Pemimpin Tertinggi Iran Mengapresiasi Dukungan dari Irak
Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyampaikan rasa terima kasih kepada otoritas keagamaan dan rakyat Irak atas sikap tegas mereka dalam menghadapi perang yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Dalam pesan yang disampaikan pada Minggu (29/3/2026), Khamenei memuji dukungan para ulama terkemuka Irak dan rakyat negara tersebut terhadap Iran dalam menghadapi agresi AS-Israel.
Duta Besar Iran untuk Baghdad, Mohammad Kazem Ale Sadeq, menyampaikan pesan Khamenei kepada Kepala Dewan Tertinggi Islam Irak, Shaikh Humam Hamoudi. Pesan tersebut menunjukkan apresiasi terhadap sikap keras dan dukungan yang diberikan oleh pihak Irak terhadap Iran.
Di sisi lain, Ayatollah Ali al-Sistani, ulama Muslim Syiah terkemuka Irak, juga mengecam keras perang AS-Israel terhadap Iran. Dalam pernyataan yang dibacakan saat salat Idul Fitri pada 21 Maret, ia menyatakan bahwa kobaran api melanda rumah-rumah di Iran dan Lebanon, sementara kedua negara Muslim tersebut berada di bawah agresi militer.
“Kami menggunakan kata-kata paling keras untuk mengutuk perang yang menindas ini dan menyerukan kepada seluruh Muslim serta pencinta kebebasan di dunia untuk mengutuknya dan menunjukkan solidaritas kepada bangsa-bangsa tertindas di Iran dan Lebanon,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Ayatollah Sistani, yang menjadi rujukan bagi puluhan juta Syiah di Irak dan dunia, juga menyerukan kepada negara-negara serta aktor berpengaruh global, termasuk negara-negara Muslim, untuk berupaya maksimal menghentikan agresi tersebut.
Kondisi Khamenei Masih Spekulatif
Lebih dari tiga minggu setelah pengangkatannya sebagai pemimpin tertinggi, Khamenei belum terlihat atau terdengar di hadapan publik. Ia dilaporkan terluka dalam serangan udara AS-Israel pada 28 Februari 2026 yang menewaskan ayahnya, almarhum Ayatollah Ali Khamenei, serta istri dan putranya pada hari pertama perang.
Sejumlah pernyataan tertulis yang dikaitkan dengan Khamenei telah disampaikan melalui media pemerintah, memicu spekulasi mengenai kondisi kesehatannya. Donald Trump mengklaim bahwa pemimpin tertinggi baru Iran tersebut kemungkinan telah meninggal dunia atau berada dalam kondisi sangat buruk, karena tidak ada kabar langsung darinya.
Mojtaba Khamenei Dilaporkan Dirawat di Rusia
Mojtaba Khamenei dikabarkan dipindahkan ke Rusia untuk menjalani perawatan medis setelah terluka parah dalam serangan udara AS–Israel yang menewaskan ayahnya pada 28 Februari lalu. Ulama berusia 56 tahun itu dipindahkan ke Moskow setelah Presiden Rusia Vladimir Putin secara pribadi menawarkan perawatan medis kepada Khamenei dalam percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menurut laporan surat kabar Kuwait, Al-Jarida.
Khamenei disebut diterbangkan ke Moskow menggunakan pesawat militer Rusia pada Kamis (12/3/2026), setelah berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, demikian klaim laporan tersebut. Sementara itu, Rusia menolak untuk mengonfirmasi maupun membantah laporan tersebut.
Berbicara kepada kantor berita Tass, sekretaris pers kepresidenan Rusia Dmitry Peskov mengatakan, “Kami tidak pernah mengomentari laporan seperti itu.” Di sisi lain, Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, menyebut laporan mengenai Mojtaba Khamenei yang menjalani perawatan atas luka-lukanya sebagai “perang psikologis.”
Ia menolak klaim tersebut dan menegaskan, “Para pemimpin Iran tidak perlu melarikan diri dan bersembunyi di tempat perlindungan; tempat mereka adalah di jalanan bersama rakyat.”
Kondisi Mojtaba Khamenei
Menurut Kementerian Luar Negeri Iran, Mojtaba Khamenei memang terluka akibat serangan AS–Israel, tetapi dilaporkan berada dalam kondisi baik. Ia disebut mengalami cedera di kaki, lengan, dan tangan. Baru-baru ini, sebuah rekaman audio yang bocor juga mengklaim bahwa Khamenei selamat karena keluar dari rumah beberapa saat sebelum rudal AS menghantam kediamannya.
Dalam laporan tersebut, ia disebut hanya mengalami cedera ringan di kaki, sementara istrinya, Zahra Haddad-Adel, dan putra mereka tewas seketika, menurut laporan The Telegraph. Di sisi lain, laporan dari Amerika Serikat mengklaim bahwa pemimpin Iran tersebut mengalami kecacatan akibat serangan itu.
Profil Mojtaba Khamenei
Mojtaba (56) merupakan putra kedua Ali Khamenei dan dikenal memiliki hubungan yang kuat dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Mojtaba bukanlah ulama berpangkat tinggi. Ia tidak pernah memegang jabatan resmi dan tidak memiliki peran formal dalam rezim tersebut. Namun, ia diyakini memiliki pengaruh yang cukup besar di balik layar.
Ia pernah bertugas di angkatan bersenjata Iran selama perang Iran–Irak. Meskipun kemungkinan terdapat penolakan terhadap pemilihannya, mengingat prinsip-prinsip Syiah, banyak petinggi Iran juga telah dinetralisir dalam serangan terhadap negara tersebut.



