Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Kamis, 29 Januari 2026
Trending
  • Endrick Bercahaya di Lyon, Real Madrid Menyesal?
  • Masa sulit mulai berlalu! 3 zodiak ini alami perubahan baik sejak 26 Januari 2026
  • 915 Kontainer Limbah B3 Tertahan di Batu Ampar, BP Batam Minta Kejelasan Pusat
  • WNI Tertipu Scam di Kamboja
  • Skor Kacamata di Tegal, Persiraja Banda Aceh Gagal Menang Usai Gol Dianulir
  • Pria Bekasi Dianiaya Saat Warung Dirampok
  • Ketika Banjir Sumatera Bawa Cuan Investor UNTR
  • Peluang Pemerintah Cabut Izin Perusahaan Penyebab Banjir Sumatra
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Beranda » Ketahanan Ekonomi Indonesia Mulai Tergerus
Ekonomi

Ketahanan Ekonomi Indonesia Mulai Tergerus

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover19 Mei 2025Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Ketahanan Ekonomi Indonesia Mulai Tergerus
Ilustrasi, IHSG melemah dan pelemahan ekonomi.(Dok. MI/Susanto)

KETAHANAN ekonomi Indonesia dinilai mulai tergerus. Fundamen perekonomian yang selama ini dipandang cukup baik dan berdaya tahan kini menunjukkan gejala kerapuhan, terutama karena dampak dari kondisi ekonomi global yang dalam beberapa waktu terakhir bergerak cukup dinamis.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia Yose Rizal Damuri dalam taklimat media bertajuk Mengejar Target 8% di Tengah Melambatnya Perekonomian: Setengah Tahun Pemerintahan Prabowo yang disaksikan secara daring, Rabu (7/5).

“Dulu kita disebut komodo ekonomi, karena kulitnya tebal seperti komodo dragon. Tapi apakah sekarang kita masih bisa jadi komodo ekonomi? Mudah-mudahan tidak jadi cicak ekonomi,” ujarnya.

Baca juga : Pemerintah Waspadai Kondisi Global yang masih Alami Perlambatan Ekonomi

Yose menuturkan, selama ini perekonomian domestik ditopang oleh empat pilar utama, yaitu sektor riil, iklim usaha, kebijakan fiskal, dan kebijakan moneter. Biasanya, ketika pemerintah mengeklaim fundamen perekonomian Indonesia cukup baik, permasalahan hanya ada di dua pilar, yaitu di sektor riil dan iklim usaha.

Sektor riil Indonesia dinilai belum efisien dan berbiaya mahal. Demikian pula dengan iklim usaha yang belum memadai dan mendukung percepatan pertumbuhan bisnis di dalam negeri. Hanya, kali ini, kebijakan fiskal dan kebijakan moneter juga dinilai bermasalah.

Baik kebijakan fiskal dan moneter, imbuh Yose, tampak menunjukkan dan mendorong gejala rentan bagi perekonomian dalam negeri. “Makroekonomi kita dulu dianggap kuat karena fiskal disiplin, prinsip moneter yang baik, dan makroprudensial yang ketat. Tapi sekarang, fondasi ini mulai digerogoti. Independensi bank sentral mulai dipertanyakan kondisi fiskal mulai melemah,” jelasnya.

Baca juga : Pertumbuhan Ekonomi 2025 akan Didorong dari Program MBG dan 3 juta Rumah

Salah satu sinyal bahaya ialah derasnya arus modal keluar dari pasar modal Indonesia. Per April 2025, aliran modal keluar dari pasar saham mencapai Rp50 triliun. Jumlah itu dinilai cukup besar kendati terdapat arus modal masuk ke pasar obligasi. Namun Yose menilai hal itu belum bisa menjaga ketahanan nilai tukar rupiah.

Pelemahan nilai tukar rupiah juga disebut relatif mengkhawatirkan. Itu karena indeks dolar Amerika Serikat (AS) tengah dalam tren pelemahan sejak Januari 2025, namun alih-alih menguat, rupiah justru cenderung tertekuk di hadapan mata uang Negeri Paman Sam.

“Dollar index melemah sejak Januari, tapi rupiah justru terus melemah. Artinya, rupiah melemah sendiri dibandingkan mata uang dunia lainnya. Ini coupling yang mengkhawatirkan,” jelas Yose.

Baca juga : Microsoft Corporation Umumkan Investasi Sebesar US$ 1,7 Miliar ke Indonesia

Ekonomi Mendung

Di kesempatan yang sama, Peneliti CSIS Deni Friawan menyinggung arah perekonomian Indonesia di awal pemerintahan Prabowo-Gibran. Menurutnya, meski belum mengalami krisis besar, tanda-tanda kerapuhan ekonomi semakin nyata dan perlu segera diantisipasi. “Kita memang belum gelap gulita, tapi mendungnya sudah ada,” tuturnya.

Menurutnya, sejumlah indikator menunjukkan pelemahan ekonomi. Produk Domestik Bruto (PDB) secara kuartalan terkontraksi sebesar -0,98%. Konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari 55% terhadap PDB hanya tumbuh 4,89%. Di sisi lain, belanja pemerintah juga mengalami kontraksi sebesar 1,42%.

