Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Minggu, 22 Februari 2026
Trending
  • Toyota Vios 2019: Harga Menarik untuk Mobil Bekas
  • Jadwal dan harga tiket bus AKAP Bali ke Jawa Rabu (18/2), cek sekarang!
  • Doa Kamilin Lengkap: Arab, Latin, dan Terjemahan, Bacaan Setelah Tarawih Sebelum Witir
  • Prediksi Bodo vs Inter Milan: Nerazzurri Percaya Diri Kalahkan Glimt, Calhanoglu dan Frattesi Absen
  • Kepala Desa Kritik Pemangkasan Dana Desa 70% untuk Koperasi Merah Putih
  • Arsip Rahasia Epstein: Terbongkarnya Sisi Gelap Kapitalisme
  • Tanpa Aceh, Rencana Ekonomi Syariah Hanya Cetak Biru?
  • Jangan Tunda! 6 Tanda Karet Pintu Mobil Perlu Diganti Segera
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Opini: Pentingnya Manajemen Karier di SMA Di Tengah Kebisingan Hasil TKA
Ragam

Opini: Pentingnya Manajemen Karier di SMA Di Tengah Kebisingan Hasil TKA

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover7 Januari 2026Tidak ada komentar8 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Peran Manajemen Karier dalam Pendidikan Menengah

Di penghujung tahun 2025, dunia pendidikan menengah Indonesia dihebohkan oleh pengumuman hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA). Perbincangan publik tidak hanya berkisar pada capaian nilai, tetapi juga pada keterbatasan akses hasil asesmen tersebut bagi sebagian satuan pendidikan dan murid. Situasi ini memunculkan beragam tafsir, kegelisahan, dan kecemasan, baik di kalangan murid, orang tua, maupun pendidik.

Riuh hasil TKA sesungguhnya menyingkap persoalan yang lebih mendasar dalam pendidikan menengah. Di balik angka, grafik, dan perbandingan capaian, muncul pertanyaan reflektif tentang makna pendidikan SMA itu sendiri. Apakah SMA sungguh menjadi ruang pembentukan manusia muda yang mengenal diri dan arah hidupnya, atau justru tereduksi menjadi ruang persiapan menghadapi seleksi demi seleksi.

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika murid mengalami tekanan psikologis yang tidak selalu sebanding dengan kesiapan reflektif mereka. Berbagai pernyataan pemerintah menegaskan bahwa asesmen akademik bukan satu-satunya penentu dalam seleksi nasional masuk perguruan tinggi. Nilai TKA diposisikan sebagai syarat administratif atau pelengkap, bukan faktor tunggal penentu kelulusan seleksi. Namun, dalam praktik di lapangan, murid tetap merasakan kecemasan yang besar karena asesmen akademik sering dipersepsi sebagai ukuran nilai diri.

Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan makro dan pengalaman mikro murid di sekolah. Kesenjangan tersebut menuntut refleksi yang lebih mendalam dari satuan pendidikan. Sekolah tidak cukup hanya menjelaskan mekanisme seleksi, tetapi perlu mendampingi murid memahami makna belajar dan tujuan hidupnya. Tanpa pendampingan yang memadai, asesmen akademik berisiko menjadi sumber kecemasan alih-alih sarana pengembangan diri.

Dari titik inilah urgensi manajemen karier di SMA menjadi semakin nyata.

Dari Hiruk Asesmen ke Soal Arah Hidup

Masa SMA merupakan fase krusial dalam perkembangan identitas remaja. Pada tahap ini, murid sedang membangun pemahaman tentang diri, nilai hidup, dan peran sosial yang ingin mereka jalani di masa depan. Berbagai studi menunjukkan bahwa remaja yang tidak mendapatkan pendampingan reflektif cenderung mengalami kebingungan identitas dan kesulitan mengambil keputusan jangka panjang.

Oleh karena itu, pendidikan SMA tidak dapat dipersempit hanya pada penguasaan materi akademik. Dalam konteks asesmen dan seleksi yang semakin kompetitif, sekolah sering kali terjebak pada logika hasil. Murid didorong untuk mencapai nilai tertentu tanpa diajak memahami relevansi belajar bagi kehidupan mereka. Akibatnya, proses pendidikan kehilangan dimensi maknanya.

Fenomena ini sejalan dengan temuan Savickas et al. (2020) yang menyebut bahwa kegagalan pendidikan karier sering berakar pada absennya dialog makna dalam pembelajaran. Banyak murid yang secara akademik tergolong berhasil, tetapi merasa asing terhadap dirinya sendiri. Mereka mampu mengerjakan soal dengan baik, namun kesulitan menjawab pertanyaan tentang minat, nilai, dan tujuan hidup.

