Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Sabtu, 21 Maret 2026
Trending
  • Jenis-jenis Infaq Beserta Arti dan Contoh
  • LPEM UI: Ancaman Perang Bisa Dorong Defisit APBN ke 3,5%
  • Sipil Desak Prabowo Cabut Telegram Panglima TNI, Ini Alasannya
  • Gen Z, Perang Hibrid, dan Ketahanan Mental di Era Konflik Global
  • Mengenal Dana Triliun Rupiah Danantara
  • Bayi viral di bak sampah perumahan Bekasi, wajah ibu terpampang CCTV
  • Mudik Lebaran Dekat, Herman Khaeron Pastikan Stok BBM Aman
  • Pembaruan klasemen Super League: Borneo FC kejar Persib, Malut United bangkit lagi dalam perburuan gelar
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Olahraga»Ketika Luca Zidane Gagal, Aljazair Tumbang dari Nigeria di Piala Afrika
Olahraga

Ketika Luca Zidane Gagal, Aljazair Tumbang dari Nigeria di Piala Afrika

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover16 Januari 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kesedihan di Piala Afrika

Pada ajang Piala Afrika, Aljazair menghadapi kekecewaan setelah ambisi mereka untuk menambal krisis penjaga gawang dengan nama besar gagal. Luca Zidane, putra legenda sepak bola dunia Zinedine Zidane, menjadi harapan yang akhirnya runtuh saat Aljazair disingkirkan Nigeria dengan skor 0-2 pada laga perempat final di Marrakech.

Zidane, yang didatangkan dari kompetisi divisi dua Spanyol, sejatinya merupakan pilihan darurat di tengah keterbatasan stok kiper berkualitas. Namun, perjudian itu berakhir pahit ketika Aljazair tidak mampu melewati tantangan Nigeria. Performa Zidane jauh dari kata meyakinkan, terutama saat gol pembuka Nigeria lahir dari situasi yang seharusnya bisa diantisipasi.

Alih-alih melakukan penyelamatan, Zidane justru melakukan lompatan yang janggal saat berusaha menghentikan sundulan Victor Osimhen di tiang jauh. Kesalahan berikutnya datang 10 menit kemudian, ketika distribusi bolanya yang buruk direbut lawan dan berujung gol kedua Nigeria.

Harapan dan Tekanan yang Tinggi

Sorotan terhadap Zidane sejatinya sudah mengiringinya sejak awal turnamen. Undangannya membela Aljazair, negara asal orang tua ayahnya, menjadi perhatian besar. Bukan hanya karena darah Zidane yang mengalir, tetapi juga karena ekspektasi publik yang otomatis meninggi.

Meski sempat mencicipi dua penampilan bersama tim utama Real Madrid saat dilatih ayahnya, Luca Zidane gagal menembus skuad inti Los Blancos. Enam dari tujuh musim terakhir ia habiskan di kasta kedua sepak bola Spanyol, sebuah fakta yang membuat statusnya terus dipertanyakan di level internasional.

Kiprah Anthony Mandrea dan Perubahan Kebijakan

Selama lima tahun terakhir, posisi penjaga gawang utama Aljazair sejatinya dipegang Anthony Mandrea yang berkiprah di Ligue 1 bersama Angers. Namun, setelah klub terbarunya, Caen, terdegradasi ke divisi ketiga Prancis musim lalu, pelatih Aljazair Vladimir Petkovic menegaskan tak akan memanggil pemain dari level kompetisi serendah itu.

Situasi inilah yang membuka jalan bagi Zidane, yang pada usia 27 tahun mengubah status kewarganegaraan internasionalnya pada September lalu. Ia disiapkan sebagai pelapis Alexis Guendouz, yang belakangan naik menjadi pilihan utama. Namun cedera Guendouz jelang turnamen memaksa Zidane tampil sebagai starter.

Performa Awal yang Menjanjikan

Secara statistik, performa Zidane sempat memberi harapan. Ia tampil dalam dua dari tiga laga fase grup tanpa kebobolan dan kembali mencatat clean sheet saat Aljazair menyingkirkan Republik Demokratik Kongo di babak 16 besar, ditopang pertahanan yang solid.

Namun, ketangguhan itu runtuh saat menghadapi Nigeria yang agresif dan penuh tekanan. Zidane beberapa kali tampak ragu dalam membaca bola mati, bahkan sempat beruntung ketika bola hasil kesalahannya di babak pertama berhasil disapu dari garis gawang. Pada babak kedua, kebingungan itu kian terlihat ketika Nigeria sepenuhnya mengendalikan permainan.

Masa Depan yang Tidak Pasti

Dengan kedua orang tuanya hadir langsung di stadion Maroko, Zidane tentu berharap turnamen ini menjadi pijakan menuju Piala Dunia. Aljazair sendiri tergabung di Grup J bersama Argentina, Yordania, dan Austria pada ajang yang akan digelar di Amerika Utara pada akhir tahun ini.

Namun penampilan di Piala Afrika membuat masa depan Zidane bersama Les Fennecs berada di persimpangan. Vladimir Petkovic kini dihadapkan pada keputusan penting, bertahan dengan nama besar yang belum teruji, atau kembali membuka pencarian kiper lain demi menjaga ambisi Aljazair di panggung dunia.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Pembaruan klasemen Super League: Borneo FC kejar Persib, Malut United bangkit lagi dalam perburuan gelar

21 Maret 2026

Prediksi Skor Milan vs Inter: Derby Panas, Rossoneri Harus Menang

21 Maret 2026

Tiket Final Four dan Grand Final Proliga 2026 Mulai Dijual, Harga Terendah Rp150 Ribu

20 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Jenis-jenis Infaq Beserta Arti dan Contoh

21 Maret 2026

LPEM UI: Ancaman Perang Bisa Dorong Defisit APBN ke 3,5%

21 Maret 2026

Sipil Desak Prabowo Cabut Telegram Panglima TNI, Ini Alasannya

21 Maret 2026

Gen Z, Perang Hibrid, dan Ketahanan Mental di Era Konflik Global

21 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?