Perjalanan Kehidupan Sirilus Wali, Komponis dan Maestro Musik Gerejawi NTT
Sirilus Wali, seorang komponis dan maestro musik gerejawi yang terkenal di Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggal dunia pada 17 Februari 2026 di RS Ae Ramo Mbay. Ia mengembuskan napas terakhirnya pada usia 62 tahun. Kepergiannya menjadi duka bagi seluruh komunitas musik gerejawi dan pencinta budaya NTT.
Keluarga besar Sirilus Wali, termasuk istrinya Alfonsa, serta anak-anaknya Renold dan Maria Angel Wali, kini merasa kehilangan. Mereka adalah sahabat terdekat yang selalu mendampingi Sirilus dalam setiap perjalanan hidupnya. Mereka juga sering bernyanyi bersamanya dengan penuh kasih sayang.
Sebagai seorang seniman sekaligus guru SBD di dua sekolah di Kota Kupang, yaitu SMAK Giovani dan SMAN 11 Kota Kupang, Sirilus Wali telah memberikan kontribusi besar dalam pendidikan dan seni. Ia lahir di Ndangakapa, Nangapanda, Kabupaten Ende, dan tinggal di Kota Kupang sejak lama. Rekan-rekannya mengenalnya sebagai lelaki rendah hati, tenang, sabar, serta berbudi halus yang dibentuk oleh keindahan musik.
Peran dalam Musik Liturgi Gereja
Sirilus Wali menekuni bidang komposisi sejak tahun 1990, ketika ia belajar di Universitas Widya Mandira bersama dosen-dosen hebat seperti almarhum Pater Anton Sigoama SVD, Pater Daniel Kiti, SVD, dan Bapak Petrus Riki Tukan. Dari sana, ia mulai mengembangkan dan menciptakan lagu-lagu Misa Inkulturasi serta misa-misa umum.
Lagu-lagunya yang sering dinyanyikan dalam Misa Gereja Katolik antara lain “Kami Membawa Persembahan” dan “Mari Pulang, Kita Memuji Allah”. Lagu-lagu ini tidak hanya menjadi bagian dari liturgi gereja, tetapi juga membawa pesan spiritual yang dalam.
Inspirasi Budaya dan Kreativitas
Sirilus Wali dikenal sebagai komponis NTT yang kreatif. Pada setiap hari raya gerejani seperti Natal dan Paskah, ia selalu merilis lagu misa baru. Selain itu, ia juga sering merilis lagu gereja untuk peristiwa khusus seperti misa perdana Imam baru, pesta paroki, atau syukur perak-pancawindu imamat.
Salah satu contoh lagu yang ia tulis adalah untuk perayaan syukur perak imamatku pada tahun 2011 dengan tema “Tuhan adalah gembalaku” (Mz,23). Pilihan kalimat lagu syairnya berasal dari gambaran sederhana dan konkret di kampung halaman nenek moyangnya Embu Jata, “Ndangakapa”-Tanah Jea dan di kampung halamanku Nangapanda, Kabupaten Ende.
Di sana, Sirilus pernah menjadi anak kampung yang mengembalakan kambing. Anak kampung dengan hati riang ini menghantar kambing ke rumput yang lebih hijau dan air yang tenang. Pada senja sebelum matahari terbenam, ia menghantar kambing ke Keka Rongo (kandang kambing).
Dalam lagu-lagunya, Yesus digambarkan sebagai sahabat yang dekat dan akrab yang selalu memiliki waktu untuk duduk dengan tenang dan mendengar isi hati kita dengan penuh pengertian. Tuhan Yesus selalu mendekati kita, karena itu kita tidak sia-sia bila kita berbicara kepada-Nya. Dia adalah sahabat kita.
Berbagai Genre dan Karya Lainnya
Dengan dasar yang kuat, Sirilus Wali mampu merambah berbagai genre, termasuk meliris lagu-lagu pop nasional dan daerah yang bernuansa budaya lokal serta tema kerukunan antarumat beragama. Salah satu lagu POP yang dirilisnya adalah tentang CINTA dan RASA. Lagu ini lahir atas refleksi mengenai kehidupan cinta yang mendalam.
Jika sebuah pasangan kekasih telah dikaruniai CINTA, maka mereka wajib menjaga RASA CINTA. Sebagai seorang pendidik, Sirilus juga banyak menulis lagu-lagu mars. Salah satunya tercatat pernah meraih penghargaan 6 besar terbaik nasional dengan Mars Perempuan PGRI, yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Pusat.
Warisan dan Kehidupan Keluarga
Sirilus Wali nampak bahagia ketika putrinya, Veronika Maria Angel Wali, yang saat itu masih siswi SMA, mengikuti jejaknya dalam ajang cipta lagu mars di tingkat provinsi dan nasional. Angel pun pernah meraih juara 1 dalam ajang lomba cipta lagu antar SMA/SMK se-NTT yang melibatkan 36 peserta.
Orang Latin bilang, “Qui bene cantat, bis orat”: “Dia yang bernyanyi baik, berdoa dua kali”. Dengan hati hening kita berdoa semoga sang komponis bersatu dengan sumber segala harmoni, bersama para malekat, Kerubim dan Serafim bernyanyi memuji kekudusan Tuhan tiada henti.
Terima kasih Ari Jao Sirilus Wali, cinta dan suara serta keindahan melodimu adalah abadi dalam hidup kami.