Kondisi ini sering baru disadari ketika murid harus mengambil keputusan besar, seperti memilih jurusan atau jalur pendidikan lanjutan. Pada titik inilah kebingungan arah hidup muncul secara nyata. Sekolah memiliki peran strategis untuk mencegah kebingungan tersebut. Dengan menjadikan SMA sebagai ruang refleksi dan eksplorasi, murid dapat dilatih mengenali dirinya secara bertahap.

Manajemen Karier sebagai Paradigma Pendidikan SMA

Manajemen karier dalam konteks pendidikan SMA dipahami sebagai proses pendampingan berkelanjutan yang membantu murid mengenali diri dan merencanakan masa depan. Karier tidak dimaknai semata sebagai pekerjaan, melainkan sebagai perjalanan hidup yang mencakup pembelajaran, pilihan, dan kontribusi sosial. Oleh karena itu, manajemen karier harus terintegrasi dalam budaya sekolah.

Pendekatan ini menempatkan murid sebagai subjek aktif dalam proses pendidikan. Murid diajak merefleksikan pengalaman belajar, mengidentifikasi kekuatan dan keterbatasan, serta merumuskan aspirasi hidupnya. Proses reflektif ini sejalan dengan pandangan Guichard (2021) yang menekankan pentingnya life design dalam pendidikan karier modern. Pendidikan tidak lagi bersifat instruktif semata, tetapi dialogis dan transformatif.

Manajemen karier juga membantu murid memahami keterkaitan antara pembelajaran di kelas dan dunia nyata. Ketika murid melihat relevansi materi pelajaran dengan kehidupan dan profesi, motivasi intrinsik untuk belajar akan meningkat. Penelitian Nazhruna et al. (2022) menunjukkan bahwa integrasi bimbingan karier dalam pembelajaran mampu meningkatkan keterlibatan dan kesadaran tujuan belajar murid.

Lebih jauh, manajemen karier berperan sebagai penyangga psikologis di tengah tekanan asesmen dan seleksi. Murid yang memiliki kejelasan arah hidup cenderung lebih resilien menghadapi kegagalan akademik. Mereka mampu menafsirkan hasil asesmen sebagai umpan balik, bukan sebagai vonis. Hal ini memperkuat kesehatan mental murid di lingkungan sekolah.

Contoh Program Pendampingan Karier di SMA

Program pertama adalah mentoring alumni terstruktur yang dirancang secara berkelanjutan. Alumni dilibatkan sebagai narator perjalanan hidup, bukan sebagai promotor institusi pendidikan atau profesi tertentu. Melalui perjumpaan rutin, murid mendengarkan kisah nyata tentang pilihan, kegagalan, dan penyesuaian hidup yang dialami alumni. Pendekatan naratif ini terbukti efektif dalam membantu murid membangun harapan yang realistis.

Relasi lintas generasi dalam mentoring alumni memberi ruang dialog yang autentik. Murid belajar bahwa jalur hidup tidak selalu lurus dan sukses tidak datang secara instan. Kisah nyata alumni membantu murid mengelola ekspektasi terhadap diri sendiri dan lingkungan. Dengan demikian, mentoring alumni berfungsi sebagai pembelajaran kehidupan yang konkret.

Program kedua adalah sesi narasi karier yang dilakukan secara terstruktur. Murid diminta menulis kisah hidup, pengalaman belajar bermakna, nilai yang diyakini, serta aspirasi masa depan. Proses menulis ini membantu murid melakukan klarifikasi diri dan refleksi mendalam. Guichard (2021) menegaskan bahwa narasi personal merupakan alat penting dalam pembentukan identitas karier.

Program ketiga adalah observasi dunia kerja atau job shadowing. Murid diberi kesempatan mengamati langsung praktik kerja di berbagai bidang melalui kunjungan atau kerja sama dengan mitra eksternal. Pengalaman ini memperkaya pemahaman murid tentang realitas profesi yang sering kali tidak tergambar dalam buku pelajaran. Studi Lika et al. (2021) menunjukkan bahwa pengalaman langsung meningkatkan kesiapan transisi murid.

Program keempat dan kelima adalah integrasi isu karier dalam pembelajaran serta pengembangan portofolio karier murid. Guru mengaitkan materi ajar dengan konteks profesi dan kehidupan nyata. Sementara itu, portofolio karier menjadi alat refleksi berkelanjutan yang mendokumentasikan perkembangan diri murid dari waktu ke waktu. Kedua program ini memperkuat kesinambungan pendampingan karier di sekolah.

SOP Pendampingan Karier di Tingkat SMA

Agar pendampingan karier berjalan sistematis, sekolah perlu memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas dan terdokumentasi. SOP diawali dengan pembentukan tim pendampingan karier yang melibatkan kepala sekolah, guru BK, wali kelas, dan perwakilan guru mata pelajaran. Tim ini bertanggung jawab merancang kebijakan, program, dan mekanisme evaluasi. Kejelasan struktur organisasi memastikan keberlanjutan program.

