Pengalaman Menggunakan Nissan Grand Livina Generasi Awal
Mobil MPV lawas masih memiliki tempat tersendiri di hati konsumen, terutama bagi mereka yang mengutamakan kenyamanan dan biaya kepemilikan yang terjangkau. Salah satu model yang hingga kini masih banyak beredar di pasar mobil bekas adalah Nissan Grand Livina generasi awal.
Wisnu, pemilik Nissan Grand Livina Ultimate tahun 2010 asal Bogor, membagikan pengalamannya setelah menggunakan mobil tersebut selama kurang lebih tiga tahun. Grand Livina miliknya bertransmisi otomatis dan saat ini telah menempuh jarak sekitar 150.000 kilometer. Ia membeli mobil tersebut dalam kondisi bekas pada 2022, ketika odometer masih menunjukkan angka 130.000 kilometer.
Selama pemakaian, Wisnu menilai Grand Livina masih menawarkan karakter yang nyaman, bahkan disebut-sebut sebagai MPV dengan rasa sedan. “Dari sisi kenyamanan, menurut saya Grand Livina cukup unggul di kelasnya. Banyak yang bilang MPV rasa sedan, dan itu terasa terutama saat dipakai di jalan tol. Di kecepatan tinggi mobil enggak limbung,” kata Wisnu.
Selain kenyamanan berkendara, desain juga menjadi nilai tambah menurutnya. Meski usianya sudah tergolong tua, tampilan Grand Livina masih enak dipandang, terlebih jika mendapat sentuhan modifikasi ringan. “Cukup modif simpel saja, ganti pelek, body kit, kalau mau diceperin dikit sudah enak dilihat,” ujarnya.
Performa dan Konsumsi BBM
Soal performa, Wisnu mengaku belum pernah mengalami kendala berarti, khususnya saat melewati jalan menanjak. Mobil tersebut beberapa kali dibawa ke kawasan pegunungan dengan muatan penuh dan tetap dapat diandalkan. “Selama tiga tahun pemakaian belum pernah enggak kuat nanjak. Ke Puncak Bogor aman, Puncak 2 juga naik. Bahkan sempat dibawa mudik lewat jalur pegunungan Wonosobo–Temanggung dengan muatan penuh, aman-aman saja,” ujarnya.
Untuk konsumsi bahan bakar, Grand Livina Ultimate miliknya dinilai cukup efisien untuk ukuran MPV bermesin 1.500 cc. Pemakaian dalam kota berada di kisaran 1:10 hingga 1:12, sedangkan di jalan tol bisa mencapai 1:15.
Perawatan dan Biaya Kepemilikan
Dari sisi perawatan, Wisnu menyebut Grand Livina termasuk mudah dirawat. Jaringan bengkel spesialis Nissan cukup banyak, dan sebagian besar mekaniknya merupakan mantan teknisi bengkel resmi. “Perawatannya mudah, bengkel spesialis Nissan banyak, spare part juga melimpah, merek aftermarket banyak. Selama ini belum pernah kesulitan cari suku cadang,” katanya.
Ia biasanya melakukan servis rutin setiap enam bulan sekali di bengkel spesialis, dengan biaya sekitar Rp 750.000. Paket servis tersebut sudah mencakup penggantian oli, gurah mesin, tune up, hingga pembersihan fuel pump.
Adapun beberapa komponen yang pernah diganti selama masa kepemilikan antara lain oli transmisi matik, minyak rem, komponen kaki-kaki seperti rack steer, bushing arm, support shock, serta radiator yang diganti baru karena mengalami penyumbatan.
Meski demikian, Wisnu juga mencatat adanya kekurangan yang dirasakannya, terutama pada sektor kaki-kaki. “Bushing-bushing, seperti bushing arm, relatif gampang pecah. Mungkin karena bukan pakai part ori,” ungkapnya.
Untuk biaya kepemilikan, pajak tahunan Grand Livina Ultimate 2010 miliknya masih tergolong ringan. “Pajaknya enggak sampai Rp 2 juta, sekitar Rp 1,9 jutaan,” kata Wisnu.
Kelebihan dan Kekurangan Nissan Grand Livina Ultimate 2010
Kelebihan:
Kenyamanan berkendara unggul, stabil di kecepatan tinggi
Karakter berkendara terasa seperti sedan
Desain masih enak dipandang meski usia sudah cukup tua
Konsumsi BBM relatif irit
Performa tanjakan andal, termasuk di jalur pegunungan
Perawatan mudah, bengkel spesialis dan spare part melimpah
* Pajak tahunan terjangkau
Kekurangan:
Komponen kaki-kaki, terutama bushing arm, relatif mudah aus
Kualitas part aftermarket perlu selektif agar lebih awet



