Indonesiadiscover.com.CO.ID – JAKARTA.
Kinerja perusahaan-perusahaan dalam Grup Merdeka terlihat mengalami penurunan pada tahun 2025, yang disebabkan oleh transisi bisnis yang sedang berlangsung. Meskipun demikian, ada peluang untuk perbaikan kinerja di masa depan jika proyek-proyek yang sedang dikembangkan mulai beroperasi secara penuh.
Sebagai contoh, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mencatat penurunan pendapatan sebesar 15,63% year on year (yoy) menjadi US$ 1,89 miliar pada 2025. Rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk MDKA juga meningkat sebesar 11,30% yoy menjadi US$ 62,06 juta.
Anak usaha MDKA, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), juga mengalami penurunan pendapatan sebesar 22,28% yoy menjadi US$ 1,43 miliar. Namun, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk MBMA justru tumbuh sebesar 29,76% yoy menjadi US$ 29,56 juta.
Sementara itu, PT Merdeka Gold Materials Tbk (EMAS), anak usaha lainnya dari MDKA, mengalami penurunan pendapatan sebesar 92,46% yoy menjadi US$ 131.964 dan rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat sebesar 116,46% yoy menjadi US$ 27,49 juta.
Presiden Direktur Merdeka Copper Gold, Albert Saputro, menyatakan bahwa sepanjang 2025, Grup Merdeka terus memperkuat fondasi bisnis melalui peningkatan skala operasi dan pengembangan proyek strategis. Dengan kemajuan signifikan di seluruh proyek dan kontribusi yang semakin kuat dari entitas anak usaha, mereka optimistis akan melanjutkan momentum pertumbuhan dan menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan.
Dari sisi operasional, Tambang Emas Tujuh Bukit milik MDKA mampu menghasilkan 103.156 ounces emas pada 2025. EMAS juga mencatat kemajuan signifikan dalam pengembangan operasi tambang dan fasilitas pengolahan Tambang Emas Pani.
Memasuki tahun 2026, EMAS menargetkan produksi 100.000–115.000 ounces emas, selain produksi berkelanjutan dari Tambang Emas Tujuh Bukit sebesar 80.000–90.000 ounces.
Di segmen nikel, MBMA melalui PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) berhasil memproduksi saprolit sekitar 7 juta wet metric tonnes (wmt) dan limonit sekitar 14,7 juta wmt. Proyek Acid Iron Metal (AIM) yang dioperasikan oleh anak usaha MBMA, yaitu PT Merdeka Tsingshan Indonesia, berada pada jalur yang tepat untuk mencapai produksi penuh. Pengembangan smelter High Pressure Acid Leach (HPAL) dari anak usaha MBMA lainnya, PT Sulawesi Nickel Cobalt, juga terus berjalan sesuai jadwal dengan commissioning lini produksi pertama pada pertengahan 2026.
Untuk 2026, MBMA akan meningkatkan produksi bijih saprolit menjadi 8–10 juta wmt, sementara produksi bijih limonit ditargetkan di kisaran 20–25 juta wmt. MBMA juga memperkirakan adanya efisiensi biaya lebih lanjut seiring dengan peningkatan pasokan SCM hingga mencapai swasembada bijih saprolit 100% untuk ketiga pabrik Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) perusahaan pada 2026.
Kontribusi dari segmen tembaga tetap stabil dengan Tambang Tembaga Wetar yang konsisten menghasilkan arus kas sepanjang 2025. Proyek Tembaga Tujuh Bukit terus mencatat kemajuan yang memperkuat visibilitas pengembangan jangka panjang sebagai salah satu proyek tembaga-emas berskala besar yang belum dikembangkan secara global.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyatakan bahwa penurunan kinerja MDKA, MBMA, dan EMAS bukan hanya disebabkan oleh proyek-proyek yang belum menghasilkan, melainkan juga kombinasi faktor operasional dan beban ekspansi yang besar.
Dalam hal ini, kinerja MDKA sebagai induk Grup Merdeka tertekan akibat pergeseran fokus ke operasi Nickel Pig Iron (NPI), produksi tembaga yang lebih rendah seiring berakhirnya umur Tambang Tembaga Wetar, dan kegiatan pemeliharaan fasilitas NPI.
Selanjutnya, EMAS mencatat kenaikan rugi bersih seiring meningkatnya beban administrasi dan beban keuangan untuk mendukung pengembangan proyek Emas Pani yang belum berproduksi sepanjang 2025. “Tetapi, MBMA justru menjadi pengecualian dengan laba bersih tumbuh positif berkat efisiensi biaya yang konsisten,” kata dia.
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai bahwa pelemahan kinerja Grup Merdeka lebih mencerminkan fase transisi bisnis dibandingkan penurunan fundamental yang permanen.
Proyeksi Tahun 2026
Prospek Grup Merdeka diyakini mulai memasuki fase yang lebih konstruktif. Untuk MDKA, katalis utama datang dari potensi operasional Tambang Emas Pani melalui EMAS yang jika berjalan sesuai lini masa dapat menjadi game changer karena proyek tersebut memberikan pendapatan berulang (recurring income) berbasis emas dengan margin tinggi. MBMA juga akan sangat diuntungkan jika strategi hilirisasi nikel dari bahan baku hingga smelter mulai mencapai skala ekonomi yang efisien.
Meskipun tren pelemahan harga emas dalam jangka pendek bisa menjadi sentimen negatif, dalam konteks global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan potensi penurunan suku bunga acuan The Fed, emas justru berpeluang kembali menarik sebagai safe haven.
“Artinya, downside risk terbatas, sementara upside tetap terbuka,” imbuh Hendra.
Senada, Abida menyebut tahun 2026 akan menjadi titik balik krusial bagi emiten Grup Merdeka. Untuk itu, baik MDKA, MBMA, maupun EMAS harus fokus pada efisiensi biaya, percepatan penyelesaian proyek strategis, dan deleveraging untuk mengurangi beban bunga yang selama ini menggerus laba bersih.
“EMAS perlu memastikan ramp-up produksi Pani berjalan sesuai jadwal agar segera memberi kontribusi positif ke bottom line,” tutur dia.
Dari sisi investasi, Hendra menyebut bahwa pendekatan terbaik untuk Grup Merdeka tetap berbasis timing yang selektif. Secara teknikal, MDKA direkomendasikan speculative buy dengan target harga di level Rp 3.600 per saham. EMAS juga direkomendasikan speculative buy dengan target harga di level Rp 9.000 per saham.
Sebaliknya, saham MBMA disarankan trading buy dengan target harga di level Rp 855 per saham.



