Robert Moreno, mantan pelatih tim nasional Spanyol, kini tengah menjadi perbincangan. Saat menjabat sebagai pelatih FC Sochi di Rusia, ia dituduh terlalu bergantung pada kecerdasan buatan (AI) ChatGPT dalam mengambil keputusan penting di lapangan.
Namun, Moreno membantah tudingan tersebut melalui pernyataan resmi yang jauh berbeda dari klaim mantan rekan kerjanya. Informasi ini pertama kali muncul dari pernyataan mantan Direktur Olahraga FC Sochi, Andrei Orlov. Menurutnya, Moreno dianggap kehilangan akal sehat karena menerima saran dari ChatGPT tanpa seleksi.
Salah satu insiden yang mencuri perhatian adalah rencana perjalanan tim ke Khabarovsk pada Maret 2025. Orlov mengklaim bahwa Moreno mempresentasikan jadwal yang dibuat oleh AI, di mana para pemain dilarang tidur selama 28 jam agar sesuai dengan parameter perjalanan. Selain itu, para pemain disebut tidak puas karena dipaksa bangun pukul lima pagi untuk berlatih pukul tujuh pagi. “Para pemain tidak mengerti mengapa kami harus bangun jam lima pagi untuk berlatih pada jam tujuh,” kata Orlov.
Kebijakan transfer klub juga disebut-sebut terpengaruh oleh AI. Moreno diduga merekrut striker Artur Shushenachev berdasarkan rekomendasi algoritma ChatGPT, meski akhirnya sang pemain gagal mencetak gol dalam 10 laga dan dijual kembali. “Pada akhirnya, kelompok pemain inti asal Rusia sangat tidak senang dengan Moreno, dan para pemain asing pun tidak lagi memercayai ide-idenya,” kata Orlov.
Menanggapi isu yang beredar luas, Robert Moreno akhirnya angkat bicara untuk memulihkan nama baiknya. Ia dengan tegas membantah semua tuduhan Orlov dan menyebutnya sebagai informasi bohong yang didasari sentimen pribadi. Moreno menjelaskan bahwa hubungannya dengan Orlov memang sudah memburuk akibat perbedaan pandangan sebelum sang direktur meninggalkan klub.
“Saya tidak pernah menggunakan ChatGPT atau AI apa pun untuk menyiapkan pertandingan, menyusun line up, atau memilih pemain. Itu sepenuhnya salah,” tegas Moreno.
Terkait penggunaan ChatGPT, Moreno memberikan klarifikasi. Ia mengaku memang menggunakan aplikasi itu hanya sebatas alat bantu penerjemah bahasa dari Spanyol ke Rusia. Sebab, sang pelatih belum menguasai bahasa setempat. Menurut Moreno, hal itu murni untuk komunikasi teknis, bukan pengambilan keputusan taktis.
“Dalam beberapa kesempatan langka, saya menggunakannya untuk menerjemahkan bahasa Rusia ke Spanyol, bahasa yang belum saya kuasai. Namun, hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan keputusan olahraga,” jelas Moreno.
Mengenai perekrutan Shushenachev yang dianggap gagal, Moreno menyatakan bahwa pemilihan pemain itu merupakan hasil kerja kolektif departemen pemandu bakat (scouting) dan staf medis klub, bukan perintah AI. “Perekrutan yang mereka maksud merupakan proses klub yang telah disepakati direktur olahraga dan seluruh staf medis. Pemain itu sempat mencetak gol di piala domestik, tetapi mengalami cedera yang mengganggu konsistensi bermain, sebagaimana yang bisa terjadi di klub mana pun,” jelas Moreno.
Moreno menegaskan bahwa kepergiannya dari FC Sochi pada September 2025 merupakan hasil kesepakatan bersama (mutual agreement), bukan pemecatan sepihak akibat ChatGPT. “Itu bukan sebuah pemecatan, melainkan kesepakatan bersama dengan dewan direksi klub menyusul hasil pertandingan yang buruk,” tandas Moreno.
Sebagai pelatih yang memulai karirnya sebagai analis data dan video, Moreno tidak memungkiri menggunakan perangkat modern seperti GPS dan platform Wyscout. Namun, Moreno menyatakan bahwa keputusan akhir dalam sepak bola selalu berada di tangan manusia. “Seperti halnya staf pelatih profesional lain, kami menggunakan alat analisis, seperti GPS, Wyscout, video, hingga platform pemantauan pemain (scouting). Teknologi memang membantu memproses informasi lebih cepat, tetapi keputusan olahraga tetap sepenuhnya diambil oleh staf pelatih,” ucap Moreno.



