Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 30 Maret 2026
Trending
  • Penjualan dan Laba AMMN Menurun di 2025, Ini Penyebabnya
  • Mampukah Jadi Foldable Multi-Day? Samsung Galaxy Z Fold 8 Siap Lompat ke 5.000mAh
  • Tersangka Pembunuhan Dokter di Gayo Luas Ternyata Tetangga Korban yang Sudah Menikah dan Memiliki Anak
  • Rudy Mas’ud: 30 Persen Warga Kaltim Turunan Sulsel, Ajak Pengusaha Berperan di IKN
  • 3 Tempat Nobar Timnas Indonesia vs Saint Kitts dan Nevis di Tasikmalaya, Sambil Ngopi
  • 10 destinasi wisata Bogor hemat, indah, tiket di bawah Rp50 ribu
  • 5 Wisata Gratis di Surabaya untuk Liburan Hemat dan Seru
  • 5 Zodiak Beruntung dengan Ramalan Bintang Terbaik Pekan Ini
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Mengapa Demonstrasi di Iran Kini Berbeda?
Nasional

Mengapa Demonstrasi di Iran Kini Berbeda?

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover16 Januari 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Rangkaian Demonstrasi Anti-Pemerintah di Iran



Rangkaian demonstrasi anti-pemerintah di Iran telah mencapai tahap yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah 47 tahun Republik Islam tersebut, menurut sejumlah pakar dan saksi mata. Saat sebagian masyarakat turun ke jalan di berbagai kota di Iran, Presiden AS Donald Trump mengancam bakal “menyerang dengan sangat keras ke titik terlemah” jika pihak otoritas Iran menindak para demonstran. Trump menambahkan, AS “siap membantu”. Pihak berwenang Iran bersumpah bakal menyerang sekutu dan kepentingan AS di kawasan tersebut.

Lantas, apa yang membedakan rangkaian demonstrasi ini—dan respons pemerintah Iran terhadap unjuk rasa tersebut—dengan berbagai aksi protes sebelumnya di negara itu?

Jangkauan yang Meluas



Sejumlah pakar meyakini skala dan penyebaran demonstrasi tahun ini belum pernah terjadi sebelumnya. Peneliti sosiologi, Eli Khorsandfar, menuturkan gelombang demonstrasi memang telah berlangsung di kota-kota besar Iran. Namun, aksi protes juga merembet ke kota-kota kecil, yang namanya mungkin belum pernah didengar banyak orang.



Iran pernah mengalami hal serupa sebelumnya. Gerakan Hijau pada 2009 mendorong kelas menengah angkat suara untuk memprotes dugaan kecurangan pemilu. Meskipun skalanya besar, aksi tersebut hanya berpusat di kota-kota besar. Demonstrasi besar lainnya pada 2017 dan 2019 terbatas pada daerah-daerah miskin.



Protes terbaru yang sebanding adalah pada 2022, kala demonstrasi meletus setelah Mahsa Amini meninggal dunia di dalam tahanan. Perempuan berusia 22 tahun itu ditangkap polisi moral Iran karena cara dia mengenakan jilbab. Aksi protes dengan cepat meningkat setelah kematian Amini, namun mencapai puncaknya setelah enam hari, menurut berbagai laporan. Sebaliknya, demonstrasi saat ini tampak lebih besar, lebih luas, dan terlihat lebih konsisten sejak pertama kali dimulai pada 28 Desember 2025.

Matilah Diktator!

Seperti aksi protes pada 2022, rangkaian demonstrasi saat ini berakar pada keluhan spesifik yang segera berubah menjadi seruan perubahan sistemik yang mendalam. “Gerakan tahun 2022 dimulai dengan isu perempuan. Tetapi keluhan lain juga tercermin di dalamnya… Protes pada Desember 2025 diawali dengan isu-isu yang tampaknya bersifat ekonomi dan, dalam waktu yang sangat singkat, membawa pesan bersama,” kata Khorsandfar.

Pada akhir Desember 2025, para pedagang pasar melakukan pemogokan di jantung ibu kota Teheran, sebagai tanggapan atas fluktuasi tajam nilai tukar mata uang rial Iran terhadap dolar AS. Aksi protes rupanya menyebar ke wilayah-wilayah termiskin di barat negara itu. Seperti pada 2022, provinsi Ilam dan Lorestan termasuk di antara pusat demo.

Apa yang Sejauh Ini Diketahui tentang Unjuk Rasa di Iran?

Wasit dan mahasiswa termasuk di antara ratusan korban tewas dalam demonstrasi di Iran. Siapa Reza Pahlavi, putra mahkota Shah Iran yang diasingkan? Menjelang akhir Desember 2025, pawai yang melibatkan ribuan orang terjadi ketika ratusan warga Iran—bahkan kelas menengah—menghadapi krisis ekonomi yang parah dan kenaikan harga-harga yang cepat. Sejak itu, orang-orang yang berpawai di jalanan meneriakkan “Matilah diktator!” Mereka menuntut penggulingan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan rezim yang dipimpinnya.

