Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 18 Februari 2026
Trending
  • Motor matic 2026: BeAT tetap unggul, Nmax dan hybrid jadikan persaingan semakin sengit!
  • Aturan Mudik 2026: One Way, Contra Flow, dan Ganjil Genap
  • Eks Kapolres Bima Kota Jadi Tersangka, Polisi Temukan Sekoper Narkoba, Bandar E Diburu
  • Menteri Pangan: Swasembada Turunkan Harga Beras Dunia
  • Nkunku Bantah Isu Hengkang, Janji Tetap di AC Milan
  • Destinasi Imlek Terpopuler 2026 di Indonesia, Mulai Singkawang hingga Jogja
  • Ramalan Zodiak Leo Hari Ini: Finansial, Hoki, Karier, Kesehatan, Mobilitas, Cinta, dan Mental
  • Makna Sebenarnya Gong Xi Fa Cai dan Riwayat Tahun Baru Imlek di Indonesia
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Makna Sebenarnya Gong Xi Fa Cai dan Riwayat Tahun Baru Imlek di Indonesia
Nasional

Makna Sebenarnya Gong Xi Fa Cai dan Riwayat Tahun Baru Imlek di Indonesia

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover18 Februari 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Arti Sebenarnya dari “Gong Xi Fa Cai” dan Maknanya dalam Budaya Tionghoa

Banyak orang di Indonesia masih salah kaprah dalam memahami makna ucapan “gong xi fa cai”. Mereka mengira bahwa ucapan ini berarti “selamat Hari Raya Imlek”. Namun, sebenarnya arti dari “gong xi fa cai” adalah lebih luas. Secara harafiah, kata ini berarti “selamat mendapatkan lebih banyak kekayaan atau kemakmuran”. Dalam bahasa Kanton, “gong xi fa cai” diterjemahkan sebagai “Semoga Anda bahagia dan sejahtera”.

Kesejahteraan sendiri memiliki makna yang berbeda-beda bagi setiap individu. Bagi sebagian orang, kesejahteraan bisa berupa uang, kelancaran pekerjaan, kesehatan, atau hal-hal lainnya. Ucapan ini tidak hanya digunakan saat pergantian tahun, tetapi juga sering digunakan saat pergantian musim. Hal ini karena pada masa lalu, musim dingin di Tiongkok sangat ekstrem.

Dalam bahasa Mandarin, ucapan Tahun Baru Imlek yang paling umum adalah “xin nian hao”, yang secara langsung diterjemahkan sebagai “New Year Goodness”. Sementara itu, ucapan yang lebih formal adalah “Xin Nian Kuai Le”, yang berarti “New Year happiness” atau “Selamat Tahun Baru”. Kata “Kuai le” bermakna bahagia atau gembira, sedangkan “Xin nian” berarti tahun baru.

Contoh Ucapan Selamat Imlek Lainnya

Selain “Gong Xi Fa Cai”, terdapat beberapa ucapan selamat Imlek dalam bahasa Tiongkok dengan makna serupa, antara lain:

  • Xin Nian Kuai Le: Selamat Tahun Baru.
  • Guo Nian Hao: Selamat Tahun Baru.
  • Gong He Xin Xi: Selamat Tahun Baru.
  • Da Ji Da Li: Semoga mendapatkan keberuntungan besar.
  • Wan Shi Ru Yi: Semoga semua harapan dan impian dapat terpenuhi.
  • Shen Ti Jian Kang: Semoga sehat selalu.
  • Nian Nian You Yu: Semoga setiap tahun panennya melimpah.
  • Sui Sui Ping An: Semoga dijauhkan dari malapetaka.
  • Fu Gui Qian Shou: Semoga mendapatkan keberuntungan dan kemakmuran.
  • Ji Xia Yi Zheng: Semoga keberuntungan dan kemakmuran selalu menyertai kita.
  • Ji Xiang Ru Yi: Semoga keberuntungan selalu menyertai kita.

Sejarah Perayaan Imlek di Indonesia

Perayaan Imlek di Indonesia memiliki perjalanan yang cukup rumit. Pada masa Orde Baru, perayaan ini sempat dilarang dilakukan secara massal. Namun, ketika Presiden Gus Dur menjabat, aturan tersebut dihapus, dan masyarakat Tionghoa kembali diberikan ruang untuk merayakan Imlek secara terbuka.

Tahun Baru China merupakan sistem penanggalan lunar yang telah ditetapkan sejak Dinasti Han di Tiongkok. Menurut catatan sejarah, tradisi ini mulai dirayakan sekitar abad ke-5 Masehi sebagai bagian dari budaya masyarakat agraris Tiongkok. Tradisi ini kemudian menyebar ke Asia Tenggara, termasuk wilayah nusantara, melalui migrasi penduduk Tiongkok sejak abad ke-3 Masehi.

Migrasi tersebut memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan ekonomi dan sosial di Indonesia. Kehadiran komunitas Tionghoa turut memperkenalkan sistem kongsi, teknik kemaritiman, serta sistem moneter. Selain itu, mereka juga membawa teknik produksi dan budidaya komoditas seperti gula, padi, tiram, dan udang.

