Aktivitas Kegempaan Gunung Semeru Masih Dominasi Gempa Letusan
Gunung Semeru, yang memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl), masih menunjukkan aktivitas kegempaan yang dominan terdiri dari gempa letusan atau erupsi dalam beberapa pekan terakhir. Data terbaru dari petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Yadi Yuliandi, menunjukkan bahwa pada Senin (6/1) pukul 00.00–06.00 WIB, tercatat sebanyak 32 kali gempa letusan.
Gempa letusan tersebut memiliki amplitudo berkisar antara 10–23 mm dengan durasi 66–163 detik. Selain itu, terjadi dua kali gempa guguran dengan amplitudo 2 mm dan durasi 29–45 detik, serta satu kali gempa hembusan dengan amplitudo 8 mm dan durasi 116 detik.
Aktivitas kegempaan lainnya yang terekam mencakup dua kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 10–30 mm, selisih waktu S–P 13–15 detik, dan durasi gempa 52–60 detik.
Pengamatan selama 24 jam pada Minggu (4/1) mencatat sebanyak 151 kali gempa letusan atau erupsi, 10 kali gempa guguran, 21 kali gempa hembusan, tiga kali gempa harmonik, serta lima kali gempa tektonik jauh.
Secara visual, Gunung Semeru terlihat jelas hingga tertutup kabut 0–III. Asap kawah utama teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis sampai sedang dan tinggi sekitar 200–300 meter dari puncak.
Status Level III dan Rekomendasi untuk Masyarakat
Saat ini, Gunung Semeru masih berada pada status Level III (Siaga). Oleh karena itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan beberapa rekomendasi bagi masyarakat.
Masyarakat dilarang melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak sebagai pusat erupsi. Di luar jarak tersebut, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda awan panas dan aliran lahar hingga sejauh 17 kilometer dari puncak.
Selain itu, masyarakat tidak diperbolehkan beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena rawan bahaya lontaran batu pijar.
Potensi Bahaya yang Harus Diperhatikan
Warga juga diminta mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai dan lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru. Wilayah-wilayah yang perlu diwaspadai termasuk Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta sungai-sungai kecil yang menjadi anak Sungai Besuk Kobokan.
Dengan kondisi saat ini, masyarakat di sekitar Gunung Semeru diminta untuk tetap mematuhi anjuran dari pihak berwenang agar dapat mengurangi risiko bencana yang mungkin terjadi. Pemantauan terus dilakukan oleh petugas pengamatan gunung berapi untuk memastikan keamanan dan keselamatan masyarakat.



