Perubahan Ekspektasi Suku Bunga di Asia Akibat Lonjakan Harga Minyak
Konflik antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel telah memicu lonjakan harga minyak global. Hal ini berdampak pada rencana pelonggaran kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral di kawasan Asia. Data dari overnight index swaps menunjukkan perubahan signifikan terkait ekspektasi suku bunga di beberapa negara Asia.
Perubahan paling mencolok terjadi di India dan Filipina, di mana pasar kini memperkirakan kenaikan suku bunga alih-alih pemangkasan. Di Thailand dan Indonesia, meskipun bank sentral masih diperkirakan akan memangkas suku bunga, probabilitasnya semakin menurun.
Sensitivitas Bank Sentral terhadap Harga Minyak
Menurut Selena Ling, kepala riset dari Oversea-Chinese Banking Corp Ltd. (OCBC), kemungkinan konflik Iran yang berkepanjangan membuat bank sentral di Asia lebih sensitif terhadap pergerakan harga minyak. “Bank sentral Asia kemungkinan akan mencermati apakah ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam jangka pendek telah menyempit seiring pergerakan harga minyak,” ujarnya.
Sebelum konflik di Timur Tengah memanas, Ling telah memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan meredanya tren disinflasi akan membatasi ruang pemangkasan suku bunga tahun ini. Namun, jika konflik Iran berkepanjangan dan menyebabkan gangguan pasokan minyak secara nyata, jendela pelonggaran kebijakan mungkin menutup lebih cepat.
Prediksi Kenaikan Inflasi
OCBC memperkirakan kenaikan harga minyak berkelanjutan sebesar 10% dari rata-rata US$67 per barel pada Januari–Februari dapat meningkatkan inflasi tahunan sekitar 0,6%–0,8% di Thailand, 0,5%–0,7% di Filipina dan India, serta sekitar 0,4%–0,6% di Malaysia, Indonesia, dan Vietnam.
Harga minyak mentah acuan jenis Brent diperdagangkan di kisaran US$83 per barel pada perdagangan awal Jumat di Asia. Gubernur Bangko Sentral ng Pilipinas Eli Remolona Jr. mengatakan kenaikan harga minyak sekitar 10% sejak konflik Timur Tengah dimulai masih dapat dikelola. Namun, lonjakan hingga 50% akan memerlukan intervensi kebijakan yang lebih kuat.
Dampak pada Ekonomi Negara-Negara Asia
Indonesia dan Filipina mencatat percepatan inflasi pada Februari dan bersiap menghadapi tekanan lebih besar ke depan. Kedua negara sangat bergantung pada impor bahan bakar, sementara pelemahan mata uang semakin meningkatkan biaya impor energi.
Euben Paracuelles, chief Asean economist dari Nomura Holdings Inc., mengatakan lonjakan harga minyak akan cepat tercermin pada inflasi di Filipina dan dapat membuat bank sentral menahan suku bunga, alih-alih kembali memangkasnya pada April.
Risiko Fiskal di Indonesia
Di Indonesia, subsidi bahan bakar diperkirakan dapat meredam dampak inflasi, tetapi berisiko memperlebar defisit anggaran di tengah kekhawatiran fiskal yang sudah tinggi. Kondisi ini berpotensi memicu arus keluar modal dan mengganggu stabilitas nilai tukar yang menjadi fokus Bank Indonesia.
Nomura sebelumnya memperkirakan siklus pemangkasan suku bunga BI dimulai kembali pada Juni dari sebelumnya Maret, dengan risiko penundaan lebih lanjut jika harga minyak tetap tinggi. Inflasi Indonesia tercatat mencapai 4,76% pada Februari, melampaui target BI sebesar 1,5%–3,5% dan juga lebih tinggi dari perkiraan ekonom.
Tekanan pada Rupiah dan Kebijakan Moneter
Tekanan tersebut tercermin pada pergerakan rupiah yang pekan ini mendekati level terendah sepanjang sejarah. Bank Indonesia bahkan melakukan intervensi di pasar domestik maupun offshore.
Investor obligasi juga mulai bersiap menghadapi potensi kenaikan suku bunga di Malaysia, di tengah pertumbuhan ekonomi yang mendekati salah satu yang tercepat di kawasan. Bank sentral negara itu mempertahankan suku bunga acuan di level 2,75% pada Kamis, sembari memperingatkan risiko dari konflik Timur Tengah yang semakin dalam.
Dampak pada Ekonomi India
India menjadi salah satu ekonomi Asia yang paling rentan terhadap dampak konflik antara AS dan Israel melawan Iran. Negara tersebut mengimpor sekitar 90% kebutuhan minyaknya, dengan sekitar setengah pasokan berasal dari negara-negara Teluk Persia.
Gangguan perdagangan melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur utama ekspor minyak juga meningkatkan risiko terhadap neraca transaksi berjalan, nilai tukar, dan inflasi India.
Secara keseluruhan, ruang manuver bank sentral di kawasan semakin menyempit. Inflasi mulai meningkat bahkan sebelum gangguan pasokan minyak sepenuhnya tercermin pada harga konsumen, sehingga otoritas moneter kini harus menyeimbangkan stabilitas mata uang dan pengendalian inflasi dengan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.



