Sektor otomotif roda empat di Indonesia sedang mengalami perubahan yang signifikan. Sejak Agustus hingga November tahun lalu, berbagai merek baru mulai meluncurkan produk-produk mereka, menandai awal dari keberagaman pilihan kendaraan. Kehadiran brand baru seperti iCAR di segmen mobil listrik juga semakin memperkaya pasar. Di samping itu, beberapa merek lain merilis model dan harga baru, baik selama pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 maupun sebelumnya.

Beberapa merek besar seperti Chery, GAC, GWM, Lepas, VinFast, Zeekr, serta pemain Jepang seperti Honda, Mitsubishi, Suzuki, dan Toyota juga turut serta dalam peluncuran model dan harga terbaru. Bahkan, beberapa merek seperti Jetour tetap mempertahankan harga mereka. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan pasar terhadap kendaraan bermotor semakin meningkat, khususnya di segmen premium yang mencapai harga antara Rp 800 juta hingga 1,6 miliar.

Namun, meskipun pasar tampak ramai, ada hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu daya beli konsumen. Dari data tahun lalu, beberapa segmen atau kategori mengalami pertumbuhan. Secara keseluruhan, pasar mobil nasional pada 2025 mencapai 803 ribu unit wholesale, mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 865 ribu unit. Hal ini menunjukkan adanya proses akuisisi atau perpindahan konsumen antar merek, bukan peningkatan total pasar.

Dari sisi asal produsen, brand Tiongkok berhasil menikmati pangsa pasar sebesar 113 ribu unit. Namun, kondisi pasar masih menunjukkan ketidakpastian. Daya beli masyarakat terlihat lebih sulit, dan arus uang di sektor ini tidak berkembang seperti sebelumnya. Oleh karena itu, kemeriahan pesta mobil baru ini harus diimbangi dengan strategi yang tepat oleh para pemain industri.

Strategi Pabrikan di Tengah Pasar yang Dinamis
Pasar otomotif 2026 tetap menantang bagi seluruh produsen kendaraan. Kondisi ini dipengaruhi oleh melemahnya daya beli masyarakat, risiko kredit yang meningkat, serta ketidakpastian kelanjutan insentif pemerintah. Meski demikian, pemerintah tetap optimis bahwa penjualan kendaraan roda empat akan meningkat dibanding tahun sebelumnya. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menyatakan prediksi penjualan sebesar 850 ribu unit, atau naik 5,4 persen dibanding 2025.

Bagi pelaku industri, prediksi tersebut cukup realistis. PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) memprediksi pasar otomotif nasional pada 2026 berpotensi lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Presiden Direktur MMKSI, Atsushi Kurita, menyatakan bahwa situasi pasar saat ini dinamis, sehingga sulit untuk diprediksi secara pasti. Namun, ia melihat adanya sinyal positif yang membuat proyeksi pasar 2026 berpeluang sedikit lebih baik.
MMKSI telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga kinerja dan relevansi di 2026, termasuk perluasan pemanfaatan teknologi digital melalui neural network, kolaborasi dengan teknologi kecerdasan buatan (AI), serta peluncuran produk baru. Salah satunya adalah model berteknologi hybrid.
PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) juga menatap pasar otomotif nasional 2026 dengan optimisme tinggi. Meski pencapaian penjualan retail pada 2025 mengalami penurunan, Suzuki menargetkan lonjakan pangsa pasar hingga 9,5 persen pada tahun ini. Strategi yang disiapkan meliputi penawaran model dan produk baru, peningkatan kualitas operasional, serta perluasan jaringan dealer.
Vice Country Director Chery Business Unit PT Chery Sales Indonesia (CSI), Budi Darmawan, menyatakan bahwa pasar otomotif 2026 kemungkinan akan mirip dengan pencapaian 2025. Chery fokus pada penghadiran produk dengan harga kompetitif, khususnya di segmen hybrid. Target minimal 40 persen dari total penjualan berasal dari produk hybrid.
Brian Gomgom, Brand Communication Senior Manager Wuling Motors, memprediksi penjualan 2026 tidak jauh berbeda dari tahun lalu. Elektrifikasi menjadi salah satu strategi utama. Di ajang IIMS 2026, Wuling meluncurkan Wuling Eksion, sebuah SUV medium 7-seater yang tersedia dalam dua varian teknologi, EV dan PHEV. Produk ini ditujukan untuk mengisi segmen SUV yang semakin diminati.
Akankah strategi model baru cukup efektif untuk menggairahkan kondisi pasar yang masih belum menentu ini? Kita lihat perkembangannya.



