Tugas Mandiri Modul Pengembangan Perangkat Pembelajaran PPG PAI 2025
Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Kementerian Agama Republik Indonesia batch 3 telah memasuki tahap penting dengan dimulainya pembelajaran Modul 3: Pengembangan Perangkat Pembelajaran (PPP). Tahapan ini menjadi fase krusial karena menandai bagian akhir dari rangkaian pembelajaran daring yang wajib diikuti peserta PPG Kemenag batch 3. Modul 3 PPP merupakan penutup seluruh proses pembelajaran daring, terutama bagi guru bidang studi keagamaan, guru kelas MI, guru kelas RA, serta guru Bahasa Arab.
Pada tahap ini, peserta diarahkan untuk mengintegrasikan seluruh kompetensi yang telah diperoleh sebelumnya ke dalam praktik nyata penyusunan perangkat ajar. Berbeda dengan Modul 1 yang berfokus pada penguatan profesional dan Modul 2 yang menitikberatkan aspek pedagogik, Modul 3 PPP dirancang sebagai wahana praktik langsung dan rekonstruksi perangkat pembelajaran yang selaras dengan Kurikulum Merdeka.
Modul ini bertujuan membekali guru dengan kemampuan menyusun perangkat ajar yang adaptif, kontekstual, serta memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pembelajaran di madrasah dan sekolah. Dalam Modul 3 PPP PPG Kemenag, peserta dibimbing untuk mengembangkan seluruh komponen perangkat pembelajaran, mulai dari analisis capaian pembelajaran hingga penyusunan modul proyek yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, Profil Pelajar Pancasila, serta Rahmatan lil ‘Alamin (PPRA).
Modul 3 Pengembangan Perangkat Pembelajaran PPG Kemenag terdiri atas delapan topik utama yang saling berkaitan dan berkelanjutan, mencakup:
- Analisis Capaian Pembelajaran dan Pengembangan Tujuan Pembelajaran
- Pengembangan Materi Pembelajaran
- Pengembangan Pendekatan, Metode, dan Strategi Pembelajaran
- Pengembangan Alat Peraga, Media, dan Teknologi Pembelajaran
- Pengembangan Asesmen Pembelajaran
- Pengembangan Evaluasi Pembelajaran
- Penyusunan Modul Ajar
- Modul Proyek P5/PPRA
Setiap topik dilengkapi dengan materi bacaan, video pembelajaran, dan forum diskusi yang mendorong refleksi kritis serta kreativitas dalam praktik mengajar.
Soal Tugas Mandiri Modul Pengembangan Perangkat Pembelajaran PPG PAI 2025
Tugas Mandiri
Setelah selesai membaca dan mempelajari topik secara mandiri, mahasiswa membuat tugas mandiri yang ditulis dalam bentuk word, convert ke pdf, kemudian unggah di LMS. Adapun tugas yang diminta adalah:
- Peta konsep atau Gagasan apa saja yang anda temukan dari Topik 1 s.d. Topik 8. Sebutkan kurang lebih 5 gagasan dan mohon dijelaskan dalam satu dua alinea
- Materi/konsep apa saja dalam topik tersebut yang menurut anda menimbulkan miskonsepsi/salah mengerti dari Topik 1 s.d. Topik 8.
Referensi Jawaban
Peta Konsep Modul Pengembangan Perangkat Pembelajaran Topik 1-8 PPG Kemenag 2025
Modul 3 PPP:
1. ANALISIS CP & TP
Menjadi dasar dalam pengembangan materi pembelajaran
Berhubungan langsung dengan perencanaan asesmen
MATERI PEMBELAJARAN
Disusun mengacu pada CP/TP
Menjadi landasan penentuan pendekatan atau metode yang tepatMODUL AJAR
Memadukan keempat komponen utama
Berfungsi sebagai dokumen operasional yang disusun dari hasil asesmenASESMEN PEMBELAJARAN
Disusun berdasarkan CP/TP
Digunakan untuk menilai ketercapaian tujuan pembelajaran
Hasilnya dimanfaatkan sebagai bahan evaluasiPENDekatan & METODE
Ditentukan sesuai pertimbangan dan karakteristik siswa
Memerlukan asesmen untuk mengetahui tingkat efektivitasnya
Miskonsepsi yang Kerap Muncul Berkaitan dengan Topik 1 sampai Topik 8
Topik 1: Analisis Capaian Pembelajaran, Pengembangan Tujuan Pembelajaran
Miskonsepsi yang kerap muncul berkaitan dengan pemahaman yang belum mendalam mengenai kedalaman dan keluasan Capaian Pembelajaran (CP). Guru sering memaknai CP sebatas sebagai daftar materi yang harus disampaikan, tanpa menelaah secara menyeluruh kompetensi yang diharapkan tercapai pada setiap fase. Dampaknya, tujuan pembelajaran yang disusun cenderung menitikberatkan pada penguasaan pengetahuan faktual dan mengesampingkan pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi maupun penanaman nilai. Miskonsepsi lain adalah anggapan bahwa tujuan pembelajaran identik dengan tujuan materi, padahal tujuan pembelajaran seharusnya berorientasi pada perubahan kemampuan atau perilaku peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran.
