Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Kamis, 2 April 2026
Trending
  • Kronologi prajurit TNI gugur di Lebanon akibat serangan Israel saat masa tugas hampir berakhir
  • Mohamed Salah: Perjalanan Karier Sang Raja Mesir dari Nagrig ke Liverpool
  • Roy Suryo Buka Suara Soal 3 Masalah yang Menghimpit Rismon Sianipar Usai Akui Ijazah Jokowi Asli
  • Penasehat hukum menolak tuntutan tersangka anak mantan bupati SBB: Proses cacat, saham tak berpindah
  • Korea Selatan Larang Ekspor Naphtha untuk Jaga Stabilitas Pasokan Dalam Negeri
  • AGI Picu Perubahan Pasar Kerja, Profesi Ini Paling Rentan Terancam
  • 12 Prediksi Shio Besok Senin 30 Maret 2026: Cinta, Karier, Angka Keberuntungan
  • Kenali plafon drop terbaru untuk interior modern
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Teknologi»Pemimpin OpenAI: Perusahaan Gunakan AI untuk PHK?
Teknologi

Pemimpin OpenAI: Perusahaan Gunakan AI untuk PHK?

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover27 Februari 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Sam Altman Mengungkap Fenomena “AI Washing” dalam Pemutusan Hubungan Kerja

CEO OpenAI, Sam Altman, menyampaikan pandangan menarik mengenai tren pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dikaitkan dengan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, sebagian dari gelombang PHK tersebut tidak sepenuhnya disebabkan oleh teknologi AI, melainkan akibat faktor bisnis lain. Ia menyebut fenomena ini sebagai “AI washing”, yaitu praktik perusahaan yang menggunakan AI sebagai alasan untuk PHK yang sebenarnya sudah direncanakan sebelum adanya teknologi tersebut.

Altman menyampaikan pernyataannya saat berbicara dalam wawancara di ajang AI Impact Summit di New Delhi. Ia mengatakan bahwa meski tidak tahu persentase pastinya, ada banyak perusahaan yang memanfaatkan AI sebagai alasan atas keputusan PHK mereka. “Saya tidak tahu persentase pastinya, tetapi ada semacam AI washing, di mana orang-orang menyalahkan AI untuk PHK yang sebenarnya akan tetap mereka lakukan,” ujarnya.

Faktor Tradisional Masih Jadi Penyebab Utama PHK

Studi yang dirilis oleh Oxford Economics pada Januari lalu menunjukkan bahwa sebagian besar PHK lebih dipicu oleh faktor tradisional seperti overhiring dan kinerja keuangan yang lemah, bukan karena otomatisasi AI. Laporan tersebut bahkan menduga ada perusahaan yang mencoba “membungkus” PHK sebagai kabar baik dengan menyebutnya bagian dari transformasi AI, alih-alih mengakui kesalahan strategi bisnis di masa lalu.

Lembaga riset lain seperti Morgan Stanley juga menyatakan bahwa sejumlah bisnis memanfaatkan narasi AI sebagai “lisensi untuk mengurangi jumlah karyawan”. Meskipun demikian, Altman tidak menampik bahwa AI tetap membawa dampak nyata terhadap pasar kerja. Ia mengakui ada pergeseran pekerjaan yang benar-benar terjadi akibat adopsi teknologi ini.

Prediksi Jutaan Pekerjaan Terdampak

Proyeksi dari lembaga riset global turut memperkuat pandangan bahwa perubahan akan terjadi, meski tidak sepenuhnya berupa kiamat pekerjaan. Forrester memperkirakan sekitar 10 juta pekerjaan di seluruh dunia berpotensi hilang seiring percepatan adopsi AI oleh perusahaan. Namun, laporan itu juga menekankan bahwa peran-peran baru akan muncul untuk menggantikan sebagian pekerjaan yang terdampak.

Sementara itu, Gartner memproyeksikan sekitar 32 juta pekerjaan akan “dikonfigurasi ulang, didesain ulang, atau digabungkan” setiap tahun mulai 2028 akibat integrasi AI. Artinya, banyak peran tidak sepenuhnya hilang, melainkan berubah bentuk dengan dukungan sistem otomatis.

Helen Poitevin dari Gartner bahkan menyebut situasi ini bukanlah “kiamat AI”, melainkan “kekacauan pekerjaan” yang menuntut upaya besar dalam pelatihan ulang (reskilling). Diperkirakan sekitar 150.000 orang per hari perlu meningkatkan keterampilan agar mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Pekerjaan White Collar di Ujung Tanduk?

Perdebatan makin memanas ketika sejumlah tokoh industri teknologi mengeluarkan prediksi berbeda-beda. Studi dari National Bureau of Economic Research (NBER) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas akibat AI sejauh ini masih minim, sehingga memunculkan tanda tanya soal seberapa cepat AI benar-benar menggantikan manusia.

Namun pandangan lebih agresif datang dari CEO AI Microsoft, Mustafa Suleyman. Dalam wawancara dengan Financial Times, ia memperkirakan dalam 12 hingga 18 bulan ke depan AI akan mampu menjalankan sebagian besar tugas profesional, termasuk pekerjaan pengacara, akuntan, manajer proyek, hingga staf pemasaran.

Altman sendiri hadir dalam forum AI Impact Summit bersama sejumlah tokoh industri lain seperti CEO Anthropic, Dario Amodei, serta CEO Google, Sundar Pichai. Forum tersebut menjadi panggung diskusi global tentang dampak AI terhadap ekonomi, industri, dan tenaga kerja.

Di tengah silang pendapat itu, satu hal menjadi jelas: AI memang mengubah lanskap pekerjaan. Namun apakah perubahan itu akan menjadi bencana besar atau justru membuka peluang baru, sangat bergantung pada kesiapan perusahaan dan pekerja dalam beradaptasi.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

AGI Picu Perubahan Pasar Kerja, Profesi Ini Paling Rentan Terancam

2 April 2026

Suzuki Smash 2026 Hadir dengan Panel Digital dan ABS, Harga Rp 26 Jutaan

2 April 2026

Harga iPhone 17 Terbaru 2026, Chip A19 Jadi Sorotan

2 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Kronologi prajurit TNI gugur di Lebanon akibat serangan Israel saat masa tugas hampir berakhir

2 April 2026

Mohamed Salah: Perjalanan Karier Sang Raja Mesir dari Nagrig ke Liverpool

2 April 2026

Roy Suryo Buka Suara Soal 3 Masalah yang Menghimpit Rismon Sianipar Usai Akui Ijazah Jokowi Asli

2 April 2026

Penasehat hukum menolak tuntutan tersangka anak mantan bupati SBB: Proses cacat, saham tak berpindah

2 April 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?