membuat semua orang bisa berbicara, tetapi tidak semua siap bertanggung jawab atas dampaknya. Algoritma mendorong kecepatan dan sensasi, bukan ketepatan. Kondisi ini menempatkan lulusan Ilmu Komunikasi pada posisi strategis sekaligus menantang.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UBSI dilatih untuk tidak hanya kreatif, tetapi juga sadar akan etika. Mereka tidak hanya responsif, tetapi juga reflektif. Mereka dibekali kemampuan untuk menyeimbangkan kecepatan informasi dengan akurasi dan tanggung jawab sosial.
Melalui pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan dinamika media modern, Program Studi Ilmu Komunikasi di Universitas Bina Sarana Informatika mempersiapkan mahasiswa menghadapi kompleksitas komunikasi di media, organisasi, dan ruang publik.
Sebagai Kampus Digital Kreatif, UBSI menempatkan komunikasi sebagai keterampilan strategis, bukan sekadar kemampuan tampil di depan umum. Di tengah dunia yang semakin ramai oleh suara, mereka yang mampu berkomunikasi secara sadar dan bertanggung jawab justru menjadi paling dibutuhkan.
Ilmu Komunikasi bukan tentang siapa yang paling keras berbicara, melainkan tentang siapa yang paling mampu mempertanggungjawabkan setiap kata yang disampaikan.



