Pergerakan Pasar Asia yang Mengkhawatirkan
Pada perdagangan hari ini, Senin (30/3), sebagian besar indeks bursa Asia mengalami penurunan tajam. Hal ini terjadi akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang memasuki pekan kelima. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran semakin memanas meskipun berbagai upaya diplomatik telah dilakukan untuk meredakannya.
Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan pada awal perdagangan. IHSG turun 1,40% ke level 6.997 pada pukul 9.00 WIB. Sejak awal tahun atau year to date, IHSG sudah merosot sebesar 19,25%.
Seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia (BEI) berada di zona merah secara intraday. Saham perbankan jumbo mengalami penurunan signifikan. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 3,73% ke level 6.450, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 1,75% ke level 3.360, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 1,26% ke level 3.840.
Sementara itu, sejumlah saham sektor energi mengalami kenaikan. Contohnya, saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) naik 2,36% ke level 2.600, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) naik 1,61% ke level 3.150, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) tumbuh 3,30% ke level 29.775.
Kenaikan Tekanan Inflasi dan Kebijakan Moneter
Di kawasan Asia Pasifik, saham bursa Korea Selatan, Kospi sempat anjlok lebih dari 5%. Pada perdagangan pukul 10.47 GMT, indeks Kospi turun 3,12% ke level 5.269. Sementara itu, indeks saham Jepang, Nikkei turun 4,36% ke level 51.046.
Mengutip dari CNBC, pembuat kebijakan Bank of Japan (BOJ) dalam pertemuan Maret membahas kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan. Langkah ini dipertimbangkan seiring lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah yang meningkatkan tekanan inflasi. Salah satu anggota BOJ juga mengisyaratkan bahwa pengetatan kebijakan moneter mungkin perlu dipercepat.
Seorang pembuat kebijakan menilai bahwa BOJ berisiko tertinggal dalam merespons dinamika ekonomi, mengingat efek lanjutan serta kenaikan inflasi inti akibat perkembangan global semakin mungkin terjadi.
Di Hong Kong, indeks Hang Seng turun 1,52%, sedangkan indeks CSI 300 di Tiongkok terkoreksi 0,77%.
Eskalasi Konflik dan Dampak pada Harga Minyak
Penurunan indeks bursa terjadi akibat eskalasi konflik yang semakin meningkat. Setelah kelompok Houthi di Yaman menyatakan telah meluncurkan rudal ke Israel pada Sabtu, aksi ini menjadi keterlibatan langsung mereka dalam konflik yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Juru bicara Houthi, Yahya Saree, menyebut bahwa kelompoknya menembakkan rudal balistik ke sejumlah target militer strategis Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran dan kelompok sekutunya, Hezbollah di Lebanon.
Serangan ini menjadi lanjutan dari konflik yang dipicu oleh serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap target Iran pada 28 Februari lalu.
Di tengah ketegangan tersebut, harga minyak tercatat menguat pada awal perdagangan Asia. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,58% menjadi US$ 102,19 per barel.
Transaksi Jual Bersih Investor Asing
Investor asing mencatatkan transaksi jual bersih atau net sell sebesar Rp 22,37 triliun pada pekan lalu. Sepanjang tahun 2026, investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp 30,88 triliun.
Net sell asing sepekan terakhir melonjak drastis setelah adanya transaksi crossing jumbo di saham PT FAP Agri Tbk (FAMA) milik konglomerat sawit Fangiono. Pada Kamis (26/3), terdapat transaksi jumbo senilai Rp 18,7 triliun.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, selama periode 25—27 Maret 2026, terjadi peningkatan pada rata-rata nilai transaksi harian BEI dengan peningkatan sebesar 15,27% menjadi Rp 23,33 triliun dari Rp 20,24 triliun pada pekan sebelumnya. Rata-rata frekuensi transaksi harian BEI juga meningkat 9,01% menjadi 1,73 juta kali transaksi dari 1,59 juta kali transaksi pada penutupan pekan sebelumnya.
Namun, gerak berbeda ditunjukkan IHSG yang mengalami penurunan sebesar 0,14% pada pekan lalu. Kemudian kapitalisasi pasar juga merosot 0,24% menjadi Rp 12.516 triliun dari Rp 12.547 triliun pada pekan sebelumnya.
Adapun saham-saham yang ramai dijual asing antara lain BBCA sebesar Rp 2,06 triliun, BBRI sebesar 1,05 triliun, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBNI) sebesar Rp 505 miliar.



