

Industri minyak dan gas (migas) adalah salah satu sector yang memberikan sumbangsih besar bagi ketahanan energi dan pembangunan bangsa sejak Indonesia pertama kali merdeka, 79 tahun lalu. Di 2023, investasi industri hulu migas mencapai US$13,7 Miliar atau setara Rp206 triliun, meningkat 13% dari realisasi 2022.
Kepala Divisi Program dan Komunikasi (Prokom) Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Hudi D Suryodipuro menyampaikan selama kurang lebih dua dekade terakhir, industri hulu migas telah menjadi penyumbang kedua terbesar penerimaan negara setelah pajak, dengan total sebesar Rp5.045 triliun.
“Upaya kita untuk terus mencari dan mengembangkan cadangan migas baru berhasil mempertahankan Reserve Replacement Ratio (RRR) di atas 100% selama enam tahun berturut-turut. Kita juga telah menyelesaikan proyek-proyek besar seperti Lapangan Jangkrik, Lapangan Jambaran Tiung Biru, dan Tangguh Train 3. Itu semua merupakan upaya memperkuat ketahanan energi nasional,” ujar Hudi di acara peringatan HUT ke-79 Kemerdekaan RI di Kantor Pusat SKK Migas Jakarta, Sabtu (17/8).
Baca juga : Satgas Perbaikan Investasi Hulu Migas Dianggap tidak Diperlukan
Kegiatan usaha hulu migas, seperti pengeboran dan eksekusi proyek, juga turut menciptakan efek multiplier yang signifikan melalui penerapan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), yang mencapai 58% dari total belanja dan penyediaan lapangan kerja untuk 150 ribu pekerja.
Lebih lanjut, menurut Hudi, dalam peringatan HUT ke-79 ini, industri hulu migas telah memberikan sumbangsih nyata bagi bangsa dan negara. Sumbangsih nyata tersebut antara lain kesuksesan kinerja eksplorasi dengan temuan eksplorasi di Geng North, Layaran, dan Tangkulo yang telah menempatkan Indonesia pada posisi teratas temuan eksplorasi di Asia Tenggara dalam dua tahun terakhir.
“Temuan ini membuktikan bahwa potensi subsurface Indonesia masih sangat menjanjikan,” kata Hudi.
Baca juga : Peserta Pre Event IOG SCM Lampaui Target
Kedua, upaya peningkatan produksi minyak melalui produksi dari Banyu Urip Infill Clastic atau BUIC. Sumur B-13 yang merupakan sumur pertama dari proyek ini telah memproduksikan minyak pada tanggal 9 Agustus lalu.
“Beberapa hari lalu kita juga menyaksikan pengapalan ke-1.000 minyak mentah dari Lapangan Banyu Urip. Kita berharap 6 sumur berikutnya dari Proyek BUIC akan segera menyusul sehingga kontribusi proyek ini untuk semakin mengangkat profil produksi minyak nasional dapat terwujud,” tuturnya.
Hudi mengakui masih ada tantangan yang dihadapi oleh industri migas ke depan. Produksi migas nasional masih belum mencapai target yang ditetapkan. Selain itu, ada gap yang sangat signifikan yang harus dijembatani untuk mencapai target produksi Long Term Plan 1 juta BOPD dan 12 BSCFD.
Baca juga : SKK Migas: Indonesia Peringkat 9 di Asia Pasifik dari Segi Daya Tarik Investasi Migas
“Untuk 2024, dari target produksi minyak LTP sebesar 709.000 BOPD, produksi baru mencapai 579.000 BOPD. Sedangkan untuk gas, target LTP untuk tahun 2024 adalah 6.736 MMSCFD, tetapi produksi saat ini hanya mencapai 5.334 MMSCFD,” tuturnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Hudi menekankan pentingnya kolaborasi antara para stakeholder industri migas.
“Pola piker kolaborasi dalam melakukan pekerjaan transformasi ini sangat penting, karena memang kita harus bergerak secara bersama-sama untuk satu tujuan. Sikap ego sektoral hanya akan menjauhkan kita dari pencapaian target bersama,” tandasnya. (Z-11)