Tantangan Industri Smartphone Akibat Krisis Rantai Pasok
Produsen smartphone dihadapkan pada tantangan besar akibat krisis rantai pasok yang melanda industri. Hal ini mencakup keterbatasan komponen semikonduktor secara global, yang berdampak pada berbagai segmen perangkat, termasuk smartphone entry level atau HP murah. Meskipun memiliki kebutuhan komponen yang sama dengan ponsel kelas premium, nasib smartphone murah menjadi pertanyaan besar.
Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menjelaskan bahwa biaya logistik, fluktuasi nilai tukar, serta kenaikan harga bahan baku seperti memori dan sensor kamera akan meningkatkan biaya produksi. Hal ini berpotensi mendorong produsen smartphone seperti Xiaomi, Samsung, Honor, dan lainnya untuk menaikkan harga perangkat kepada konsumen.
“Dari sisi kisaran, peningkatan harga umumnya berada di rentang 5–15% tergantung segmen produk,” kata Heru. Ia menambahkan bahwa ponsel kelas menengah hingga atas yang menggunakan chipset berperforma tinggi cenderung mengalami kenaikan harga lebih besar. Sementara itu, segmen entry-level relatif lebih tertahan karena produsen berupaya menjaga keterjangkauan harga.
Namun, kenaikan harga berpotensi menekan volume penjualan, khususnya di segmen menengah ke bawah yang sangat sensitif terhadap perubahan harga. Konsumen cenderung menunda pembelian, memperpanjang siklus penggantian ponsel, atau beralih ke merek dan model yang lebih terjangkau. Namun, dampaknya tidak terjadi secara merata.
Heru menyebutkan bahwa segmen premium relatif lebih tahan terhadap tekanan tersebut karena konsumennya lebih mengutamakan spesifikasi dan kekuatan merek. Selain itu, kebutuhan digital masyarakat yang terus meningkat masih menjadi penopang permintaan dasar.
“Secara keseluruhan, pasar kemungkinan mengalami perlambatan pertumbuhan, bukan penurunan yang tajam selama kenaikan harga masih dalam batas wajar dan tidak berkepanjangan,” katanya.

Dari sisi produsen, Heru menilai sejumlah strategi dapat ditempuh, antara lain diversifikasi pemasok chipset, optimalisasi desain produk agar lebih efisien dari sisi biaya, serta perluasan lini produk dengan spesifikasi seimbang dan harga terjangkai. Program cicilan, bundling dengan operator, serta promosi juga dinilai penting untuk menjaga minat beli.
Pemerintah pun dapat berperan melalui pemberian insentif fiskal bagi industri perakitan lokal, percepatan pengembangan industri semikonduktor dalam negeri, serta upaya stabilisasi nilai tukar dan biaya logistik.
“Kolaborasi pemerintah dan industri menjadi kunci agar daya beli tetap terjaga sekaligus mendorong kemandirian rantai pasok jangka panjang,” kata Heru.
Harga Makin Mahal
Sebelumnya, sejak November 2025, manajemen Xiaomi telah memperingatkan potensi kenaikan harga smartphone secara global pada 2026 seiring meningkatnya harga chip memori. Lonjakan harga memori terjadi akibat meningkatnya permintaan dari sektor kecerdasan buatan.
Presiden Xiaomi Lu Weibing menyampaikan tekanan biaya pada industri smartphone diperkirakan akan lebih besar pada 2026 dibandingkan 2025.
“Secara keseluruhan, konsumen kemungkinan akan melihat kenaikan harga ritel produk yang cukup signifikan. Sebagian tekanan mungkin harus diatasi melalui kenaikan harga, tetapi kenaikan harga saja tidak akan cukup untuk menyerap seluruh tekanan tersebut,” kata Lu Weibing.
Sementara itu, Counterpoint Research memprediksi pengiriman smartphone global akan turun 2,1% pada 2026. Penurunan tersebut dipicu oleh kenaikan biaya komponen yang membebani produsen sekaligus melemahkan daya beli konsumen.
Counterpoint menyebutkan angka tersebut merupakan revisi turun sebesar 2,6 poin persentase dari perkiraan sebelumnya untuk 2026. Pabrikan smartphone asal China seperti HONOR, OPPO, dan vivo diperkirakan mengalami perubahan estimasi terbesar dibandingkan proyeksi awal.

Strategi yang Diambil oleh Produsen
Sementara itu President of HONOR South Pacific Justin Li mengakui dinamika industri smartphone global saat ini dipengaruhi oleh berbagai tantangan, mulai dari kondisi rantai pasok hingga keterbatasan komponen yang berdampak pada banyak perangkat secara global.
“Situasi ini membuat sebagian pelaku industri perlu menyesuaikan strategi bisnisnya,” kata Justin. Ia menekankan bahwa HONOR akan terus memantau perkembangan pasar secara cermat dan berupaya menjaga agar produk-produknya tetap dapat diakses konsumen dengan nilai yang kompetitif.
Di tengah keterbatasan chip, lanjut Justin, HONOR berfokus pada perencanaan yang matang, optimalisasi rantai pasok, serta pengembangan portofolio produk yang seimbang. Perseroan melihat kebutuhan pasar secara menyeluruh dan berkomitmen menghadirkan price to value terbaik bagi konsumen di seluruh segmen, mulai dari entry-level hingga premium.
Head of PR Xiaomi Indonesia Abee Hakim mengatakan perusahaan tetap berupaya menjaga daya tarik produk dengan menawarkan nilai yang relevan bagi konsumen, termasuk menghadirkan inovasi yang sesuai bagi anak muda maupun seluruh segmen pengguna Xiaomi.
“Value yang ditawarkan sesuai dan paling oke untuk mereka,” kata Abee. Sepanjang tahun ini, Xiaomi memastikan akan terus menghadirkan inovasi yang semakin lengkap di berbagai lini produk. Dari sisi segmentasi, Abee mengungkapkan sejak akhir 2025 ponsel premium Xiaomi menunjukkan animo yang cukup kuat di pasar.
Kendati demikian, untuk 2026 perseroan belum dapat memastikan segmen mana yang akan menjadi pendorong utama permintaan. “Kami belum tahu. Tujuan Xiaomi di tahun ini akan lebih menghadirkan produk-produk yang semakin inovatif, semakin premium, dan yang dibutuhkan oleh pengguna di Indonesia,” tuturnya.
Head of MX Category Management Samsung Electronics Indonesia Selvia Gofar menyampaikan kenaikan harga semikonduktor memori merupakan isu struktural yang berdampak pada seluruh industri smartphone global.
“Kenaikan harga semikonduktor memori merupakan isu global yang diperkirakan akan berdampak pada seluruh industri, tidak hanya pada Samsung,” kata Selvia. Meski demikian, Selvia menilai Samsung memiliki ketahanan pasokan berkat kemitraan strategis jangka panjang dengan para pemasok. Fondasi kepercayaan tersebut dinilai membantu menjaga stabilitas rantai pasok di tengah fluktuasi harga komponen.
“Samsung berada pada posisi yang relatif kuat dari sisi pasokan berkat kemitraan strategis yang dibangun atas dasar kepercayaan, dan akan terus berupaya meminimalkan dampak terhadap konsumen,” katanya.



