Perkembangan Teknologi dan Risiko Keamanan Siber di Sektor Ritel dan E-commerce
Pada tahun 2026, transformasi digital di sektor ritel dan e-commerce diperkirakan akan mengalami perubahan yang semakin kompleks. Salah satu aspek utama yang menarik perhatian adalah adopsi kecerdasan buatan (AI) yang mulai merambah berbagai bentuk interaksi, termasuk chatbot dan pencarian visual. Kaspersky, sebuah perusahaan keamanan siber ternama, memperkirakan bahwa penggunaan teknologi ini tidak hanya mengubah pengalaman belanja konsumen, tetapi juga memperluas risiko keamanan siber.
Salah satu poin utama dalam laporan Kaspersky adalah peran chatbot yang kian dominan sebagai alat penemuan produk di marketplace dan platform belanja daring. Berbeda dengan pencarian berbasis kata kunci, antarmuka percakapan memungkinkan konsumen menyampaikan kebutuhan mereka secara lebih detail menggunakan bahasa alami. Hal ini membantu platform membangun profil pengguna yang lebih lengkap, mencakup preferensi, batasan anggaran, hingga konteks personal. Namun, di balik manfaat tersebut, kondisi ini juga meningkatkan permukaan serangan terhadap privasi.
Log percakapan chatbot bisa memiliki sensitivitas setara dengan data transaksi, sehingga berisiko disalahgunakan atau bocor jika tidak dikelola dengan tata kelola data yang ketat. Anna Larkina, pakar analisis data web dan privasi di Kaspersky, menjelaskan bahwa pola pencarian itu sendiri sedang berubah, termasuk bagaimana orang mencari produk secara online.
Selain teknologi pencarian, faktor regulasi juga diprediksi menjadi celah baru bagi kejahatan siber. Perubahan kebijakan pajak, bea impor, dan aturan perdagangan lintas negara bisa dieksploitasi sebagai umpan dalam skema penipuan daring. Modifikasi aturan tersebut sering dimanfaatkan melalui kampanye phishing atau toko online palsu yang menawarkan harga sangat murah dengan dalih penghematan pajak atau biaya impor. Situasi ini dapat menurunkan tingkat kewaspadaan konsumen dan pelaku usaha, khususnya usaha kecil dan menengah, di tengah dinamika penetapan harga dan biaya lintas pasar yang terus berubah.
Di sisi lain, Kaspersky juga menyoroti meningkatnya peran asisten belanja berbasis AI yang beroperasi di luar platform ritel. Agen belanja ini diperkirakan akan semakin terintegrasi ke dalam peramban, aplikasi seluler, dan layanan pihak ketiga untuk membantu navigasi produk dan perbandingan harga. Meski dirancang untuk menyederhanakan navigasi dan penemuan harga, alat-alat ini menggeser pengumpulan data di luar perimeter pengecer, menciptakan risiko privasi baru dan kurang terlihat.
Agar berfungsi secara efektif, agen belanja AI eksternal memerlukan akses terus menerus ke perilaku pengguna, termasuk aktivitas penelusuran, konteks lokasi, dan interaksi produk di berbagai situs. Anna menyebut hal ini memungkinkan agregasi profil perilaku terperinci di luar kendali langsung pengguna dan platform ritel, meningkatkan risiko pengumpulan data berlebihan, penggunaan data yang tidak transparan, dan paparan tidak disengaja.
Tantangan berikutnya datang dari fitur pencarian produk berbasis gambar yang semakin populer. Jika sebelumnya isu privasi gambar terbatas pada foto ulasan produk, kini unggahan foto menjadi bagian rutin dari proses belanja. Foto yang diunggah pengguna berpotensi memuat informasi sensitif, seperti wajah, kondisi rumah, hingga data pribadi yang terlihat pada label pengiriman atau kemasan. Kaspersky menilai, untuk menjaga kepercayaan konsumen, pengecer perlu menerapkan prinsip pemrosesan aman, minimalisasi data, serta kebijakan retensi yang terbatas.



