Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 28 Januari 2026
Trending
  • Akhyana Kehilangan Motor Kesayangannya di Plumbon
  • Cha Eun Woo Diperiksa Terkait Dugaan Penggelapan Pajak Rp230 Miliar
  • Hoki Beruntun! 5 Shio Ini Dikabarkan Dapat Keberuntungan Tak Terputus
  • Tetangga Dibacok, F Marah karena Istrinya Selingkuh, Pelaku Kabur Usai Bunuh
  • Profil Luke Vickery, Pemain Sepak Bola Australia Berdarah Medan yang Dikabarkan Dinaturalisasi
  • Hanya Polisi Bersertifikat di Satlantas Polresta Gorontalo yang Bisa Tilang Pengendara
  • Mantan Pelatih Timnas Spanyol Robert Moreno Diduga Gunakan ChatGPT, Ini Penjelasannya!
  • Kronologi Mbak Rara Dikeluarkan Saat Ritual Keraton Yogyakarta di Pantai Parangkusumo, Pawang Hujan Langgar Aturan?
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Beranda » Pengusaha Ungkap Tantangan Industri Sepatu di Tengah Ketidakstabilan Ekonomi Global
Ekonomi

Pengusaha Ungkap Tantangan Industri Sepatu di Tengah Ketidakstabilan Ekonomi Global

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover27 Januari 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Industri alas kaki nasional menghadapi berbagai tantangan di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global dan masalah internal yang terus berlangsung. Ketua Umum Terpilih Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Anton J Supit, menyatakan bahwa jika pemerintah tidak mampu menjaga iklim industri dengan baik, investor bisa beralih ke India sebagai basis produksi baru.

Meskipun menurut Anton, di mata pembeli global atau buyers, Indonesia masih dianggap sebagai negara sourcing yang penting. Namun, jika kondisi tidak dikelola dengan baik, hal ini bisa memberikan sinyal negatif yang membuat buyers memilih alternatif lain seperti India.

“Kalau kita tidak bisa maintain dengan baik ini, memberikan signal yang jelek, ya dia kan ada pilihan India,” ujarnya dalam konferensi pers usai Musyawarah Nasional Aprisindo di Hotel Borobudur Jakarta, Rabu (21/1).

Menurut Anton, India kini mulai muncul sebagai pemain baru di industri sepatu global. Selama ini, pilihan utama buyers hanya berkisar di Vietnam dan Indonesia. Namun, jika Indonesia terlalu lama menyelesaikan persoalan internal, buyers bisa terlanjur membangun infrastruktur di India.

Ketika investor telah memasuki pasar India, maka akan sulit bagi Indonesia untuk mengambil kembali investasi yang telah masuk.

“Jadi sebenarnya peluang ke sana besar. Realitas memang sangat dipengaruhi kondisi geopolitik, kita berharap terjadi perdamaian, tetapi buyers kan berharap cepat. Karena kalau dia baru putuskan setelah keadaan semua aman, dia ketinggalan,” jelasnya.

Pasar Global Masih Lesu

Wakil Ketua Umum Aprisindo Harijanto mengamini ucapan Anton. Dia menjelaskan bahwa kondisi pasar global hingga kini belum menunjukkan pemulihan berarti. Ketidakpastian geopolitik masih menjadi tekanan utama, mulai dari perang Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, hingga konflik internasional lain yang mempengaruhi ekonomi Eropa dan Amerika Serikat.

Dia memperkirakan hingga akhir 2027, industri sepatu nasional masih bergerak lambat. Utilisasi pabrik diprediksi hanya di kisaran 60–70 persen, sehingga investasi baru cenderung minim karena kapasitas terpasang yang ada masih cukup.

“Jadi kalau menurut saya ini sampai akhir tahun 2027 mungkin masih, menurut saya akan slow, kapasitas terpasang kita paling hanya 60 sampai 70 persen. Jadi investasi baru itu mungkin akan kecil karena utilisasi, fasilitas yang ada itu masih cukup tinggi gitu,” terangnya.

Biaya Tenaga Kerja dan Regulasi Jadi Beban



Harijanto juga memaparkan tantangan struktural industri sepatu, terutama tingginya porsi biaya tenaga kerja atau labor cost. Berbeda dengan sektor berteknologi tinggi seperti otomotif yang labor cost-nya hanya 7–8 persen, industri sepatu berkisar antara 18 hingga 28 persen.

Selain itu, ada tiga masalah utama yang dinilai paling krusial. Pertama, perizinan lahan dan AMDAL yang berlarut-larut hingga membuat pembangunan pabrik bisa memakan waktu bertahun-tahun.

Kedua, ketidakpastian kebijakan ketenagakerjaan atau labor policy. Ketiga, lemahnya dukungan terhadap industri pendukung sehingga komponen masih banyak diimpor dari Vietnam dan China.

“Waktu ekspor kita USD 2 miliar, industri pendukungnya tetap sama. Sekarang USD 7 miliar, (industri pendukung) tidak ada yang tumbuh. Makanya itu tekstil, leather synthetic, semua dari Vietnam, Cina. Nah ini sebetulnya added value kita jadi kecil,” jelasnya.

Dari sisi kinerja, ekspor Industri alas kaki nasional menunjukkan resiliensi di tengah fluktuasi ekonomi global, berdasarkan World Footwear Book 2025 total nilai ekspor mencapai USD 32 miliar selama periode 2020-2024.

Ketua Dewan Pembina Aprisindo Eddy Widjanarko mengatakan hingga November 2025, nilai ekspor sektor ini tercatat mencapai USD 7,2 miliar, naik sekitar 13,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan tambahan kinerja ekspor pada Desember, Aprisindo memperkirakan ekspor tahun 2025 bisa menutup pada kisaran USD 7,8–7,9 miliar.

Jika kondisi ekonomi global membaik dan sejumlah perjanjian dagang seperti Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) bisa diberlakukan, Eddy optimistis ekspor alas kaki Indonesia dapat menembus USD 10 miliar pada 2028 atau 2029.

“Tahun 2028 atau maksimum di tahun 2029, kita akan mencapai minimal USD 10 miliar yang saya kira ini adalah kontribusi yang sangat baik, penerima devisa untuk negara,” kata Eddy.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Meikarta jadi rusun subsidi, dekatkan hunian ke pusat ekonomi

27 Januari 2026

Risiko fiskal mengancam pasar SBN, yield melonjak

27 Januari 2026

Ramalan Zodiak Gemini dan Cancer 25 Januari 2026: Cinta, Karir, Kesehatan, dan Keuangan

27 Januari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Akhyana Kehilangan Motor Kesayangannya di Plumbon

28 Januari 2026

Cha Eun Woo Diperiksa Terkait Dugaan Penggelapan Pajak Rp230 Miliar

28 Januari 2026

Hoki Beruntun! 5 Shio Ini Dikabarkan Dapat Keberuntungan Tak Terputus

28 Januari 2026

Tetangga Dibacok, F Marah karena Istrinya Selingkuh, Pelaku Kabur Usai Bunuh

28 Januari 2026
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?