Masa Depan Karier di Era Digital
Di era ekonomi digital dan pasar kerja yang semakin cair, fenomena polyworking—memiliki dua atau lebih pekerjaan utama secara bersamaan—bukan lagi sekadar tren atau gaya hidup Gen Z. Ia adalah respons rasional terhadap tekanan ekonomi, ketidakpastian pekerjaan, dan peluang teknologi global, sekaligus cermin perubahan nilai kerja generasi muda. Baik di Indonesia maupun di dunia, polyworking menandai pergeseran mendasar dalam pola karier, struktur pasar tenaga kerja, dan norma sosial kerja.
Polyworking di Kacamata Global
Secara global, tekanan ekonomi dan dinamika pasar kerja mendorong generasi muda untuk mencari lebih dari satu sumber penghasilan. Beberapa faktor utama antara lain:
Tekanan Ekonomi & Ketidakpastian Pasar
Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global 2025 hanya 2,3%, lebih rendah dari prediksi IMF sebesar 3,3%. Di Amerika Serikat, jumlah lowongan kerja merosot ke level terendah dalam 10 bulan terakhir, sementara inflasi tetap tinggi. Dalam konteks ini, satu pekerjaan tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup Gen Z.Lonjakan Underemployment dan Youth Unemployment
Survei Deloitte 2024 menunjukkan sekitar 45% Gen Z memiliki setidaknya satu pekerjaan tambahan. Di beberapa negara Asia, termasuk Filipina dan Malaysia, banyak pekerja muda harus mengelola 2–3 pekerjaan sekaligus hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. Fenomena ini menunjukkan polyworking bukan sekadar lifestyle choice, tetapi strategi bertahan hidup dan mobilitas sosial.Perubahan Nilai Kerja
Generasi muda global tidak lagi memandang karier sebagai jalur linier. Mereka mencari: fleksibilitas kerja, makna dan purpose, diversifikasi pengalaman, serta kebebasan finansial lebih cepat. Polyworking menjadi cara menggabungkan semua elemen ini sekaligus, dari freelancing, content creation, hingga pekerjaan profesional tradisional.
Konteks Indonesia: Polyworking Sebagai Strategi Bertahan Hidup
Di Indonesia, fenomena ini terasa lebih “agresif” karena kombinasi faktor ekonomi, demografi, dan teknologi.
Tingginya Pengangguran Gen Z
BPS 2025 mencatat pengangguran nasional mencapai 7,2 juta orang, dengan 3,5 juta di antaranya Gen Z (15–24 tahun). Angka ini hampir setengah dari total pengangguran nasional. Kondisi ini mendorong generasi muda mencari lebih dari satu sumber pendapatan.Ledakan Ekonomi Digital
Platform digital seperti Upwork, Fiverr, Sribulancer, TikTok, Instagram, YouTube, LinkedIn, dan Glints membuka peluang lintas industri dan lintas negara. Infrastruktur digital yang berkembang pesat membuat polyworking lebih memungkinkan di Indonesia dibanding dekade sebelumnya.Fleksibilitas Pasca-Pandemi
Pandemi mempercepat normalisasi remote working, hybrid working, dan freelance economy. Fleksibilitas ini membuat polyworking bukan sekadar pilihan, tetapi strategi yang feasible dan praktis bagi Gen Z Indonesia.
Faktor Pendorong Polyworking yang Lebih Dalam
Selain alasan ekonomi dan fleksibilitas, beberapa faktor lain juga mendorong fenomena ini:
Career Hedging
Gen Z memandang karier seperti portofolio investasi: diversifikasi skill dan sumber pendapatan, mengurangi risiko PHK atau stagnasi karier, serta menciptakan keamanan finansial mandiri.Identity Multiplicity
Generasi ini tidak ingin identitas profesional tunggal. Banyak yang ingin dikenal sebagai “desainer + penulis + konsultan + content creator”. Polyworking memungkinkan ekspresi diri dan pemenuhan nilai personal secara bersamaan.Algorithmic Opportunity
Platform digital menciptakan peluang baru berbasis algoritma: konten viral → pendapatan, proyek freelance → rating → peluang lebih besar. Karier kini tidak sepenuhnya ditentukan atasan, tapi oleh algoritma dan ekosistem digital.
Risiko dan Tantangan
Fenomena ini tidak tanpa konsekuensi:
Burnout Struktural
Polyworking menciptakan bentuk baru kelelahan: identity fatigue (terlalu banyak peran), context switching cost (biaya mental berpindah tugas), dan boundary collapse (sulit memisahkan kerja dan hidup pribadi).Konflik Kontrak & Etika
Banyak perusahaan melarang moonlighting atau menuntut eksklusivitas. Polyworking bisa menimbulkan zona abu-abu etika bagi Gen Z.Ketimpangan Digital
Tidak semua pekerja memiliki akses ke perangkat, literasi digital, atau jejaring global. Polyworking bisa memperlebar jurang kelas digital: mereka yang punya akses → multi income; mereka yang tidak → tertinggal.
Dampak Jangka Panjang: Apakah Polyworking Akan Jadi Norma?
Fenomena ini menandai pergeseran norma global:
Norma Kerja Bergeser
Konsep “satu orang, satu pekerjaan” semakin usang, terutama di industri kreatif, teknologi, pendidikan, komunikasi, dan ekonomi digital.Evolusi HR dan Kebijakan Perusahaan
Perusahaan mulai menyesuaikan kontrak, membuka opsi kerja fleksibel, dan menerima pekerja dengan banyak peran.Transformasi Karier Masa Depan
Karier masa depan akan berbentuk portfolio career, gig-based professional identity, dan multi-income lifestyle.
Kesimpulan
Polyworking bukan sekadar tren Gen Z, tetapi strategi adaptif dalam dunia kerja yang tidak lagi menjanjikan stabilitas. Di tingkat global, fenomena ini muncul sebagai respons terhadap stagnasi upah, underemployment, dan peluang ekonomi digital. Di Indonesia, tekanan pengangguran tinggi, ekonomi digital yang meledak, dan fleksibilitas pasca-pandemi menjadikannya strategi bertahan hidup sekaligus mobilitas sosial.
Polyworking adalah cermin dunia kerja cair, tidak stabil, tetapi penuh peluang bagi mereka yang mampu beradaptasi. Dalam 5–10 tahun ke depan, pertanyaannya bukan lagi “Kenapa Gen Z polyworking?”, tetapi: “Bagaimana sistem kerja kita gagal menyediakan satu pekerjaan yang layak bagi generasi muda?” Fenomena ini menantang perusahaan, HR, dan pemerintah untuk merancang ulang aturan main di dunia kerja, sehingga fleksibilitas dan keamanan finansial bisa berjalan seiring.