Sejalan dengan itu, Indonesia juga tengah mengalami fenomena disinflasi, atau penurunan tingkat inflasi secara konsisten. Inflasi mencapai titik terendah pada Februari 2025 dengan deflasi sebesar -0,09%. “Kondisi ini bukan hanya karena panen dan subsidi energi, tapi juga menunjukkan pelemahan daya beli masyarakat,” terangnya.

Baca juga : AS dan Tiongkok Sepakat Perlunya Pertumbuhan Ekonomi yang Seimbang

Kendati Bank Indonesia tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat demi menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, nilai tukar rupiah tetap mengalami depresiasi cukup tajam sejak pemerintahan baru dimulai, yakni mencapai Rp16.858 per USD atau turun 9,5 persen dari awal masa jabatan Prabowo.

Selain itu, kondisi pasar keuangan pun mencerminkan kekhawatiran pelaku usaha. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 23% sejak Prabowo berkuasa. Sementara itu, ketidakjelasan dalam kebijakan fiskal memperburuk suasana.

“Hingga saat ini kita belum memiliki APBN yang definitif. Ketidakpastian anggaran membuat pengeluaran kementerian lambat, belanja K/L turun 11,8%,” ungkap Deni.

Sedangkan di sektor tenaga kerja, meskipun data pengangguran belum mencerminkan kondisi memburuk. Merujuk data Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) setidaknya lebih dari 40 ribu orang terkena PHK hingga April 2025. Kondisi ini turut menurunkan indeks keyakinan konsumen dari 127 menjadi 121, serta menekan Purchasing Managers’ Index (PMI) ke bawah ambang batas ekspansi.

“Dari semua data ini, bisa disimpulkan bahwa jika tidak ada antisipasi dan langkah perbaikan dari pemerintah, maka situasi mendung ini bisa berubah menjadi gelap dalam waktu dekat,” jelas Deni.

Ambisi 8% Jadi Beban Baru

Peneliti CSIS lainnya, Riandy Laksono, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia selama enam bulan pertama pemerintahan Prabowo-Gibran. Menurutnya, pendekatan ekonomi yang terlalu ambisius dan tidak berbasis teknokratis justru menciptakan kerentanan ekonomi yang serius.

“Semua kebijakan besar diarahkan untuk mendukung narasi pertumbuhan 8%. Tapi kenyataannya, pertumbuhan ekonomi triwulan pertama 2025 hanya 4,87%, terendah sejak pandemi,” ujarnya.

Riandy menyoroti kecenderungan negara mengambil peran besar dalam ekonomi melalui pendekatan state-led developmentalism. Itu tercermin dalam program-program seperti Danantara, food estate, hilirisasi, dan pembangunan 3 juta rumah. Selain itu, dia mengkritik meningkatnya kebijakan populisme baik secara makro maupun mikro.

“Fokus pada redistribusi sosial jangka pendek mengabaikan keberlanjutan fiskal. Misalnya MBG (Makan Bergizi Gratis), awalnya program nutrisi kecil, tapi jadi alat politik dan warisan pemerintah baru,” jelasnya.

Ia menilai kebijakan yang diambil pemerintah bersifat serampangan. “Hari ini dibahas, besok diputuskan, lusa diubah. Prosesnya terlalu top-down, minim keterlibatan publik dan para ahli. Ini membuat arah kebijakan tidak stabil dan sulit diprediksi,” tambahnya.

Karenanya, menurut dia, pemerintah perlu mengukur kembali ambisinya. Sebab dengan situasi saat ini, target pertumbuhan ekonomi 8% bukan lagi sekadar aspirasi pemerintah Prabowo-Gibran, namun menjadi target yang tidak realistis.

Akibatnya, alokasi sumber daya negara makin banyak diarahkan pada program-program yang belum terbukti efektif, yang justru bisa menjadi beban bagi pertumbuhan jangka menengah dan panjang.

Riandy menekankan pentingnya merombak pendekatan kebijakan, terutama dalam menghadapi potensi resesi global dan tekanan eksternal. “Efisiensi harus dijaga. Deregulasi dibutuhkan agar pelaku usaha bisa lebih fleksibel, seperti dalam hal kuota impor atau kewajiban TKDN,” ujarnya.

“Kalau 5% saja sulit, lalu kenapa kita mendesain seluruh rencana kerja negara untuk mengejar angka 8%? Ini membuat ekonomi semakin rentan, bukan makin kuat,” pungkas Riandy.  (H-3)

Ekonomi Indonesia Ketahanan mulai Tergerus
Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Meikarta jadi rusun subsidi, dekatkan hunian ke pusat ekonomi

27 Januari 2026

Risiko fiskal mengancam pasar SBN, yield melonjak

27 Januari 2026

Ramalan Zodiak Gemini dan Cancer 25 Januari 2026: Cinta, Karir, Kesehatan, dan Keuangan

27 Januari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Endrick Bercahaya di Lyon, Real Madrid Menyesal?

28 Januari 2026

Masa sulit mulai berlalu! 3 zodiak ini alami perubahan baik sejak 26 Januari 2026

28 Januari 2026

915 Kontainer Limbah B3 Tertahan di Batu Ampar, BP Batam Minta Kejelasan Pusat

28 Januari 2026

WNI Tertipu Scam di Kamboja

28 Januari 2026
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?