FIFA akhirnya mengambil langkah penting terkait skorsing tujuh pemain keturunan palsu asal Malaysia. Keputusan ini diambil setelah Pengadilan CAS (Court of Arbitration for Sport) memerintahkan penangguhan sementara terhadap larangan tersebut. Dengan demikian, FIFA juga menyarankan anggotanya untuk mencabut larangan skorsing selama 12 bulan terhadap para pemain tersebut.
Namun, pencabutan larangan ini bersifat sementara dan hanya berlaku hingga Pengadilan CAS memberikan putusan akhir atas banding yang diajukan oleh Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM). Hal ini menunjukkan bahwa proses hukum masih berlangsung dan keputusan akhir belum sepenuhnya ditetapkan.
Menurut Pekan Ramli, hal ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan karena aturan dasar dalam sistem peradilan sepak bola biasanya menyatakan bahwa penangguhan sanksi diberikan selama proses banding berlangsung. Ini bukanlah tindakan istimewa bagi ketujuh pemain tersebut, melainkan bagian dari mekanisme standar yang diterapkan di seluruh dunia.
Pekan Ramli menjelaskan bahwa Pengadilan CAS bertindak benar dengan memutuskan bahwa para pemain tidak boleh dikenai sanksi skorsing sebelum banding mereka sepenuhnya dipertimbangkan. Menurutnya, profesi sebagai pemain sepak bola adalah mata pencaharian utama bagi para pemain tersebut, sehingga tindakan seperti skorsing dapat memiliki dampak besar terhadap hidup mereka.
“Bukan berarti tindakan FIFA salah, tetapi sedikit menyimpang dari proses hukum standar,” ujar Datuk Pekan Ramli. “Kita perlu melihat masalah ini secara lebih luas karena setiap keputusan memiliki tahapan tertentu sebelum putusan akhir tercapai.”
Ia juga menyadari bahwa FIFA seharusnya belum memberikan sanksi skorsing, tetapi sudah tepat dengan menjatuhkan denda. Namun, ia memperingatkan agar Malaysia dan para pemain jangan terlalu cepat bersuka cita dengan penangguhan skorsing ini.
“Jika hukumannya berupa denda terlebih dahulu, itu tidak akan menjadi masalah,” katanya lagi. “Tetapi menghalangi mata pencaharian mereka sementara prosesnya belum selesai adalah sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.”
Pekan Ramli menilai ada risiko besar yang harus ditanggung di akhir putusan nanti, terutama jika Malaysia nekat memanggil para pemain tersebut ke timnas. Jika hal itu dilakukan dan ternyata Pengadilan CAS menolak banding FAM, maka siap-siap menerima kenyataan yang lebih memalukan.
Saran bijak dari Pekan Ramli kepada klub maupun tim nasional adalah mempertimbangkan konsekuensinya dengan cermat. Mereka juga harus mencatat bahwa keputusan yang merugikan dapat mengakibatkan dampak buruk terhadap reputasi dan daya saing.
“Untuk saat ini, mereka diizinkan bermain, dan di level klub tidak ada masalah jika tim memilih untuk menurunkan mereka,” kata Pekan Ramli lagi. “Apakah kita siap mengambil risiko itu di level nasional? Jika keputusan akhir merugikan mereka, situasi ini bisa terulang dan menjadi lebih memalukan,” pungkasnya.
Agenda terdekat Timnas Malaysia adalah laga pamungkas Kualifikasi Piala Asia 2027 melawan Vietnam pada Maret mendatang. Pertanyaannya sekarang adalah apakah Malaysia akan nekat memanggil tujuh pemain naturalisasi keturunan palsu atau justru mengabaikan mereka. Hal ini akan menjadi momen penting yang akan menentukan arah keputusan akhir dalam kasus ini.