Reza Pahlavi

Demonstrasi pada 2022 tampaknya tanpa pemimpin. Karena itu, aksi tersebut segera mereda. Demo saat ini memiliki tokoh-tokoh—beberapa di antaranya seperti Reza Pahlavi, putra dari Shah Iran yang digulingkan pada 1979—yang mencoba membentuk atau memimpin demonstrasi dari jauh. Hal itu mungkin menjelaskan mengapa demonstrasi kali ini bertahan lebih lama. Dalam protes saat ini, seruan agar Pahlavi kembali ke Iran terdengar lebih sering daripada sebelumnya.



Pahlavi menyatakan dirinya sebagai Shah Iran ketika berada di pengasingan di AS. Seruannya agar orang-orang berteriak di jalanan telah disebarluaskan oleh banyak orang. Kaum muda di media sosial di Iran juga secara tidak langsung saling mendorong untuk bergabung dalam demonstrasi. Skala protes baru-baru ini di kota-kota seperti Teheran membuktikan efektivitas seruan Pahlavi.

Para analis mengatakan bahwa imbas dari kehadiran tokoh oposisi terkenal tampaknya telah memperkuat keyakinan sebagian demonstran bahwa ada alternatif yang masuk akal jika pemerintah saat ini jatuh. Yang lain berpendapat dukungan apa pun untuk Pahlavi tidak selalu merupakan keinginan untuk kembalinya monarki. Sebaliknya, itu adalah ekspresi keputusasaan untuk alternatif apa pun selain pemerintahan ulama, terutama karena tidak adanya tokoh oposisi sekuler yang terlihat di dalam negeri.

Ancaman Trump untuk Campur Tangan



Faktor lain yang membedakan protes tahun 2025, bahkan dari protes tahun 2022, adalah Amerika Serikat. Demonstrasi tahun ini, tidak seperti aksi protes sebelumnya, yang kelihatan mendapatkan dukungan dari Gedung Putih. Trump sebelumnya mengancam akan menyerang posisi pemerintah, sebagai bentuk dukungan terhadap demonstran—sesuatu yang belum pernah terjadi.

Selama gerakan protes tahun 2009 terkait dugaan kecurangan dalam pemilihan presiden, para demonstran meneriakkan, “Obama, Obama, bersama mereka atau bersama kami!” Mantan Presiden AS, Barack Obama, yang menjabat pada 2009, kemudian menyatakan penyesalannya karena tidak mendukung demonstran di jalanan secara lebih nyata pada waktu itu. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan demonstrasi tersebut dimanipulasi oleh “musuh-musuh Iran”. Tapi, masalahnya adalah negaranya punya lebih banyak musuh ketimbang teman dalam beberapa tahun terakhir.

Warisan Perang

Pemerintah Iran telah kehilangan sekutu-sekutu penting: Bashar al-Assad telah digulingkan sebagai presiden Suriah dan Hizbullah di Lebanon juga sudah melemah secara signifikan akibat aksi militer Israel.



Warisan perang Tidak seperti demonstrasi pada 2022, protes tahun ini terbentuk tidak lama setelah perang 12 hari dengan Israel, dan kemudian serangan AS dan Israel terhadap Iran. Jurnalis Abbas Abdi percaya insiden-insiden itu bisa menciptakan peluang bagi otoritas Iran untuk membangun semacam solidaritas dan kohesi di antara masyarakat, tetapi pemerintah gagal memanfaatkannya. Beberapa pakar juga berpendapat pukulan berat terhadap militer dalam setahun terakhir telah menghancurkan aura dan prestise Korps Garda Revolusi Islam sebagai lembaga militer utama negara di mata rakyat Iran.

Terinspirasi dari semangat demonstrasi tahun 2022, Khorsandfar melihat pergeseran aksi yang berkelanjutan dalam aksi protes saat ini: dalam wawancara dengan perempuan yang turun ke jalan tiga tahun lalu, banyak yang mengatakan kepadanya bahwa pencapaian terbesar mereka adalah menghilangkan rasa takut mereka terhadap negara yang represif.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Penjualan dan Laba AMMN Menurun di 2025, Ini Penyebabnya

30 Maret 2026

Rudy Mas’ud: 30 Persen Warga Kaltim Turunan Sulsel, Ajak Pengusaha Berperan di IKN

29 Maret 2026

10 destinasi wisata Bogor hemat, indah, tiket di bawah Rp50 ribu

29 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Penjualan dan Laba AMMN Menurun di 2025, Ini Penyebabnya

30 Maret 2026

Mampukah Jadi Foldable Multi-Day? Samsung Galaxy Z Fold 8 Siap Lompat ke 5.000mAh

29 Maret 2026

Tersangka Pembunuhan Dokter di Gayo Luas Ternyata Tetangga Korban yang Sudah Menikah dan Memiliki Anak

29 Maret 2026

Rudy Mas’ud: 30 Persen Warga Kaltim Turunan Sulsel, Ajak Pengusaha Berperan di IKN

29 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?