Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Minggu, 26 April 2026
Trending
  • Harga BBM Malaysia Melonjak 10 Kali Akibat Konflik Timur Tengah
  • Pengepul Sawit Kesulitan BBM, Codet Minta Sopir Truk Balik Arah
  • 5 kebiasaan harian untuk kulit sehat, cerah, dan alami
  • Andrew Jung Pulih, Matricardi Tak Hadir: Persib Siap Curangi Poin di Kandang Dewa
  • Ilusi Kestabilan: Kegagalan Kebijakan Lingkungan Eropa di Timur Tengah
  • Profil Nus Kei, Ketua Golkar Maluku Tenggara yang Tewas Ditikam, Pernah Bersaing dengan John Kei
  • Pengupgradan Besar! Honda Scoopy 2026 Tampil Lebih Modern dan Kekinian
  • Rayakan Ulang Tahun ke-10, SHAD Indonesia Rilis Box Motor Terbaru
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Profit, Manusia, dan Bumi, Mengungkap Tantangan Kemiskinan Sulteng
Politik

Profit, Manusia, dan Bumi, Mengungkap Tantangan Kemiskinan Sulteng

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover23 Februari 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Paradoks Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di Sulawesi Tengah

Presiden Prabowo Subianto sering kali menekankan konsep “Paradoks Indonesia” sebagai cermin tantangan pembangunan nasional. Di Sulawesi Tengah, paradoks ini bukan sekadar teori, melainkan realitas statistik yang tajam: sebuah provinsi yang secara ekonomi menjadi “bintang” nasional, namun secara sosial masih bergelut dengan residu kemiskinan yang persisten.

Naskah pemikiran Presiden Prabowo menggarisbawahi tiga persoalan fundamental yang menyebabkan kekayaan alam gagal mensejahterakan rakyat: kebocoran kekayaan negara (capital outflow), deindustrialisasi, dan ketergantungan impor. Dalam konteks Sulawesi Tengah, persoalan ini termanifestasi dalam bentuk ketimpangan distribusi nilai tambah.

Sulawesi Tengah saat ini menduduki posisi kedua dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Ketika ekonomi nasional tumbuh di kisaran 5 persen, Sulawesi Tengah secara konsisten mencatatkan pertumbuhan di atas 7 persen, bahkan menyentuh angka dua digit. Lonjakan ini merupakan buah dari hilirisasi industri nikel di Morowali serta kontribusi sektor migas LNG di Kabupaten Banggai.

Namun, ada “anomali” yang harus kita akui secara jujur. Secara teoritis, pertumbuhan ekonomi yang masif seharusnya linear dengan penurunan kemiskinan. Di Sulawesi Tengah, fenomena yang terjadi justru sebaliknya.

Paradoks Pertumbuhan vs Kemiskinan

Pertumbuhan Eksponensial Sulawesi Tengah, didorong sektor industri pengolahan yang padat modal dan hanya bisa dinikmati mesin investasi mineral serta gas ESDM. Sayangnya, hanya mereka yang memiliki basis pengetahuan metalurgi. Sementara mayoritas masyarakat sulteng bergantung pada sektor pertanian, perikanan dan kelautan. Itulah alasan utama maka kemiskinan masih Stagnan tinggi.

Angka kemiskinan masih bertengger di level lebih dari 10 persen. Mengapa pertumbuhan 7 % gagal menggerus angka kemiskinan 10 % ? Jawabannya terletak pada sifat ekonomi kita yang cenderung menjadi enclave (ekonomi kepulauan). Kekayaan diproduksi secara masif melalui ekspor produk setengah jadi, namun keterlibatan rantai pasok lokal dan penyerapan tenaga kerja terampil daerah masih menghadapi hambatan struktural.

Di mana industri ekstraktif nikel dan gas berkembang, sementara mayoritas masyarakat sulteng mayoitas adalah petani dan nelayan. Melalui visi Asta Cita, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo melakukan reorientasi pembangunan. Hilirisasi tidak boleh berhenti pada nikel dan mineral semata.

Tiga Langkah Taktis untuk Memecahkan Paradoks

Untuk memecahkan paradoks di Sulawesi Tengah, kita memerlukan tiga langkah taktis:

  • Hilirisasi Multisektor: Memperluas nilai tambah ke komoditi perkebunan dan pangan. Jika nikel bisa menghidupkan industri, maka cokelat, kelapa, dan kelautan Sulteng harus bisa menghidupkan kesejahteraan petani dan nelayan dengan cara mendorong hilirisasi sektor perkebunan dan kelautan kita.

  • Menutup Kebocoran Nilai: Memastikan bahwa praktik ekonomi tidak hanya berujung pada pelarian modal ke luar negeri, tetapi mengendap dalam bentuk investasi SDM dan infrastruktur lokal. Karena itu lewat program berani cerdas, sehat, dan Berani Makmur yang menjadi visi gubernur dan wakil gubernur harus mendapatkan dukungan yang masif. Selain mengisi investasi SDM juga mempersiapkan generasi lepas dari ketergantungan sumber daya alam menjadi kekuatan sumber daya manusia.

  • Kemandirian Pangan dan Energi: Sulawesi tengah harus bisa merasakan kemakmuran lewat Kemandirian Pangan dan Energi. Manfaatkan lahan luas di Sulawesi Tengah untuk swasembada guna mengurangi ketergantungan impor, selaras dengan visi ketahanan nasional.

Tugas pemerintah sulteng, bukan sekadar mengawal pertumbuhan angka PDRB, melainkan memastikan bahwa setiap persentase pertumbuhan tersebut memiliki efek bagi perbaikan wajah kemiskinan daerah. Kita harus memastikan bahwa di tanah yang kaya akan nikel dan logam mulia dan sumber gas alam ini, tidak ada lagi rakyat yang tertinggal dalam garis kemiskinan.

Sederhanya, Ekonomi harus tumbuh untuk Profit, tapi alam dan Planet kita tetap terjaga dengan memperhatikan aspek lingkungan. Namun pada sisi lain pemerintah harus berpihak pada kebutuhan Pelayan pendidikan dan kesehatan masyarakat bangun badanya dan bangun jiwanya. Layaknya cita-cita republik Indonesia sehingga, Profit, People, dan Planet benar-benar berbuah negara kemakmuran di Sulawesi tengah indonesia.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Ilusi Kestabilan: Kegagalan Kebijakan Lingkungan Eropa di Timur Tengah

26 April 2026

Bibit Perdamaian di Panipahan: Kekuatan Persaudaraan Mengatasi Konflik

26 April 2026

Pemkab OKU Timur Perluas Akses Keadilan, 312 Posbakum Siap Beroperasi

26 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Harga BBM Malaysia Melonjak 10 Kali Akibat Konflik Timur Tengah

26 April 2026

Pengepul Sawit Kesulitan BBM, Codet Minta Sopir Truk Balik Arah

26 April 2026

5 kebiasaan harian untuk kulit sehat, cerah, dan alami

26 April 2026

Andrew Jung Pulih, Matricardi Tak Hadir: Persib Siap Curangi Poin di Kandang Dewa

26 April 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?