Tantangan Pasar Otomotif Indonesia yang Masih Menghantui
Pasar otomotif di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan struktural yang belum sepenuhnya terselesaikan. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), faktor ekonomi dan harga kendaraan menjadi alasan utama konsumen menahan diri untuk membeli mobil, meskipun industri terus menawarkan model baru serta berbagai insentif.
Dari total 4.565 responden yang dinilai mampu membeli mobil secara ekonomi, sebanyak 3.054 orang justru menyatakan tidak berencana membeli mobil dalam lima tahun mendatang. Alasan utamanya adalah kondisi keuangan yang tidak memungkinkan (26 persen) serta harga mobil yang dinilai terlalu mahal (19 persen). Selain itu, banyak konsumen juga cenderung menunggu kondisi ekonomi yang lebih baik.
Sekitar 13 persen responden memilih menunda pembelian karena ketidakpastian ekonomi ke depan, sementara sebagian lainnya mulai beralih ke transportasi umum atau layanan daring sebagai alternatif mobil pribadi. Temuan ini menunjukkan bahwa tantangan utama pasar otomotif bukanlah terletak pada kebutuhan atau ketersediaan produk, melainkan kesenjangan antara harga kendaraan dan kemampuan finansial rumah tangga.
Preferensi Terhadap Mobil Bekas
Tekanan keterjangkauan ini juga terlihat dari preferensi konsumen terhadap mobil bekas. Dari 767 responden pemilik mobil bekas, 42 persen memilih mobil bekas karena harganya lebih terjangkau, diikuti pajak yang lebih ringan sebesar 23 persen dan depresiasi yang lebih rendah sebesar 10 persen.
Meski demikian, segmen mobil bekas tidak sepenuhnya tertutup bagi mobil baru. Survei mencatat, sebanyak 224 responden atau sekitar 29 persen pemilik mobil bekas berencana membeli mobil baru dalam lima tahun ke depan, mayoritas untuk mengganti kendaraan lama, sementara sisanya untuk menambah kendaraan.
Alasan perpindahan tersebut bukan lagi semata-mata soal harga, melainkan dari kualitas produk. Responden menyebut jaminan kondisi mesin dan bodi yang lebih baik (35 persen) serta teknologi dan fitur terbaru (23 persen).
Namun, potensi ini masih sulit terealisasi tanpa adanya perbaikan daya beli. Peneliti Senior LPEM FEB UI, Riyanto, menyebut stagnasi pasar otomotif nasional berakar pada satu persoalan utama: daya beli masyarakat.
Stagnasi Pasar Otomotif Nasional
Menurut Riyanto, pertumbuhan ekonomi yang bertahan di kisaran 5 persen membuat kenaikan pendapatan per kapita tidak sekuat satu dekade sebelumnya. Dampaknya paling terasa pada kelompok menengah yang selama ini menjadi tulang punggung penjualan mobil.
“Kelompok menengah kita turun. Di 2019 sekitar 57 juta, di 2024 turun 9–10 juta jadi sekitar 47 juta,” kata Riyanto. Menurutnya, kelompok ini sebelumnya memiliki siklus penggantian mobil yang relatif cepat, sekitar tiga hingga lima tahun. Namun kini, tekanan ekonomi membuat siklus tersebut semakin panjang.
“Sekarang lebih lama. Ada juga yang sebenarnya bisa membeli, tapi tertunda, atau bergeser ke mobil bekas,” ujarnya.
Survei LPEM FEB UI juga menunjukkan bahwa upaya mendorong pembeli mobil bekas beralih ke mobil baru hanya akan efektif jika selisih harga keduanya semakin menyempit. Dalam simulasi, penurunan harga mobil baru sebesar 10 persen memang mampu mendorong sebagian konsumen berpindah. Namun, dampaknya belum cukup kuat untuk mengangkat pasar secara signifikan dalam jangka menengah.



