Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 9 Februari 2026
Trending
  • Laptop 2-in-1 Modern dengan RAM 16GB LPDDR5X!
  • Gahar dan Berwibawa! Honda Vario 125 CBS ISS 2025 Warna Hitam Matte, Harga Masih Aman di Februari
  • Jadwal peluncuran Infinix Note 60 Pro di Indonesia
  • Belajar AI Sederhana, BAIK Festival Telkomsel Tingkatkan Keterampilan Digital Pelajar Jambi
  • Ulasan lengkap AC split inverter Midea MSIAF-05CRDN2X, temukan fitur unggulannya
  • iPhone 18: Lompatan Teknologi dengan Desain Futuristik dan Kinerja Hebat
  • Microsoft Tersandung di Jalur AI Global Setelah Copilot Kehilangan Kepercayaan Pengguna dan Tekanan Pasar Meningkat
  • Orang yang Selalu Matikan Suara Ponselnya, Ini 8 Ciri Kepribadian Menurut Psikologi
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Teknologi»Microsoft Tersandung di Jalur AI Global Setelah Copilot Kehilangan Kepercayaan Pengguna dan Tekanan Pasar Meningkat
Teknologi

Microsoft Tersandung di Jalur AI Global Setelah Copilot Kehilangan Kepercayaan Pengguna dan Tekanan Pasar Meningkat

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover9 Februari 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Microsoft dan Ambisi Membangun Era Kecerdasan Buatan Global

Microsoft memasuki tahun 2026 dengan ambisi besar untuk menjadi pemimpin dalam era kecerdasan buatan global. Namun, dinamika pasar justru menempatkan perusahaan ini pada posisi defensif. Salah satu produk utama Microsoft dalam strategi AI-nya adalah Copilot, chatbot yang dijadikan poros utama. Saat ini, Copilot menjadi pusat perdebatan internasional tentang siapa yang benar-benar menguasai perlombaan AI.

Dari sisi strategis, Copilot diposisikan setara dengan peran Azure dalam revolusi komputasi awan beberapa tahun lalu. Microsoft mengintegrasikannya ke dalam Microsoft 365, GitHub, Edge, dan layanan konsumen lainnya. Dengan asumsi bahwa dominasi ekosistem akan melahirkan adopsi massal. Namun, integrasi yang luas justru menghasilkan pengalaman yang terfragmentasi dan membingungkan bagi banyak pengguna korporasi maupun individu.

Beberapa masalah utama yang dihadapi Copilot antara lain:

  • Mereknya membingungkan pengguna.
  • Berbagai versinya tidak bekerja mulus satu sama lain.
  • Pengalaman pemakaiannya terasa tidak konsisten.

Data independen menunjukkan bahwa proporsi pelanggan yang menjadikan Copilot sebagai pilihan utama turun dari 18,8 persen pada Juli 2025 menjadi 11,5 persen pada akhir Januari 2026. Sementara itu, preferensi terhadap Google Gemini naik dari 12,8 persen menjadi 15,7 persen.

Pertumbuhan dan Tantangan dalam Bisnis AI

Microsoft melaporkan telah menjual sekitar 15 juta lisensi Copilot korporat dari total lebih dari 450 juta langganan berbayar Microsoft 365. Perusahaan juga mengklaim memiliki lebih dari 150 juta pengguna aktif bulanan Copilot di seluruh platformnya, tetapi angka ini masih tertinggal jauh dibandingkan Gemini yang memiliki lebih dari 650 juta pengguna bulanan dan ChatGPT dengan sekitar 900 juta pengguna aktif mingguan.

CEO Microsoft Satya Nadella berupaya menjaga narasi strategis. Dalam blognya pada Desember 2025, dia menulis, “Kita telah melewati fase awal penemuan AI. Industri kini mulai membedakan antara spektakel dan substansi.” Pada laporan kinerja terbaru, dia menegaskan, “Copilot kini telah berubah menjadi kebiasaan kerja harian yang nyata bagi jutaan pengguna, dan kami melihat adopsinya tumbuh sangat cepat dibandingkan produk perusahaan lainnya.”

Namun, pasar belum sepenuhnya yakin. Saham Microsoft turun hampir 3 persen setelah laporan laba memicu kekhawatiran bahwa pertumbuhan Azure melambat dan bisnis AI masih terlalu bergantung pada OpenAI, sementara Copilot belum terbukti kuat secara komersial.

Kritik dan Respons Microsoft

Analis Citi mencatat bahwa sebagian perusahaan hanya menggunakan sekitar 10 persen dari lisensi Copilot yang mereka bayar karena data mereka masih tersebar di berbagai departemen yang tidak saling terhubung. Di luar ekosistem Microsoft, kritik semakin tajam. CEO Salesforce Marc Benioff menyindir Copilot dengan mengatakan, “Bagi saya, Copilot terasa seperti Clippy versi modern, lebih mirip asisten yang mengganggu ketimbang alat kecerdasan buatan yang benar-benar membantu pekerjaan.”

Pernyataan ini mencerminkan persepsi bahwa Copilot belum memberi keunggulan kualitas yang jelas dibanding pesaing. Microsoft merespons dengan dorongan pemasaran agresif. Pada 2025, perusahaan menggelontorkan sekitar USD 60 juta, setara Rp 1,008 triliun dengan kurs Rp 16.810 per dolar AS, untuk iklan televisi Copilot. Minggu ini, Microsoft juga menyiapkan iklan Copilot berdurasi 30 detik di Super Bowl, yang biayanya bisa melampaui USD 8 juta atau sekitar Rp 134,48 miliar.

Adopsi Internal dan Strategi Jangka Panjang

Sementara itu, secara internal adopsi Copilot justru melonjak. Pam Maynard melaporkan penggunaan di divisi penjualan naik dari sekitar 20 persen menjadi lebih dari 70 persen dalam setahun. Program “boot camp AI” juga diluncurkan untuk mengubah cara kerja insinyur dan manajer produk.

Katy George menegaskan, “Tujuan kami bukan sekadar membuat orang lebih mahir menggunakan AI, tetapi mengubah cara mereka melihat diri mereka sendiri, dari sekadar programmer menjadi perancang produk berbasis kecerdasan buatan.”

Meski demikian, tantangan jangka panjang tetap nyata. Kepala pemasaran AI Microsoft Jared Spataro menyatakan, “Laju pertumbuhan penggunaan Copilot saat ini tidak pernah kami lihat sebelumnya pada produk Microsoft 365 mana pun, dan ini menunjukkan minat pasar yang terus meningkat.” Namun tanpa perbaikan pengalaman lintas aplikasi dan kemandirian model AI, Copilot berisiko terus tertinggal dalam perlombaan global, bukan karena kurang investasi, melainkan karena kepercayaan pengguna belum sepenuhnya dimenangkan.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Laptop 2-in-1 Modern dengan RAM 16GB LPDDR5X!

9 Februari 2026

Gahar dan Berwibawa! Honda Vario 125 CBS ISS 2025 Warna Hitam Matte, Harga Masih Aman di Februari

9 Februari 2026

Jadwal peluncuran Infinix Note 60 Pro di Indonesia

9 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Laptop 2-in-1 Modern dengan RAM 16GB LPDDR5X!

9 Februari 2026

Gahar dan Berwibawa! Honda Vario 125 CBS ISS 2025 Warna Hitam Matte, Harga Masih Aman di Februari

9 Februari 2026

Jadwal peluncuran Infinix Note 60 Pro di Indonesia

9 Februari 2026

Belajar AI Sederhana, BAIK Festival Telkomsel Tingkatkan Keterampilan Digital Pelajar Jambi

9 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?