Aksi Panenka Mbappé yang Memicu Kontroversi
Gol penalti Kylian Mbappé yang dilakukan dengan gaya Panenka ke gawang Villarreal seharusnya menjadi momen yang dinikmati oleh seluruh penggemar sepak bola. Namun, aksi tersebut justru memicu perdebatan dan kritik dari berbagai pihak.
Dalam pertandingan tersebut, Real Madrid unggul 1-0 setelah Mbappé mencetak gol jarak dekat. Di masa tambahan waktu, sang bintang Prancis kembali menjadi sorotan ketika ia memenangkan penalti. Ia bangkit, membersihkan diri, lalu mengeksekusi penalti dengan gaya Panenka yang tenang, mengecoh kiper Villarreal dengan bola melambung ke tengah gawang.
Usai mencetak gol, Mbappé berlari ke sudut lapangan dan merayakannya dengan gestur tangan yang menirukan lintasan penalti. Brahim Díaz, yang baru masuk sebagai pemain pengganti di 10 menit akhir, ikut berada di sekitar sang pencetak gol. “Untukmu, untukmu,” teriak Mbappé ke arah Brahim. Setelah laga, ia menegaskan bahwa gestur tersebut dilakukan “sebagai penghormatan” bagi rekan setimnya yang sedang terluka.
Patah Hati Brahim Díaz
Beberapa hari sebelumnya, Brahim Díaz mengalami salah satu momen paling menyakitkan dalam kariernya. Maroko hampir meraih gelar Piala Afrika pertama dalam 50 tahun saat wasit menunjuk titik penalti di menit-menit akhir final melawan Senegal. Brahim, yang mendapat penalti tersebut, harus menunggu lebih dari 15 menit karena protes panjang dari kubu lawan.
Penundaan itu terbukti fatal. Ketika laga dilanjutkan, Brahim mengeksekusi penalti dengan gaya Panenka, namun bola melambung lemah dan langsung ditangkap kiper Senegal. Kegagalan itu terasa begitu menyakitkan, sampai memunculkan berbagai spekulasi tak masuk akal di ruang publik. Setelah laga, Brahim terlihat terpukul. Ia menerima penghargaan pencetak gol terbanyak turnamen dengan air mata, lalu menyampaikan permintaan maaf lewat media sosial.
“Hatiku sakit,” tulisnya. “Aku memimpikan gelar ini berkat semua cinta yang telah kalian berikan kepadaku, setiap pesan, setiap dukungan yang membuatku merasa tidak sendirian. Aku berjuang dengan segenap kekuatanku, terutama dengan hatiku. Kemarin aku gagal, dan aku bertanggung jawab penuh serta meminta maaf dari lubuk hatiku.”
Nasib seakan belum selesai mengujinya. Laga pertamanya kembali bersama Real Madrid justru menghadapkan Brahim dengan Villarreal yang diperkuat Pape Gueye, pencetak gol kemenangan Senegal di final AFCON. Sementara Gueye mendapat aplaus sebelum kick-off, Brahim hanya bisa menyaksikan dari bangku cadangan.
Mbappé Dikritik Fans
Tidak semua orang memahami niat baik Mbappé. Pengamat sepak bola Walid Acherchour menjadi salah satu yang paling vokal mengkritik gestur sang penyerang. “Saya merasa itu menyedihkan,” katanya. “Ini seperti jika besok saya ingin membeli Ferrari tetapi tidak punya cukup uang, dan keesokan harinya teman saya yang disebut-sebut itu pergi dan membelinya, lalu datang kepada saya dan berkata, ‘Lihat, beginilah cara membeli Ferrari…’”
Ia melanjutkan dengan analogi lain yang tak kalah pedas. “Atau begini: aku putus sama pacar, aku nggak bisa mempertahankannya, dan keesokan harinya kamu telepon aku, bilang kamu pacaran sama dia dan bilang, ‘Begini caranya…’ Jujur, jangan punya teman seperti itu.” Acherchour memang dikenal kerap mengkritik Mbappé, dan kali ini ia kembali menyoroti kecenderungan sang bintang untuk selalu berada di pusat perhatian.
“Mbappé terlalu ingin menjadi tokoh utama di setiap film,” ujarnya. “Ini bukan ceritamu, Kylian. Biarkan orang-orang mengatasi rasa sakit mereka—aku benar-benar tidak mengerti. Apakah kamu benar-benar berpikir Brahim Díaz akan pulang dan berkata, ‘Kylian membuatku melupakan segalanya dengan gesturnya, dia menunjukkan kepada semua orang bagaimana mencetak gol Panenka’?”



