
Yang aku miliki dari warisan ayah adalah sebuah toko kelontong sekaligus rumah tempat tinggal dengan dua lantai di pinggir jalan raya dekat pasar. Bukan hanya itu, aku juga memiliki beberapa karyawan yang mengerjakan segala hal sejak toko itu dikelola ayah. Dari semua karyawan, orang penting dalam hierarki adalah Wanto, pemuda kurus jangkung dengan mata besar dan bekas luka di dahinya.
SEJAK ayah sakit, segala hal diurus Wanto. Ketika ayah meninggal dan ruko itu menjadi milikku sesuai catatan notaris, Wanto juga menjadi ”milikku” dan dia tetap menjalankan ruko itu.
Aku tidak tahu apa-apa soal toko, tetapi itu bukan persoalan. Toko itu seperti pendulum yang terus bergerak sendiri tanpa aku harus melakukan apa pun selain melihat uang masuk ke dalam rekening.
”Tidak ada yang bisa kita lakukan,” kata Wanto.
Apa yang terjadi pada tokoku, juga terjadi pada toko-toko lain. Dalam deretan ruko ini, ada toko busana, ada toko furnitur, ada toko elektronik, ada toko alat kantor, dan lain-lain, dan semuanya mengalami hal yang sama: gerak pendulum yang melemah.
Baca Juga: Kumpulan Legenda yang Menjelma Puisi Naratif
Jalan raya semakin ramai.
Sekarang jalan raya disesaki armada-armada besar. Trotoar sepi. Kendaraan kecil seperti motor dan sepeda jarang. Kalaupun ada sepeda motor yang melintas, jumlahnya tak banyak.
Ramainya jalan raya oleh armada besar tidak membuat toko-toko semakin ramai, malah semakin sepi. Pelanggan semakin enggan ke jalan raya karena di jalan-jalan kampung sekarang telah berdiri toko-toko segala macam. Pasar tradisional telah dipindah karena sering menyebabkan kemacetan jalan raya di depannya.
Beberapa ruko sudah ditinggalkan penghuni dan gedungnya tampak tak terawat nyaris tanpa penerangan. Tokoku sudah tutup sejak sebelum senja. Karyawanku sudah tidak banyak. Pada akhirnya aku hanya mengandalkan Wanto dan seorang karyawan lain yang membantunya.
Baca Juga: Gus Iqdam
Wanto, dengan demikian, bukan lagi penggerak pendulum. Dia telah menjadi pendulumnya dan dia telah melemah.