Penjelasan Pemerintah Mengenai “Super Flu” dan Risiko yang Dihadapi
Beberapa waktu lalu, kabar mengenai kematian seorang pasien dengan dugaan influenza A (H3N2) atau yang lebih dikenal sebagai “super flu” di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung sempat memicu kekhawatiran publik. Namun, pihak pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa kasus tersebut tidak sepenuhnya disebabkan oleh virus flu itu sendiri. Sebaliknya, penyebab utama kematian adalah kondisi kesehatan penyerta atau komorbid yang dialami oleh pasien tersebut.
Virus Influenza A (H3N2) Bukanlah Ancaman Besar
Menurut informasi yang diberikan oleh Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, influenza A (H3N2) merupakan virus yang sudah dikenal sejak lama. Meskipun memiliki tingkat penularan yang tinggi, tingkat kematian dari virus ini sangat rendah. Ia menjelaskan bahwa bagi individu dengan sistem imun yang kuat, virus ini biasanya bisa diatasi tanpa mengakibatkan komplikasi serius.
“Ini virus yang lama, bukan yang baru. Sebenarnya asal badan sehat harusnya bisa diatasi oleh sistem imun sendiri. Fatality rate-nya ini rendah sekali. Yang tinggi itu penularannya, penyebarannya tinggi,” jelas Budi dalam konferensi pers daring di Jakarta.
Faktor Risiko pada Kelompok Tertentu
Meski tingkat kematian dari virus ini rendah, terdapat kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi jika terinfeksi. Hal ini termasuk lansia, pasien dengan penyakit kronis, atau individu dengan komorbid tertentu. Menurut Budi, varian virus yang beredar saat ini memiliki kemampuan penularan yang sangat cepat, namun tidak mematikan bagi kebanyakan orang.
“Yang varian K ini penyebarannya sangat cepat, tapi dia lemah sebenarnya dari fatality rate-nya. Nah, kenapa yang Bandung ada yang meninggal? Karena ada penyakit penyertanya,” tambahnya.
Penjelasan dari Pihak Rumah Sakit
Sebelumnya, seorang pasien dengan gejala yang dikaitkan dengan super flu dilaporkan meninggal dunia di Bandung pada Jumat (9/1/2026). Peristiwa ini sempat memunculkan kekhawatiran akan bahaya virus tersebut. Namun, pihak rumah sakit menegaskan bahwa penyebab utama kematian adalah komorbid yang parah yang dialami oleh pasien tersebut.
Dikutip dari Tribun Jabar, Ketua Tim Pinere RSHS Bandung dr. Yovita Hartantri menyampaikan bahwa kematian pasien tidak bisa langsung dikaitkan dengan infeksi virus influenza. Pasien diketahui memiliki sejumlah penyakit penyerta serius, seperti stroke, gagal jantung, infeksi berat, dan gagal ginjal.
“Apakah itu langsung disebabkan oleh virus? Kami tidak bisa menyatakan, karena komorbidnya banyak,” ujar dr. Yovita.
Hal senada disampaikan Direktur Medik dan Keperawatan RSHS Bandung dr. Iwan Abdul Rachman. Ia menjelaskan bahwa super flu pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan influenza musiman, namun memiliki tingkat penularan yang lebih cepat dan berpotensi menimbulkan gejala lebih berat pada kelompok rentan.
Imbauan Pemerintah untuk Masyarakat
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menjaga daya tahan tubuh. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala flu berat, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit penyerta.



