Prestasi Mengagumkan di TKA Fisika
Muhammad Agha Nazih, seorang siswa SMAN 1 Kudus, berhasil meraih nilai sempurna 100 pada Tes Kemampuan Akademik (TKA) mata pelajaran Fisika. Capaian ini menunjukkan persiapan matang dan metode belajar yang terstruktur. Selain itu, ia juga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) secara bijak dalam proses belajarnya.
Hasil akademik Agha tidak hanya terbatas pada Fisika. Ia mencatatkan nilai baik di berbagai mata pelajaran lain. Untuk mata pelajaran wajib, ia mendapatkan nilai Matematika 83,20, Bahasa Indonesia 80,13, dan Bahasa Inggris 57,63. Sementara itu, untuk mata pelajaran pilihan, yaitu Matematika Tingkat Lanjut, ia meraih nilai 62,97.
Persiapan TKA Dimulai Jauh-Jauh Hari
Agha menjelaskan bahwa persiapan TKA dimulai tiga bulan sebelum ujian. Langkah awalnya adalah memahami aturan dan ketentuan TKA secara menyeluruh. Dengan membaca aturan tersebut, ia mengetahui durasi ujian serta kisi-kisi setiap mata pelajaran.
“Setelah itu saya mulai belajar sejak tiga bulan sebelum TKA. Saya berusaha mempelajari materi sedini mungkin agar tidak panik saat hari ujian mendekat,” ujar Agha.
Dalam proses belajar, ia selalu memulai dengan menyusun rencana dan tujuan belajar. Ia menuliskan materi, durasi, serta target capaian pada selembar kertas, lalu menjalankannya secara disiplin. Setelah sesi belajar, ia selalu melakukan review ulang materi agar tidak lupa dan memastikan benar-benar paham.
Prestasi Akademik Sejak Dini
Prestasi Agha tidak datang secara instan. Selama SMA, ia pernah meraih juara 2 dan juara 4 Olimpiade Sains Nasional (OSN) Matematika tingkat kabupaten selama dua tahun berturut-turut. Bahkan sejak SD dan SMP, ia sudah menorehkan prestasi di berbagai lomba Matematika dan IPA, mulai dari tingkat kabupaten hingga nasional.
Menurut Agha, ketertarikannya pada Fisika berangkat dari karakter ilmu tersebut yang berbasis numerik dan konseptual. “Saya lebih menyukai pelajaran yang menonjolkan perhitungan dibandingkan hafalan,” jelasnya.
Meski menyukai Fisika, Agha memiliki rencana melanjutkan pendidikan ke Jurusan Ilmu Aktuaria Universitas Gadjah Mada (UGM) jika memenuhi syarat dan diterima. “Saya tertarik pada kombinasi konsep matematika dan ekonomi yang ada di bidang aktuaria,” katanya.
Belajar Mandiri Tanpa Bimbel, Manfaatkan AI
Menariknya, Agha mengaku tidak mengikuti bimbingan belajar (bimbel) untuk persiapan TKA. Ia mengandalkan belajar mandiri dan memanfaatkan AI sebagai mentor belajar sejak kelas XI.
Ia menekankan pentingnya menyusun prompt secara jelas saat menggunakan AI. Contohnya, setelah dia mempelajari suatu materi melalui YouTube, Agha langsung membuat prompt kepada AI untuk menyusun latihan soal. Contoh prompt yang digunakan kurang lebih seperti ini: “Buatkan saya 10 soal pilihan ganda (5 opsi) terkait materi (mapel yang ingin dipelajari), dengan tingkat kesulitan bertahap dari mudah hingga sulit.”
Menurutnya, prompt detail jauh lebih efektif dibanding perintah singkat karena AI dapat memahami kebutuhan belajar dengan lebih baik. Ia juga menyarankan untuk mengaktifkan mode penalaran AI jika tersedia agar kualitas jawaban lebih optimal dibanding menggunakan mode cepat.
Dengan metode belajar seperti ini, biasanya Agha belajar maksimal selama 4 jam saja. Tapi jika diambil rata-rata, kurang lebihnya waktu belajar yang dia habiskan 2-3 jam saja. “Biasanya saya mulai belajar setelah maghrib,” tandas Agha.
Motivasi dan Peran Orangtua
Agha menyebut kedua orangtuanya sebagai sosok inspiratif utama. Ayahnya, Arief Yudianto, S.E., dan ibunya, Hanik Hidayati, S.Pd.I., M.Pd., selalu memberi dukungan tanpa paksaan. “Mereka memberi saya ruang untuk belajar dan tidak pernah menuntut nilai sempurna,” tuturnya.
Agha juga membagikan tips penting bagi siswa SMA yang kelak akan mengikuti TKA. Menurutnya, siswa perlu bertanya pada diri sendiri tentang tujuan belajar. “Selain metode belajar, adalah selalu bertanya kepada diri sendiri: ‘Apa tujuan Anda belajar TKA? Mengapa Anda ingin mendapatkan nilai TKA yang tinggi? Untuk siapa Anda berjuang?’ Dengan mengetahui tujuan utama, Anda dapat menjadi lebih disiplin dan merasa memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk meraih nilai yang lebih baik,” ungkap Agha.



