Krekkk! Suara reseleting terbuka. Entah sudah berapa kali aku membuka reseleting tas. Sambil kepalaku menimbang, sambil tanganku bergerak memasukkan perintilan kecil yang kuperlukan.
“Mau nongkrong saja, sudah kayak pulang kampung!” gerutuku. Kututup lagi reseleting tas ransel itu. Setelah semua beres. Aku mendesah. Mengamati diam-diam tas ransel hitam di depanku.
Tas itu kecil. Mungkin hanya ukurannya hanya 10 liter saja. Namun, entah sejak kapan perkara tas ini jadi penting-penting amat untukku. Lalu telepon berdering. Suami sudah memanggil.
Perkara Tas yang Tak Mudah
Aku mengambil jam tangan di atas meja rias. Melingkarkannya di pergelangan tangan. Lalu, mengambil tas ransel di atas ranjang di belakang meja rias. Siap berangkat ke sebuah cafe dekat kantor suami untuk makan siang bersama.
Di depan gang rumah, aku mengamati orang-orang berlalu lalang. Tentu saja memperhatikan di apa yang ada di balik punggung atau di samping bahu. Rasanya menunggu tanpa melakukan sesuatu adalah hal yang sulit. Jadi tentu saja pikiranku mengembara.
Rasa-rasanya sejak sekolah, mau SD sampai kuliah, ransel selalu menjadi tas yang paling nyaman dipakai. Dan sesungguhnya, bisa dibilang aku tak terlalu mengikuti fashion atau beragam OOTD seperti kawan-kawan perempuanku. Saat itu yang kukenal hanya ransel, karena kakak-kakakku hanya menggunakan tas bernama ransel kemana pun.
Ketika aku bekerja di sebuah perusahaan, ada seorang teman, sebut saja dia Arum. Teman dekatku itu selalu tak mudah memilih tas hanya untuk nongkrong. “Rum, ayo berangkat!” seruku dari depan kamar kostnya.
“Tunggu, aku bingung milih tas nih,” jawabnya sambil tangannya bergonta-ganti mengambil tas jinjing. Aku menggeleng.
“Apa lagi yang kau timbang? semua warna cocok buatmu,” sahutku kesal.
“Nggak bisa beibh! Harus cocok sama bajuku,” katanya. Meski kutahu isi tasnya hanya dompet, ponsel, lipstik dan bedak.
Aku mendesah. Lalu suara motor mendekat ke arahku.
“Mbak Dinda,” sapa bapak-bapak ojek. Aku mengangguk. Tak lama motor melaju membawa ingatan itu.
Pembicaraan Absurb di Atas Meja Kopi
Suamiku sudah menunggu di meja nomor delapan belas. Letaknya di pojok tersudut. Jauh dari keramaian di bagian tengah kedai kopi itu. Jam analogku menunjukkan pukul dua belas lebih delapan menit. Setidaknya tidak lewat dari jam makan siang.
Ia melambai padaku. Dan pembicaraan absurd terjadi setelahnya dalam beberapa menit setelah memesan makanan.
“Apa kau tak mau cari tas baru?” tanya suamiku. Entah sudah berapa kali ia menanyakan perkara tas itu padaku. Yang selalu aku jawab dengan gelengan.
“Padahal isi tasmu hanya buku, dompet, ponsel, tumblr, dan power bank,” katanya, “apa nggak mau coba pakai tas bahu?”
“Jangan lupa tas ranselku ini nggak cuma itu isinya,” sahutku sambil nyengir. Aku mengeluarkan isi di dalam saku depan. Perintilan kecil yang sering jadi masalah jika aku tak membawanya.
Kresek kecil untuk wadah sampah dadakan; pembalut kalau si tamu datang tak di waktu yang tepat; kunci serep rumah; notes untuk coret-coret; pena; lalu ada sticky note untuk buku bacaan. Aku menjelaskan itu satu-satu pada suamiku.
Ia melongo dan lucunya meski kami hidup bersama sepuluh tahun. Ia tak pernah sekalipun mengorek-ngorek tasku. Sekali lagi aku ingin tertawa geli melihat ekspresi mukanya.
“Tas ransel ini ringkas. Bisa buat keadaan apapun, termasuk bawa nasi kotak dari kondangan,” aku menambahkan, “lagipula tas ini masih bagus. Aku hanya tak ingin menghabiskan waktu untuk repot memikirkan warna apa yang cocok, tas apa yang cocok untuk tujuan pergi. Terlalu rumit.” Aku menggeleng.
Pramusaji membawakanku french fried, burger daging, sepiring nasi goreng dan dua gelas americano. Pembicaraan absurd pun terjeda dan terlupa. Mungkin saja.



