Peran Aceh dalam Menjaga Perdamaian Global
Muhammad Zahran Hibatullah, seorang mahasiswa S2 asal Aceh yang sedang menempuh studi di Les Roches Global Hospitality Education, Swiss, diundang sebagai perwakilan Indonesia dan Aceh dalam acara pemutaran film “The Last Accord: War, Apocalypse, and Peace in Aceh”. Acara ini diselenggarakan oleh Permanent Mission of the Republic of Indonesia to the United Nations, WTO, dan lainnya di Jenewa, dengan dukungan dari FPCI (Foreign Policy Community of Indonesia), Permanent Mission of Finland, serta Permanent Mission of Indonesia. Acara berlangsung di Room XIV (Kazakh Room), Palais des Nations, pada Selasa (24/3/2026).
Zahran menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan ruang dialog antar bangsa mengenai nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, dan diplomasi. Film ini menunjukkan bahwa pengalaman damai dari Aceh bukan hanya bagian dari sejarah Indonesia, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat internasional dalam melihat penyelesaian konflik secara damai dan bermartabat.
Film yang Menggambarkan Konflik Aceh Secara Utuh
Film ini berhasil menceritakan konflik Aceh dari kedua belah pihak, baik dari perspektif GAM maupun Republik Indonesia, sehingga penonton bisa melihat persoalan ini secara lebih utuh dan adil. “Sangat powerful, emosional, dan menyentuh,” ungkap Zahran. Meskipun merupakan film dokumenter, ia tidak membosankan untuk ditonton. Justru penyajiannya sangat kuat karena menggabungkan sejarah, kemanusiaan, dan diplomasi dalam satu narasi yang hidup. Penonton tidak hanya diajak memahami konflik sebagai peristiwa politik, tetapi juga sebagai tragedi kemanusiaan yang meninggalkan luka mendalam.
Pentingnya Merawat Perdamaian
Poin penting lain yang disampaikan Zahran adalah bahwa perdamaian tidak boleh berhenti sebagai dokumen atau simbol sejarah, tetapi harus dijaga sebagai komitmen bersama demi kelangsungan hidup masyarakat Aceh ke depan. Ia menekankan bahwa perang pada dasarnya tidak pernah benar-benar menghasilkan pemenang. Dalam perang, semua pihak pada akhirnya sama-sama kehilangan, yakni kehilangan nyawa, kehilangan darah, kehilangan keluarga, kehilangan rasa aman, bahkan kehilangan sumber daya dan masa depan. Karena itu, damai adalah sesuatu yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh.
Pelajaran dari Pengalaman Aceh
Dalam diskusi juga dibahas bahwa konflik Aceh adalah konflik yang rumit dan unik, dengan latar belakang sejarah, politik, dan sosial yang panjang. Namun justru karena kerumitannya itu, proses damai Aceh memberi pelajaran penting bagi dunia internasional bahwa konflik yang panjang sekalipun tetap bisa diselesaikan jika ada keberanian politik, kemauan berdialog, dan pendekatan kemanusiaan.
Film ini juga menyoroti peran Presiden Martti Ahtisaari, mantan Presiden Finlandia, yang dalam film ini digambarkan memiliki ketegasan dan kapasitas besar dalam memediasi konflik Aceh. Perannya sangat penting dalam membantu kedua pihak menemukan jalan keluar setelah konflik berlangsung dalam waktu yang lama.
Relevansi dengan Situasi Dunia Saat Ini
Terakhir, Zahran menyampaikan bahwa diskusi tersebut sangat relevan dengan situasi dunia hari ini. Banyak konflik di berbagai belahan dunia yang masih berlangsung, dan pengalaman Aceh menunjukkan bahwa penyelesaian konflik tidak cukup dilihat hanya dari sisi politik atau kekuasaan, tetapi juga harus diletakkan di atas nilai kemanusiaan, martabat, dan masa depan rakyat. “Cerita konflik Aceh juga bisa menjadi model untuk pembelajaran dalam studi resolusi konflik di kampus-kampus Eropa,” tutupnya.



