Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Selasa, 3 Maret 2026
Trending
  • Kebijakan Dividen Berlanjut, Ini Rekomendasi Saham ADRO
  • 10 Atap Kanopi Terbaik 2026, Lindungi Rumah dan Tingkatkan Kesan Indah
  • Jejak Kriminal Ko Erwin, Residivis yang Setor Rp1 M ke Eks Kapolres Bima Kota
  • Harta Kekayaan dan Utang Rudy Masud, Mobil Dinas Rp8,5 Miliar dari Uang Rakyat
  • Prediksi Skor Heerenveen vs Sparta Rotterdam 28 Februari 2026: Head-to-Head dan Live Streaming
  • 7 Rahasia Menarik Dua Episode Awal In Your Radiant Season yang Membuat Penasaran
  • Narasi Bencana yang Hilang
  • Harga iPhone 14 Plus 512GB Februari 2026: Layar Luas, Chipset Kencang, Baterai Tahan Lama
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Narasi Bencana yang Hilang
Nasional

Narasi Bencana yang Hilang

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover3 Maret 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Pengalaman di Lapangan: Kebangkitan Semangat dan Tantangan Pasca-Bencana

Saat bertugas di lapangan, banyak hal yang bisa terjadi. Dari kejutan hingga kesedihan, semuanya bisa muncul dalam satu hari. Pada Jumat pertama Februari, kami mengunjungi Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang. Di sana, seorang murid SD menyampaikan kalimat sederhana namun menohok: “Banjir sudah reda, tapi lumpur masih ada.” Kalimat itu terdengar saat ia dan tiga temannya pulang dari sekolah. Langkah mereka terhenti ketika melihat mobil kami yang terperosok sedang diderek keluar lubang.

Aksi Solidaritas dari Berbagai Wilayah

Di tengah situasi ini, aksi solidaritas dilakukan oleh berbagai komunitas. Tim Teungku Inong, dampingan Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan (HAkA), serta organisasi lainnya menggelar aksi pada 4-7 Februari 2026 di Desa Babo dan Sekumur. Total peserta mencapai 60 orang dari berbagai latar belakang, seperti Forum Paralegal Aceh, Community Patrol Team (CPT) dari Gampong Linge, Mendale, dan Bunin, serta Kelompok Linut Lestari dan Cendana.

Seluruh sukarelawan tinggal bersama di rumah-rumah warga Desa Sumber Makmur, Kecamatan Tenggulun, Aceh Tamiang. Yuni, salah satu sukarelawan asal Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya, menyampaikan bahwa dorongan untuk saling menguatkan sesama korban berasal dari hati. “Apa yang sudah hilang, nanti rezekinya akan digantikan oleh Allah,” ujarnya.

Metode Terapeutik untuk Membangun Kembali Kehidupan

Aksi solidaritas ini tidak hanya berupa distribusi sembako, tetapi juga pembersihan masjid dan kantor camat, pembacaan doa dan yasinan bersama, serta Layanan Dukungan Psikososial untuk para ibu melalui metode terapeutik bercerita (storytelling). Koordinator lapangan program, Abdoel Hadi, menyampaikan bahwa masyarakat menyambut baik aksi ini. Bahkan, warga Desa Sekumur dan Babo turut membantu memudahkan kegiatan.

Windi Maharani dari Desa Sumber Makmur, Kecamatan Tenggulun, menambahkan bahwa aksi ini tidak hanya membantu warga terdampak, tetapi juga membangun rasa peduli dan kebersamaan di antara orang muda. “Secara keseluruhan aksi ini bagus dan layak dilanjutkan,” katanya.

Pengalaman Khas Perempuan Pasca-Bencana

Dua bulan pasca-bencana, untuk pertama kalinya, ayat-ayat suci Al-Qur’an, zikir, dan doa kembali dilantunkan bersama oleh para ibu di Desa Babo. Tak sedikit air mata yang tumpah sejak awal bismillah. Sesekali terdengar rengekan bayi dan gemuruh suara kaki balita berlari-lari selama majelis taklim berlangsung.

