Tersangka AG Jadi Kurir Sabu Karena Terlilit Utang
AG (56), seorang pria asal Banjarmasin, nekat menjadi kurir narkoba karena terlilit utang hingga Rp300 juta. Hal ini terjadi setelah usaha ternak kambingnya yang berjumlah 1.200 ekor mengalami kegagalan total. Dari pengakuannya, AG mengatakan bahwa ia hanya bekerja sebagai pegawai swasta dan juga memiliki usaha sendiri. Namun, kegagalan dalam bisnis ternak kambing membuatnya mengalami kerugian besar.
Kerugian Besar Akibat Kegagalan Usaha
Kasat Resnarkoba Polres Tarakan, AKP Tegar Wida Saputra, menjelaskan bahwa jumlah kambing yang mati mencapai sekitar 1.200 ekor. Bahkan, hampir setiap hari ada saja kambing yang mati. Hal ini menyebabkan utang AG menumpuk hingga mencapai angka Rp300 juta. Tekanan ekonomi itulah yang membuat AG nekat menerima tawaran pekerjaan sebagai kurir sabu, meski ia tidak mengenal jaringan narkoba yang merekrutnya.
Penyembunyian Narkoba di Dalam Koper
Dari hasil penyelidikan sementara, diketahui bahwa sabu seberat 785,71 gram disembunyikan secara rapi di dalam sela karet polkanisir koper dan disamarkan dalam bungkus snack ungu di antara pakaian kotor. Tiga paket sabu tersebut dikemas dengan berat masing-masing 172,75 gram, 308,61 gram, dan 304,35 gram.
Modus penyaluran narkoba ini cukup canggih. Koper diisi lapisan bernama karet polkanisir yang digunakan sebagai alas untuk pakaian. Di dalamnya ada sela yang digunakan untuk menyimpan barang bukti sabu. Dua paket lainnya dikemas di dalam snack. Snack berwarna ungu dan di dalamnya terdapat dua paket sabu.
Pengakuan Pelaku Mengenai Isi Koper
AG mengaku sama sekali tidak mengetahui isi koper tersebut. Ia hanya diminta mengambil koper di wilayah Tawau dan memasukkan pakaian kotor ke dalam koper tersebut. Menurut pengakuannya, ia hanya disuruh ambil koper di dekat hotel tempat dia menginap, lalu diminta memasukkan baju kotor saja ke dalam koper.
Perjalanan AG cukup panjang. Ia berangkat dari Banjarmasin menuju Kuala Lumpur, lalu ke Kota Kinabalu, dan akhirnya ke Tawau sebelum menuju Tarakan. AG standby di Tawau sejak 11 Maret dan baru berangkat ke Tarakan pada 13 Maret.
Perilaku Curiga dan Pembiayaan Sendiri
Namun, saat tiba di Tarakan, AG justru meninggalkan koper tersebut karena merasa curiga. Pengakuannya, karena perasaannya tidak enak, jadi koper itu sengaja ditinggalkan saat masuk pemeriksaan X-ray. Padahal, sebelumnya pelaku sudah dibelikan tiket tujuan Jakarta oleh jaringan. Namun karena merasa tidak nyaman, ia justru membeli tiket sendiri untuk melanjutkan perjalanan.
Bahkan, dari Tarakan pelaku diketahui telah membeli tiket lanjutan ke Balikpapan. AG rencananya akan melanjutkan perjalanan ke Balikpapan sambil menunggu instruksi berikutnya.
Aksi yang Diduga Bukan yang Pertama
Kasus ini juga mengungkap bahwa aksi tersebut diduga bukan yang pertama kali dilakukan pelaku. Menurut pengakuannya, ini sudah yang ketiga kali. Sebelumnya, AG selalu bersama temannya, namun kali ini berangkat sendiri.
Hingga kini, polisi masih mendalami jaringan yang terlibat, termasuk asal barang dari Tawau serta tujuan akhir peredaran narkotika tersebut. Sementara untuk memastikan kandungan barang bukti, sabu tersebut akan kembali diuji di laboratorium forensik.
“Kami akan bawa ke lab untuk memastikan kandungannya, meskipun sebelumnya sudah diuji dan positif mengandung metamfetamin,” pungkasnya.



