
IndonesiaDiscover.com – Vice Chair Working Group I, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) sekaligus Profesor Meteorologi dan Klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Edvin Aldrian, mengatakan bahwa 2023 merupakan tahun terpanas dengan kenaikan suhu global hingga 1,52 derajat Celcius. Hingga Maret 2023, tercatat kenaikan suhu ini melebihi batas yang ditetapkan pada Perjanjian Paris yaitu 1,5 derajat celcius.
Menurut laporan IPCC, tambahnya, pada tahun 2030 kenaikan suhu bumi diperkirakan akan naik lebih cepat dari beberapa prediksi sebelumnya. Perkiraan yang dirilis pada 2019 menyebutkan 2052 kenaikan suhu akan tembus beberapa derajat. Namun, perkiraan terbaru yang dirilis 2020 menyebutkan, level suhu tersebut akan dicapai pada 2042 alias 10 tahun lebih cepat.
“Suhu di bumi sudah melebihi 1,5 derajat celcius sepanjang dua belas bulan, Januari sampai Desember 2023. Kondisi ini terjadi 10 tahun lebih cepat dari prediksi sebelumya,” ungkapnya dalam diskusi bertajuk Bahan Pokok Mahal: Pentingnya Keberlanjutan Pangan di Tengah Krisis Iklim, beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Geliat Industri Pengolah Nikel di Morowali dan Dampak ke Sekitar, Setiap Hujan Selalu Banjir
Bahkan kondisi tanpa hujan paling tinggi selama 222 hari tidak ada hujan terjadi di Lombok, NTB. “Sementara itu untuk kondisi tanpa hujan lebih dari dua bulan terjadi di wilayah mulai dari Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Tengah dan Selatan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Papua, sehingga dapat dipahami banyak daerah yang mengalami kondisi produksi pangan yang tidak maksimal,” katanya.
El Nino yang terjadi sepanjang 2023 berakibat pada terganggunya produktivitas bahan pangan seperti beras dan minyak goreng. Berdasarkan data Bapanas, produksi beras periode Januari-April 2024 hanya 10,7 juta ton, lebih rendah 2,28 juta ton (17,57 persen) dibandingkan periode sama 2023 yang mencapai 12,98 juta ton.
Beberapa bulan terakhir, sudah dirasakan oleh masyarakat, kenaikan harga beras yang melambung tinggi. Meskipun ada intervensi dari pemerintah, namun diakui bahwa kondisi serupa dialami oleh banyak negara produsen pangan, sehingga menimbulkan ancaman krisis pangan. Sementara belum diketahui pasti kapan El Nino akan berakhir.
Lebih lanjut, Supari mengatakan bahwa selama 10 tahun terakhir kita lebih sering menghadapi iklim ekstrem baik itu El Nino, La Nina, maupun IOD. Hanya pada 2016 yang kondisi iklim globalnya netral, saat Indonesia mengalami musim kemarau.
Baca Juga: Produksi Turun, Beras Punya Andil Terbesar terhadap Inflasi
Jika La Nina benar akan hadir pada tahun 2024, maka musim kemarau akan terjadi dengan sifat lebih basah. Hal ini akan baik untuk tanaman padi karena air tercukup. Namun mungkin tidak cukup baik untuk tanaman hortikultura seperti sayuran dan cabai karena curah hujan yang berlebihan.
Dia menegaskan pentingnya untuk memahami informasi iklim ekstrem untuk mengurangi risiko dan dampaknya. Pemerintah perlu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai literasi iklim, khususnya bagi para petani yang sebagian besar terdiri dari generasi muda.
“Sehingga mereka melek teknologi informasi dan itu merupakan peluang untuk memberikan pemahaman pada setiap petani untuk mengurangi dampak risiko iklim ekstrem,” ungkapnya.