Empat puluhan perempuan Desa Babo yang hadir di musala itu menghabiskan siang hingga sore hari difasilitasi oleh Ustazah Masyitah Alzeyra, Ustazah Siti Dinaria, Fitri Juliana, dan saya sendiri untuk bersama-sama memanjatkan doa-doa dan berbagi cerita selama dan setelah menghadapi bencana banjir bandang dan longsor.

Beban Ganda yang Harus Diatasi Perempuan

“Enggak perlu bersih-bersih karena memang enggak ada lagi rumahnya,” celetuk Nihayati datar saat sesi curahan hati (curhat) yang spontan disambut gelak para peserta. Sebagai seorang ibu, beban ganda terasa lirih di sela-sela kehidupan pascabencana.

Nihayati, ibu lima anak, menjelaskan bahwa setiap keluarga dijatahkan makanan untuk sarapan. Anak pertamanya yang berusia 12 tahun terbiasa makan dua porsi. Sehingga, perempuan berusia 34 tahun itu pun merelakan jatah makannya untuk sang anak.

Fakta pahit tersebut tampak sesuai dengan pemaparan data oleh Sita Aripurnami MSc dan Ir Suraiya Kamaruzzaman ST, LLM, MT pada acara “Baseline Data Gender, Perubahan Iklim, dan Advokasi Kebijakan di Aceh” yang sempat saya hadiri di pengujung Januari lalu. “Realitas bencana sejatinya tidak bersikap netral. Selalu ada realitas tidak terungkap dari pengalaman perempuan dalam menghadapi bencana,” ucap Sita selaku Direktur Eksekutif di Women Research Institute (WRI).

Kunci Perubahan: Perempuan sebagai Pelaku Utama

Beban kerja berlipat ganda yang harus dihadapi perempuan di tengah bencana terpampang nyata saat saya turun ke wilayah-wilayah pengungsian. Para perempuan yang tampak merawat balita, lansia, dan disabilitas sekaligus. Ditambah lagi membersihkan lumpur pascabanjir dan mengelola dapur umum, dengan terus mengabaikan kebutuhannya sendiri.

Utari, perempuan berusia 27 tahun, menjelaskan bahwa sampai sekarang susu untuk ibu hamil belum dapat. “Kalau boleh disediakan donasi untuk tilam bayi, baju bayi, juga selimut bayi. Itu semua kami belum punya,” paparnya penuh harap.

Ketua Aceh Climate Change Initiative Universitas Syiah Kuala (ACCI USK), Suraiya, menyampaikan bahwa perempuan adalah kunci perubahan. Namun, situasi perempuan tidak mengalami perubahan dalam 30 tahun terakhir. Berdasarkan hasil temuan baseline data dari 305 perempuan sebagai sampel penelitian di Aceh Tengah, Aceh Utara, dan Aceh Barat sebelum bencana siklon Senyar melanda Sumatra, dinyatakan bahwa perempuan tahu cara bertahan dari bencana dan paham untuk terlibat dalam aksi penanggulangan perubahan iklim berbasis komunitas. Namun, perempuan nyaris tidak memiliki akses untuk menyusun kebijakan atau system keselamatan yang dibuat negara.

Tantangan Masa Depan

Ini tidak hanya tentang rumah dan kebun yang hilang, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat melanjutkan hidup ke depan!

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Kebijakan Dividen Berlanjut, Ini Rekomendasi Saham ADRO

3 Maret 2026

Jejak Kriminal Ko Erwin, Residivis yang Setor Rp1 M ke Eks Kapolres Bima Kota

3 Maret 2026

Harta Kekayaan dan Utang Rudy Masud, Mobil Dinas Rp8,5 Miliar dari Uang Rakyat

3 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Kebijakan Dividen Berlanjut, Ini Rekomendasi Saham ADRO

3 Maret 2026

10 Atap Kanopi Terbaik 2026, Lindungi Rumah dan Tingkatkan Kesan Indah

3 Maret 2026

Jejak Kriminal Ko Erwin, Residivis yang Setor Rp1 M ke Eks Kapolres Bima Kota

3 Maret 2026

Harta Kekayaan dan Utang Rudy Masud, Mobil Dinas Rp8,5 Miliar dari Uang Rakyat

3 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?