Kecelakaan Longsoran Sampah di Cebu, Filipina
Sebanyak delapan korban tewas telah tercatat akibat longsornya gunungan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Binaliw di Kota Cebu, Filipina. Peningkatan jumlah korban ini terjadi setelah dua perempuan berhasil dievakuasi dari reruntuhan pada malam hari. Saat ini, operasi pencarian dan penyelamatan masih terus berlangsung untuk 28 orang yang belum ditemukan.
Proses Penyelamatan yang Berat
Tim penyelamat menggunakan derek untuk mencapai area yang sulit dijangkau di lokasi kejadian. Pada Senin pagi, operasi pencarian dilanjutkan untuk menemukan 28 orang lainnya yang masih hilang. Anggota Dewan Dave Tumulak, ketua Komite Penanggulangan Bencana Kota Cebu, menyampaikan bahwa hingga empat hari setelah kejadian, sebanyak 12 orang berhasil diselamatkan. Namun, 28 orang termasuk insinyur dan pekerja lapangan masih hilang.
Tumulak mengatakan harapan realistis untuk menemukan korban selamat mulai memudar. Hal ini disebabkan oleh hambatan dalam upaya penyelamatan dan evakuasi. Masalah keamanan serius dan kondisi lingkungan yang berbahaya menjadi penghambat utama dalam proses penyelamatan.
Keterlibatan Pihak Terkait
Juru Bicara Kantor Pertahanan Sipil (OCD) Junie Castillo mengakui bahwa jumlah orang yang terjebak di TPA mungkin lebih besar. “Kami sedang menyelidiki hal ini. Bahkan, pemerintah daerah dan tim penyelamat kami sedang berhubungan dengan keluarga para pekerja di sana dan rekan-rekan mereka,” katanya. Tujuan dari komunikasi ini adalah untuk mengetahui siapa dan berapa banyak yang hilang secara total serta siapa yang berada di daerah tersebut.
Penyebab Kejadian
OCD mengatakan pihak berwenang masih menyelidiki mengapa tempat pembuangan sampah itu runtuh. Dari penilaian awal dan koordinasi dengan unit pemerintah setempat, kejadian ini dapat disebabkan oleh gempa bumi yang kuat dan badai baru-baru ini yang melanda provinsi tersebut. “Tumpukan sampah di tempat pembuangan sampah ini telah melunak, jadi itu salah satu hal yang sedang kami selidiki,” kata Castillo.
Tantangan dalam Operasi Penyelamatan
Tim penyelamat dengan hati-hati membersihkan reruntuhan menggunakan ekskavator dan crane berkapasitas 50 ton. Mereka menghadapi bahaya dari tumpukan sampah yang tidak stabil serta gas metana dan karbon yang terus mengeluarkan. Otoritas setempat memperingatkan bahwa memotong logam menggunakan obor asetilena di lingkungan yang dipenuhi metana sangat berbahaya karena risiko kebakaran dan ledakan tinggi.
Dampak terhadap Operasi TPA
Insiden ini memaksa Kota Cebu untuk menghentikan sementara operasi pembuangan sampah di fasilitas tersebut. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai volume sampah harian yang terus meningkat. Sekitar 50 pekerja sanitasi terkubur pada Kamis ketika tumpukan sampah roboh menimpa mereka dari ketinggian sekitar 20 lantai di Tempat Pembuangan Sampah Binaliw, sebuah fasilitas yang dioperasikan swasta yang menangani sampah untuk kota berpenduduk hampir satu juta jiwa.
Pengalaman Korban
“Saya mendengar suara keras dan melihat bahwa tempat itu sangat berdebu,” kata Junel Arcilla, yang mendokumentasikan kejadian tersebut melalui teleponnya, dalam bahasa Cebuano. Pengalaman ini menunjukkan betapa mengerikannya kejadian yang terjadi di TPA Binaliw.



