Pasar Kecerdasan Buatan di Indonesia Dinilai Menjanjikan
Pasar kecerdasan buatan (AI) di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan positif dan dinilai sangat menjanjikan oleh perusahaan teknologi global seperti Hewlett Packard Enterprise (HPE). Dalam rangka mendorong percepatan adopsi AI di berbagai sektor industri, HPE telah merancang beberapa strategi yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan pemanfaatan teknologi ini.
Country Director HPE Networking Indonesia & Philippines, Robert Suryakusuma, menyampaikan bahwa banyak perusahaan di Indonesia mulai menyadari manfaat AI dalam meningkatkan efisiensi dan kecepatan operasional. Ia menjelaskan bahwa AI dapat membantu perusahaan dalam tiga aspek utama, yaitu efisiensi, kecepatan, serta pengurangan ketergantungan pada proses manual.
Namun, Robert juga mengungkapkan bahwa tidak semua perusahaan siap mengadopsi AI. Menurutnya, hanya perusahaan berskala enterprise yang sudah mulai mengintegrasikan AI ke dalam bisnis mereka. Sementara itu, segmen usaha kecil dan menengah (SMB) serta UMKM masih menganggap AI sebagai alat yang mahal dan sulit diakses.
Tantangan dalam Adopsi AI
Menurut Robert, tantangan terbesar dalam adopsi AI terletak pada segmen SMB dan UMKM. Banyak pelaku usaha di segmen ini menganggap AI sebagai teknologi yang mahal dan rumit. Padahal, ia menekankan bahwa implementasi AI tidak harus dilakukan secara besar-besaran, tetapi bisa dimulai secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas bisnis.
Selain itu, ada dua tantangan utama lainnya yang dihadapi dalam penerapan AI di Indonesia. Pertama, kekhawatiran karyawan terhadap posisi mereka yang akan tergantikan oleh AI. Kedua, ketidakjelasan ruang lingkup proyek AI di tingkat manajemen, yang sering menyebabkan inisiatif AI berjalan tanpa arah yang jelas atau tidak terintegrasi dengan strategi bisnis.
Strategi HPE dalam Mendorong Adopsi AI
Untuk mengatasi tantangan tersebut, HPE telah menyiapkan beberapa strategi. Pertama, meningkatkan brand awareness dan literasi AI melalui berbagai kegiatan dan forum lintas industri. Kegiatan ini digelar hampir setiap bulan untuk memperluas pemahaman dan membangun kepercayaan terhadap pemanfaatan AI.
Kedua, HPE memberikan kesempatan kepada klien untuk mencoba produk melalui proof of concept (POC) dan demo. Dengan demikian, calon pelanggan dapat langsung merasakan manfaat teknologi AI sebelum mengadopsinya secara penuh.
Ketiga, fokus pada kesiapan sumber daya manusia. HPE menyediakan pelatihan agar perusahaan mampu beradaptasi dengan teknologi baru.
Contoh Penerapan AI di Berbagai Sektor
Robert mencontohkan lini HPE Networking, khususnya produk Aruba Central, yang merupakan platform manajemen jaringan. Produk ini digunakan oleh organisasi dengan banyak cabang, seperti pemerintah, manufaktur, ritel, perbankan, pendidikan, rumah sakit, dan hotel untuk mengelola perangkat jaringan seperti access point, switch, dan server. Sistem ini dapat memberikan notifikasi atau alert jika terjadi gangguan.
Dengan Aruba Central yang memanfaatkan AI, administrator cukup memasukkan prompt atau perintah untuk menganalisis bagian tertentu dari jaringan. Sistem akan memberikan rekomendasi lengkap dengan pro dan kontra, termasuk dampak terhadap keamanan. Untuk ke depannya, HPE menargetkan konsep “self-driving network with AI” sebagai visi pengembangan teknologinya.
Selain itu, Robert juga menjelaskan penerapan AI di sektor manufaktur, khususnya pada perusahaan pemotongan ayam. Dengan bantuan AI, sistem dapat menganalisis dan mengklasifikasikan potongan ayam berdasarkan kebutuhan distribusi ke wilayah tertentu. Proses ini telah menjadi otomatis, sehingga mengurangi kesalahan dan meningkatkan efisiensi.
Penutup
Secara keseluruhan, AI sangat membantu dalam menunjang pekerjaan manusia sehari-hari. Meskipun demikian, Robert menegaskan bahwa penggunaannya tetap perlu dibatasi dan diatur secara bijak agar tidak melampaui batas. Ia menilai AI tidak berbahaya, karena AI tidak memiliki akal budi seperti manusia. Namun, AI tetap menjadi alat bantu yang penting dalam pekerjaan sehari-hari.