Tahap perencanaan dilakukan pada awal tahun ajaran dengan pemetaan kebutuhan murid berdasarkan jenjang. Kelas X difokuskan pada pengenalan diri dan eksplorasi minat, kelas XI pada eksplorasi pilihan pendidikan dan profesi, serta kelas XII pada pengambilan keputusan dan transisi pasca-SMA. Setiap tahap memiliki tujuan, indikator capaian, dan instrumen evaluasi yang jelas. Pendekatan bertahap ini sejalan dengan prinsip perkembangan karier remaja.

Tahap pelaksanaan mencakup kegiatan terjadwal seperti mentoring, lokakarya karier, sesi refleksi, dan observasi dunia kerja. Setiap kegiatan didokumentasikan dalam portofolio karier murid. Guru BK berperan sebagai koordinator utama, sementara wali kelas memastikan keberlanjutan pendampingan di tingkat kelas. Kolaborasi lintas peran menjadi kunci keberhasilan implementasi.

Tahap monitoring dilakukan melalui refleksi berkala murid dan umpan balik dari orang tua. Evaluasi program dilaksanakan minimal setiap semester melalui rapat tim pendampingan. Hasil evaluasi digunakan untuk memperbaiki desain program dan metode pendampingan. Dengan mekanisme ini, SOP tidak bersifat kaku, tetapi adaptif terhadap dinamika murid. Keberadaan SOP menjamin bahwa pendampingan karier tidak bergantung pada figur tertentu. Program menjadi bagian dari budaya sekolah yang berkelanjutan. Dengan demikian, manajemen karier dapat terus berjalan meskipun terjadi pergantian kepemimpinan atau guru.

Penutup

Riuh hasil TKA dan berbagai asesmen akademik yang mengemuka pada akhir tahun 2025 seharusnya menjadi momentum refleksi bersama bagi dunia pendidikan menengah. Perdebatan tentang nilai, akses, dan mekanisme seleksi memang penting, tetapi tidak boleh menutup pertanyaan yang lebih mendasar tentang tujuan pendidikan SMA. Sekolah tidak boleh terjebak dalam logika jangka pendek yang hanya mengejar angka dan keterterimaan. Pendidikan menengah dipanggil untuk kembali pada hakikatnya sebagai ruang pembentukan manusia muda.

Dalam konteks inilah manajemen karier sejak dini menjadi semakin mendesak. Manajemen karier membantu murid memahami diri, nilai hidup, serta berbagai kemungkinan jalan yang dapat ditempuh setelah lulus SMA. Pendampingan yang berkelanjutan membuat murid mampu memaknai asesmen akademik secara proporsional, sebagai alat refleksi dan umpan balik, bukan sebagai vonis atas nilai diri mereka. Pendekatan ini selaras dengan pandangan pendidikan karier modern yang menempatkan manusia sebagai subjek yang terus bertumbuh.

Lebih jauh, manajemen karier juga berperan penting dalam menjaga kesehatan psikologis murid. Murid yang memiliki kejelasan arah hidup cenderung lebih resilien menghadapi tekanan, ketidakpastian, dan kegagalan akademik. Mereka belajar bahwa hidup tidak ditentukan oleh satu hasil ujian, melainkan oleh kemampuan merefleksi, menyesuaikan diri, dan mengambil keputusan secara sadar. Inilah bekal yang jauh lebih tahan lama dibandingkan sekadar capaian akademik sesaat.

Bagi pimpinan satuan pendidikan, guru BK, wali kelas, dan semua guru, manajemen karier di SMA bukanlah tugas tambahan, melainkan bagian integral dari misi pendidikan. Melalui kebijakan yang visioner, program yang terencana, dan SOP yang konsisten, sekolah dapat menghadirkan pendampingan karier sebagai budaya bersama. Di tengah perubahan kebijakan dan dinamika seleksi pendidikan tinggi, investasi inilah yang akan memastikan bahwa SMA tidak hanya meluluskan murid yang siap bersaing, tetapi juga manusia muda yang siap menjalani hidup dengan kesadaran, tanggung jawab, dan makna.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Toyota Vios 2019: Harga Menarik untuk Mobil Bekas

22 Februari 2026

Jangan Tunda! 6 Tanda Karet Pintu Mobil Perlu Diganti Segera

22 Februari 2026

5 skutik besar nyaman untuk mudik, tidak lelah dan hemat bahan bakar!

22 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Toyota Vios 2019: Harga Menarik untuk Mobil Bekas

22 Februari 2026

Jadwal dan harga tiket bus AKAP Bali ke Jawa Rabu (18/2), cek sekarang!

22 Februari 2026

Doa Kamilin Lengkap: Arab, Latin, dan Terjemahan, Bacaan Setelah Tarawih Sebelum Witir

22 Februari 2026

Prediksi Bodo vs Inter Milan: Nerazzurri Percaya Diri Kalahkan Glimt, Calhanoglu dan Frattesi Absen

22 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?