Perayaan Imlek juga ikut berkembang bersama komunitas Tionghoa yang menetap di Indonesia. Pada masa penjajahan Belanda, khususnya antara akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, komunitas Tionghoa berkembang pesat. Namun, kebijakan kolonial yang membatasi pergerakan masyarakat Tionghoa juga berdampak pada pengembangan budaya mereka.

Pemerintah kolonial Belanda bahkan melarang perayaan Imlek dengan alasan kekhawatiran akan kerusuhan antar-etnis. Situasi berubah ketika Jepang menduduki Indonesia. Pada masa pendudukan Jepang, perayaan Imlek diperbolehkan dan bahkan menjadi hari libur resmi. Keputusan ini tercantum dalam Keputusan Osamu Seirei No. 26 tanggal 1 Agustus 1943.

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah mulai membuat aturan terkait hari raya keagamaan. Pada masa Presiden Sukarno, Penetapan Pemerintah Nomor 2/UM/1946 mengatur hari-hari raya umat beragama. Dalam Pasal 4 peraturan tersebut, empat hari raya khusus bagi masyarakat Tionghoa, termasuk Imlek, diakui.

Namun, pengakuan ini tidak bertahan lama. Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 1953 tentang Penetapan Aturan Hari-Hari Libur membatalkan pengaturan sebelumnya. Sejak saat itu, Imlek tetap dirayakan, tetapi tidak lagi menjadi hari libur resmi.

Perubahan radikal terjadi pada masa Orde Baru di bawah rezim Soeharto. Pada 6 Desember 1967, Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang pembatasan agama, kepercayaan, dan adat istiadat China dikeluarkan. Melalui kebijakan ini, seluruh upacara keagamaan dan budaya Tionghoa hanya boleh dilakukan dalam lingkungan keluarga dan ruang tertutup.

Perayaan Imlek tidak boleh dilakukan secara terbuka di ruang publik. Aturan ini berdampak luas, termasuk larangan penggunaan bahasa Mandarin, Hokkien, dan Hakka secara bebas, serta pembatasan simbol-simbol budaya Tionghoa.

Lebih dari 30 tahun, Imlek dirayakan secara tersembunyi oleh masyarakat Tionghoa. Meski demikian, tradisi tersebut tetap hidup, meski tanpa ruang ekspresi publik.

Pada Mei 1998, Orde Baru runtuh, dan BJ Habibie naik menggantikan Soeharto. Terkait peranakan Tionghoa, BJ Habibie mengeluarkan Inpres Nomor 26 Tahun 1998 yang menghentikan penggunaan istilah pribumi dan nonpribumi. Kebijakan ini membawa angin segar bagi masyarakat Tionghoa, meski belum secara langsung mengatur soal Imlek.

Perubahan signifikan terjadi pada masa Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Melalui Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000, Inpres Nomor 14 Tahun 1967 resmi dicabut. Pencabutan ini membuka kembali ruang bagi masyarakat Tionghoa untuk mengekspresikan agama dan tradisinya di ruang publik.

Tidak hanya itu, pada 2001, Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional fakultatif melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2001. Artinya, hari libur tersebut berlaku khusus bagi masyarakat Tionghoa.

Pada era Megawati, Imlek resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2002. Sejak saat itu, perayaan Imlek dapat dilakukan secara terbuka dan menjadi bagian dari kalender nasional Indonesia.

Saat ini, perayaan Imlek dirayakan secara meriah di berbagai kota di Indonesia. Lampion merah, pertunjukan barongsai, pembagian angpao, hingga festival budaya menjadi bagian dari perayaan yang dapat dinikmati masyarakat luas.

Perubahan kebijakan dari masa kolonial hingga reformasi menunjukkan bahwa sejarah perayaan Imlek di Indonesia sangat dipengaruhi oleh dinamika politik dan kebijakan negara. Dari sempat dilarang, dibatasi, hingga akhirnya diakui sebagai hari libur nasional, perjalanan Imlek mencerminkan proses panjang pengakuan terhadap keberagaman budaya di Indonesia.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Menteri Pangan: Swasembada Turunkan Harga Beras Dunia

18 Februari 2026

Aturan Mudik 2026: One Way, Contra Flow, dan Ganjil Genap

18 Februari 2026

Destinasi Imlek Terpopuler 2026 di Indonesia, Mulai Singkawang hingga Jogja

18 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Motor matic 2026: BeAT tetap unggul, Nmax dan hybrid jadikan persaingan semakin sengit!

18 Februari 2026

Aturan Mudik 2026: One Way, Contra Flow, dan Ganjil Genap

18 Februari 2026

Eks Kapolres Bima Kota Jadi Tersangka, Polisi Temukan Sekoper Narkoba, Bandar E Diburu

18 Februari 2026

Menteri Pangan: Swasembada Turunkan Harga Beras Dunia

18 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?