Topik 2: Pengembangan Materi Pembelajaran
Penyederhanaan yang berlebihan sering menjadi sumber salah pengertian. Contohnya pada pembahasan tentang takdir, penyajian yang terlalu sederhana dapat menimbulkan pemahaman fatalistik yang tidak tepat karena mengabaikan aspek ikhtiar dan tanggung jawab manusia. Di samping itu, minimnya pengaitan materi PAI dengan konteks kekinian dapat membuat ajaran Islam dipersepsikan sebagai sesuatu yang kaku dan kurang relevan dengan realitas kehidupan. Miskonsepsi juga dapat muncul ketika materi hanya disampaikan dari satu sudut pandang atau mazhab tertentu tanpa mengenalkan keragaman pemahaman yang ada dalam Islam.
Topik 3: Pengembangan Pendekatan, Metode dan Strategi Pembelajaran
Miskonsepsi sering terjadi dalam membedakan antara pendekatan, metode, dan strategi pembelajaran. Pendekatan yang seharusnya berfungsi sebagai kerangka filosofis acapkali disamakan dengan metode yang bersifat teknis dan operasional. Selain itu, anggapan bahwa ada satu metode pembelajaran yang paling unggul untuk semua kondisi juga merupakan pemahaman yang keliru. Pada kenyataannya, efektivitas metode sangat dipengaruhi oleh tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik, serta materi yang diajarkan. Kurangnya pemahaman terhadap konsep pembelajaran yang berpusat pada peserta didik juga dapat memunculkan miskonsepsi, sehingga praktik pembelajaran tetap didominasi oleh guru meskipun istilah modern telah digunakan.
Topik 4: Pengembangan Alat Peraga, Media dan Teknologi Pembelajaran
Miskonsepsi pada topik ini umumnya berkaitan dengan pandangan bahwa penggunaan teknologi secara otomatis akan meningkatkan mutu pembelajaran. Padahal, keberhasilan media sangat ditentukan oleh kesesuaian dengan tujuan pembelajaran serta cara pengintegrasiannya dalam kegiatan belajar. Kurangnya pemahaman terhadap prinsip desain media pembelajaran yang efektif juga dapat menyebabkan media yang digunakan justru membingungkan atau kurang menarik. Selain itu, ketergantungan pada satu jenis media sering dianggap cukup, padahal variasi media penting untuk mengakomodasi perbedaan gaya belajar peserta didik.
Topik 5: Pengembangan Asesmen Pembelajaran
Salah satu miskonsepsi utama dalam asesmen pembelajaran adalah kecenderungan untuk hanya menekankan asesmen sumatif berupa tes tertulis, sementara asesmen formatif yang memberikan gambaran proses belajar sering terabaikan. Di samping itu, keterbatasan pemahaman dalam menyusun instrumen asesmen yang valid dan reliabel dapat menghasilkan data pencapaian belajar yang kurang akurat. Miskonsepsi lainnya adalah memandang hasil asesmen semata-mata sebagai angka atau nilai akhir tanpa memanfaatkannya sebagai dasar pemberian umpan balik dan perbaikan pembelajaran. Kesalahpahaman juga kerap muncul dalam membedakan penilaian sikap dengan penilaian pengetahuan dan keterampilan dalam konteks nilai-nilai Islam.
Topik 6: Pengembangan Evaluasi Pembelajaran
Miskonsepsi dalam evaluasi pembelajaran sering bersumber dari ketidakjelasan pemahaman mengenai perbedaan antara asesmen dan evaluasi. Evaluasi memiliki cakupan yang lebih luas karena melibatkan berbagai sumber data untuk menilai efektivitas keseluruhan proses pembelajaran, bukan hanya hasil belajar. Selain itu, masih terdapat anggapan bahwa evaluasi hanya dilakukan pada akhir program, padahal seharusnya evaluasi dilaksanakan secara berkelanjutan dan periodik. Kurangnya kemampuan dalam menganalisis serta menafsirkan data evaluasi juga dapat menghambat upaya perbaikan pembelajaran yang tepat sasaran.
Topik 7: Pengembangan Modul Ajar
Pada pengembangan Modul Ajar, miskonsepsi sering muncul dalam bentuk anggapan bahwa modul sekadar kumpulan materi tertulis. Padahal, modul ajar yang baik seharusnya dirancang interaktif, memuat alur pembelajaran yang jelas, aktivitas yang menarik, serta asesmen yang terintegrasi. Kurangnya pemahaman tentang prinsip pembelajaran mandiri juga dapat menyebabkan modul tidak mampu mendorong peserta didik belajar secara aktif dan bertanggung jawab. Selain itu, ketidaksinkronan antara tujuan pembelajaran, materi, aktivitas, dan asesmen dalam modul merupakan miskonsepsi yang masih sering dijumpai.
Topik 8: Pengembangan Modul Project P5/PPRA
Dalam pengembangan Modul Project P5/PPRA, miskonsepsi kerap terjadi akibat pemahaman yang terbatas tentang keterkaitan tema P5 dan nilai PPRA dengan materi PAI. Proyek terkadang disusun secara terpisah tanpa integrasi yang bermakna dengan konsep keagamaan. Kurangnya pemahaman tentang pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek juga dapat menjadikan proyek sekadar aktivitas rutin tanpa arah tujuan pembelajaran yang jelas. Selain itu, asesmen proyek sering hanya difokuskan pada produk akhir, padahal proses kolaborasi, pemahaman konsep, serta internalisasi nilai juga merupakan aspek penting yang perlu dinilai.



